Snorkeling di Pulau Petong, Mengapa Tidak? (1)

Pulau Petong ini berada di sisi selatan Batam. Lebih kurang perjalanan satu setengah jam dari titik keberangkatan kami di Kepri Mall hingga sampai di jembatan enam. Tentu saja, kita akan melewati jambatan satu Barelang yang telah menjadi ikon Batam.

Rasakan Sejuk Air Gunung Daik di Resun

Air terjun Resun, begitu nama yang dilebelkan untuk air terjun yang terletak di desa Resun itu. Airnya mengalir dari pengunungan di tanah Lingga. Air terjun Resun ialah satu di antara sekian banyak aliran air terjun dari gunung Daik.

Kampung Boyan di Dabo Singkep

Para perantau ini seringkali meninggalkan jejak berupa nama kampung, yakni Kampung Boyan. Nah, itulah yang menjadi pijakan, tradisi rantau warga Bawean memiliki jejak, baik berupa nama maupun tradisi. Di Dabo Singkep, terdapat juga sebuah kampung bernama Kampung Boyan.

Menikmati Keindahan Masjid Agung Natuna

Masjid ini memang megah. Bahkan termegah yang ada di Kepri. Sebab itu, masjid ini selalu terlihat sangat cantik dari berbagai sisinya. Anda bisa mencari berbagai foto menarik masjid ini di internet. Saya sungguh kagum.

Puasa dan Pembebasan Sosial

Puasa mempunyai konteks tanggungjawab pribadi dan juga tanggungjawab sosial. Karenanya, dalam berpuasa, disamping mewujudkan kesalehan vertikal kepada Allah, juga untuk mewujudkan kesalehan herisontal kepada sesama manusia dan mahluk Allah.

Rabu, 09 November 2016

Geliat Perekonomian di Pasar Tos3000 Jodoh

Pedagang ayam daging di pasar Tos3000 Jodoh. Pasar ini menjadi pasar induk bagi masyarakat Batam saat ini.
Telah beberapa tahun Pasar Tos3000 di Jodoh menjelma menjadi pasar pagi yang penuh sesak dengan pengunjung. Inilah pasar tersibuk di Batam dan menjadi "pasar induk" mendadak, menggantikan pamor pasar Tanjungpantun Jodoh yang sudah dikenal masyarakat Batam sejak 1980-an dan setelah kegagalan pasar induk yang dibangun pemerintah. 
Geliatnya pasar ini sudah dimulai sejak dini hari, ketika pada pedagang sayur mayur mulai berdatangan membawa sayuran segar dari berbagai daerah di Batam. Sebagian besar sayuran itu di datangkan dari Tembesi, Rempang ataupun Galang. Sedangkan umbi-umbian seperti kentang lebih banyak didatangkan dari Medan ataupun Jambi. Memang, kebutuhan makanan di Batam masih membutuhkan pasokan dari luar daerah.
Kemarin (23/10) pagi, para penjual sudah menggalar dagangan di rentang jalan antara Tos3000 hingga Top100 Jodoh. Dua ruas jalan itu dimanfaatkan oleh pedagang sayuran dan rempah untuk menggelar dagangan. Tak pelak, jalan itu pun tidak bisa dilalui oleh pengendara roda empat. Sedangkan untuk roda hanya bisa sebatas melewati sisi selatan jalur itu tatapