Snorkeling di Pulau Petong, Mengapa Tidak? (1)

Pulau Petong ini berada di sisi selatan Batam. Lebih kurang perjalanan satu setengah jam dari titik keberangkatan kami di Kepri Mall hingga sampai di jembatan enam. Tentu saja, kita akan melewati jambatan satu Barelang yang telah menjadi ikon Batam.

Rasakan Sejuk Air Gunung Daik di Resun

Air terjun Resun, begitu nama yang dilebelkan untuk air terjun yang terletak di desa Resun itu. Airnya mengalir dari pengunungan di tanah Lingga. Air terjun Resun ialah satu di antara sekian banyak aliran air terjun dari gunung Daik.

Kampung Boyan di Dabo Singkep

Para perantau ini seringkali meninggalkan jejak berupa nama kampung, yakni Kampung Boyan. Nah, itulah yang menjadi pijakan, tradisi rantau warga Bawean memiliki jejak, baik berupa nama maupun tradisi. Di Dabo Singkep, terdapat juga sebuah kampung bernama Kampung Boyan.

Menikmati Keindahan Masjid Agung Natuna

Masjid ini memang megah. Bahkan termegah yang ada di Kepri. Sebab itu, masjid ini selalu terlihat sangat cantik dari berbagai sisinya. Anda bisa mencari berbagai foto menarik masjid ini di internet. Saya sungguh kagum.

Puasa dan Pembebasan Sosial

Puasa mempunyai konteks tanggungjawab pribadi dan juga tanggungjawab sosial. Karenanya, dalam berpuasa, disamping mewujudkan kesalehan vertikal kepada Allah, juga untuk mewujudkan kesalehan herisontal kepada sesama manusia dan mahluk Allah.

Saturday, February 2, 2013

Daun Racun yang Menjadi Obat



Tulisan arab di lembaran daun itu tampak sedikit mencolok di antara barang-barang lain di museum Linggam Cahaya. Kalimat yang tertulis pada bagian pertama ialah bissmillahirrahmaanirrahiim. Menurut petugas penjaga museum, itu adalah daun dari pohon Embacang atau juga dikenal juga Bacang.

Tradisi mandi Safar menjadi bagian dari ritual tradisi melayu yang telah dipopulerkan oleh sultan Lingga Riau terakhir, Abdurrahman Muazzamsyah, saat hendak berangkat meninggalkan Daik menuju Singapura. Sultan yang kala itu hendak dimakzulkan oleh Belanda menyempatkan dulu untuk mengajak warganya melakukan mendi Safar di istana Kolam.

Sejak saat itu, tradisi mandi Safar kembali menggeliat dikalangan warga melayu di Daik. Dalam kegitan itu, air yang hendak digunakan untuk mandi penyiram pada pertama kali membasahi tubuh adalah air yang telah dimantra-mantrai oleh tokoh adat setempat. Mantra yang digunakan adalah sebuah isim yang ditulisakan pada benda lalu dicelupkan ke dalam tempayan ataupun gentong.

Menurut pemerhati budaya Lingga, Lazuardi, dulunya tidak hanya dedaunan yang digunakan. Adakalanya pelepah pohon. Zaman itu, terangnya, kerta merupakan barang mewah dan sulit untuk didapatkan. Kertas yang ada sering digunakan untuk kebutuhan administrasi kerajaan.

“Barulah setela itu daun yang digunakan. Menurut cerita-cerita, daun Embacang ini dipilih karena pohon ini memiliki racun. Siapa yang terkena tetesan getahnya akan terkena penyakit gatal-gatal dan kudis. Ada juga penyakit lain yang ditimbulkan dari daun ini. Makanya, kemudian daunnya dipilih,” paparnya.

Pemilihan daun tersebut, tambah dia, agar segala racun yang terdapat didalamnya tidak membawa petaka dan marabahaya bagi warga. Dengan dibacakan doa serta penulisan isim pada daun itu, diharapkan tidak lagi mencelakai warga. Akan tetapi, tidak ada patokan khusus dalam penggunana media daun tersebut.

Penulisan isim atau kalimat pada daun itu tidak sembarang. Hanya orang-orang tertentu yang bisa boleh menuliskannya, yakni ulama ataupun tokoh agama. Waktu penulisan juga sangat terpilih, yakni pada Jumat atau malam-malam lain yang dianggap paling bagus. Selama proses penulisan, sang penulis juga tidak diperkenankan berbica hingga penulisan selesai.

“Itu adalah aturan-aturannya. Sebab maksuda dan tujuan dari tulisan itu adalah doa atau permohonan. Tulisannya, bismillahirrahmaanirrahiim salaamun kaulam mir rabbir rahim dan seterusnya. Tentang hal ini ada diterangkan dalam kitab Tajul Mulk,” imbuhnya lagi.

Menurut Fadli, petugas museum Linggam Cahaya, dalam Kitab Tajul Mulk itu disebutkan bahwa tradisi itu untuk menolak balak anak cucu nabi Adam dari godaan Dajjal (sosok pembawa bencana dalam kepercayaan umat Islam, red). Dalam kitab tersebut juga diceritakan tentang awal mula tradisi tersebut. “Untuk pelaksanaannya, yakni pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Seperti disebutkan dalam kitab ini,” ujarnya saat membacakan keterangan dalam kitab itu kepada Tribun beberapa waktu lalu.


Masyarakat melayu meyakini kegiatan mandi Safar adalah bagian dari adat istiadat untuk tolak balak atau dijauhkan dari musibah dunia. Tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Melayu di Lingga, melainkan juga di Malaka, Serawak, dan lainnya. 

Long Leman, Terpanggil Menjaga Sejarah dan Budaya di Lingga



Besi tua itu sebelumnya teroggok di pinggir jalan. Sekilas, ia terkesan hanyalah sebagai besi tua yang tidak dipergunakan lagi dengan warna kecoklatan yang pekat. Nyaris hitam. Untungnya, ada tulisan yang menandakan bahwa benda itu ialah cagar budaya. Benda itulah yang berada di hadapan Long Leman. Besi itu telah dipindahkan oleh Disparbud Lingga beberapa waktu lalu untuk menjadi bagian koleksi museum.

Kakek Long Leman (60) sedang asyik mengetuk benda bulat itu. Ia tampak serius dengan palu di tangannya. Pelan dan perlahan, karat yang melekat disingkirkan agar tidak menjalar ke bagian lain dari besi itu. “Ini dulu dipakai untuk memadatkan jalan oleh Belanda waktu membuka jalan ke pelabuhan Beton,” ujarnya saat disambagi Tribun beberapa waktu lalu.

Benda itu, terangnya, adalah peninggalan bersejarah yang harus dirawat. Itu adalah bagian dari bukti sejarah atas kehadiran Belanda dalam upaya mengusai Lingga yang ketika itu dipimpin oleh sultan terakhir kerajaan Lingga Riau. Belanda menjadikan pelabuhan Buton sebagai lokasi untuk memantau arus keluar masuk penduduk, termasuk juga raja yang hendak dimakzulkannya.

Itu adalah satu diantara pekerjaan Long Leman. Ia termasuk satu diantara para pecinta benda-benda bersejarah, seni budaya, serta adat istiadat melayu. Bahkan, Long Leman rela menghibahkan tanahnya untuk pembangunan museum. Ia merasa bahwa benda-benda bersejarah harus dirawat dan dilestarikan agar anak cucu kelak bisa mengambil pelajaran.

“Dulu saya pelaut. Saya telah datang ke beberapa daerah. Saya melihat berbagai adat-istiadat mereka. Terus saya berpikir, daerah saya ini kaya dengan budaya. Setelah balik, saya tidak lagi mau menjadi pelaut. Saya memilih melestarikan budaya,” kisahnya sembari mengenang masa lalunya.

Sebelum upaya penyelamatan benda-benda bersejarah, Long Leman menekuni bidang budaya. Ia pun mempelajari beberapa peralatan musik. Tak heran, bila kini ia bersama dengan sanggar tari yang ia bina sering mendapatkan undangan ke berbagai daerah.

Setelah Lingga menjadi kabupaten, semangatnya terus berkobar. Apalagi, museum itu kini berada berdampingan dengan rumahnya. Sehari-hari ini, ia selalu bergulat dengan benda-benda bersejarah serta kebudayaan. “Tidak bosan. Museum ini penting. Inilah pengabdian saya. Saya tak bisa kasi apa-apa,” ujarnya.

Penggiling tanah itu, rencananya akan diletakkan di dekat museum bersama dengan beberapa koleksi lainnya. Dengan begitu, setiap warga yang datang bisa menikmati koleksi dan mengambil pelajaran.

Lazuardi, seorang teman Long Leman, mengatakan selalu berbagi informasi perihal informasi-informasi budaya dan sejarah. Bahkan, ketika berburu barang-barang untuk koleksi museum, mereka kerap bersama. Saat Long Leman masih mampu melakukan perjalanan jauh, mereka berdua tidak segan mendatangi pelosok-pelosok desa.

“Kita harus berusaha sekuat tenaga menjaga agar koleksi bersejarah tidak berpindah dari Lingga. Kami selalu mencari informasi sampai ke pelosok-pelosok desa,” ujarnya.

Semangat mencintai budaya dan sejarah dari Long Leman juga telah turun kepada seorang anaknya, Jumiran. Anaknya itu memiliki bakat di bidang musik dan saat ini telah bergabung dengan sanggar yang menjadi binaanya. “Ada satu anak yang bakatnya sama. Mudah-mudah cucu nanti juga ada yang bakat di bidang sejarah,” harapnya.

Selain menjaga dan merawat benda bersejarah, Long Leman juga adalah orang yang selalu mencuci benda-benda bertuah. Dalam tradisi adat melayu, benda bertuah seperti keris tidak bisa dicuci sembarang orang. “Itu agak lain sedikit. Orang boleh percaya atau tidak,” ucapnya. Tak heran bila ia kerap dicari beberapa orang, bahkan dari negeri seberang untuk mengambil pelajaran darinya. 

Nelayan di Bakong Penghasil Ikan Bilis


Seorang nelayan ikan bilis, A Ti, masih sibuk dengan loyang perebus ikan di hadapannya. Sesekali ia harus menghindar dari kepulan asip membuat perih mata. Dengan singap, ia mengentas rebukan ikan dalam keranjang khusus setelah beberapa menit dicelupkan.

Sore itu, cuaca tampak menudung. Para nelayan ikan bilis di desa Bakong terpaka harus merebus ikan bilis hasil tangkapan semalam agar tidak membusuk. Terik matahari adalah pengering ikan andalan warga. Dan bila hujan, maka mereka pun akan sibuk merebus ikan bilis itu.

“Kalau tidak rebus, nanti busuk. Tapi kalau sudah direbus begini, harganya jadi murah. Kualitasnya beda antara yang dikeringkan langsung ke matahari dengan yang direbut dulu,” kata Rustam, warga Bakong menjelaskan beberapa waktu lalu.

Apa yang dilakukan A Ti bersama dengan anggota keluarganya ialah berupaya agar ikan hasil tangkapan semalam itu tidak membusuk dan tetap masih bisa dijual. Itulah rezeki yang bisa kais oleh A Ti beserta ratusan warga lainnya di Bakong. “Kalau tiga kali rebus, dah tak bisa jual lagi. Di buang saja,” ujarnya.

Hujan dan musim angin utara adalah aral yang sangat menyulitkan bagi para nelayan. Jika memasuki musim utaran, warga tidak melaut lagi selama hampir empat bulan. Sedangkan 80 persen masyarakat di sana menggantungkan pada tangkapan ikan bilis. Setiap satu kilo ikan bilis kering dihargai oleh pengepul Rp 40 ribuan untuk kualitas dengan pengeringan matahari langsung, sedangkan yang terlebih direbus harga sudah jatuh dan bahkan tidak sampai Rp 30 ribu.

Ikan-ikan itu ditampung oleh seorang dari Tembilahan Riau. Nelayan lebih memilih pengusaha dari luar daerah itu karena penampung dari Tanjungpinang justru menawar dengan harga lebih murah. Para nelayan berharap ada investor yang memiliki penampungan di Bakong sehingga warga pun mudah untuk menjual hasil tangkapannya.

Putera kelahiran Bakong, Irjen Pol (purn) Andi Masmiyat, yang datang melayat ke makan orang tua beberapa waktu lalu mengakui mata pencarian masyarakat adalah nelayan. Hal itu sudah berlangsung sejak dulu, sejak ia masih kecil dan sering berlari diantara jemuran ikan bilik milik warga. “Kalau ada teknologi pengeringan yang sederhana saja, mungkin tidak akan sampai busuk,” ujarnya.

Saat pertemuan, warga mengaku butuh pelatihan untuk meningkatkan nilai jual dari ikan bilis mereka. Dan kini, mereka sedang berembuk untuk membentuk kelompok nelayan agar bisa segera mendapatkan pelatihan ataupun membentuk swada untuk keperluan diantara mereka juga. 

Berebut Berkah dari Ritual Xia Khang di Lingga



Senja mulai menghilang kala orang-orang di kelenteng itu sedang sibuk mempersiap perabotan. Malam itu, adalah malam rangkaian dari upacara sembahyang kesalamatan bumi di kelenteng Berigin, Penuba, Lingga. Segala kebutuhan untuk konsumsi pun sedang dipersiapkan bagi para tetamu yang akan datang.

Sembang keselamatan bumi, atau yang dikenal juga dengan Xia Kang itu, adalah ritual syukuran sekaligus perhononan berkah yang dalam tradisi masyarakat Thionghoa. Ritual ini telah berjalan lama hingga menjadi tradisi sampai saat ini, khususnya masyarakat untuk kelenteng atau pun vihara yang berada di pinggiran sungai.

Ketua pengurus kelenteng, Susanto, mengatakan, tradisi itu sudah berlangsung lama dan dilakukan setiap setahun sekali. Kegiatan itu sebagai bentuk syukur atas sezeki yang telah mereka terima dan sebagai bentuk permohonan untuk tahun depan. Kelenteng Beringin menjadi kelenteng tertua di Penuba dan kini sudah berusia 112 tahun.

“Ini semacam upacara syukuran atas sungai yang telah memberikan rezeki. Tradisi ini sudah turun temurun,” kata Ayun, sesepuh warga Thionghoa di Singkep kepada Tribun, Jumat (14/12) lalu. Tradisi ini juga berlangsung pada kelenteng di Daik dan juga Pancur.

Sebagai ritual sacral, warga Thionghoa dari Penuba yang telah merantau pun turut hadir. Mereka berdatangan dari Batam, Bintan, Tanjungpinang, Jakarta, Singapura, dan juga derah lainnya. Mereka rela meninggalkan kesibukan keseharian demi mengharap berkat dari upacara tersebut. Mereka bersembahyang, lalu duduk bersama untuk menikmati jamuan serta hiburan dan juga lelang barang.

Pelelangan dari barang-barang yang telah disembahyangkan menjadi rebutan. Patung-patung dengan berbagai bentuk dilelang untuk derma bagi kelenteng. Sebagaimana layaknya lelang, tawar menawar harga pun membuat suasana semakin ramai. Mereka tidak hanya merebutkan barang, melainkan makna dari barang-barang itu.

“Ada makna-makna tertentu. Kayak naga tadi. Itu ada artinya,” kata Ayun yang enggan menjelaskan lebih jauh makna-makna dari setiap barang. Pada malam itu, patung naga dan kuda menjadi incaran para peserta lelang. Penawaran sempat sengit hingga akhirnya mengerucut pada dua orang. Harganya pun melejit jauh, bahkan ada barang yang dilepas dengan harga Rp 33 juta.

Harga memang tidaklah menjadi persoalan, tetapi kepuasan dari memiliki barang yang telah disembahyangkan adalah sesuatu yang berbeda. Itulah, kata Ayun, yang membuat banyak orang berebut untuk memiliki barang-barang yang dilelang. (arm)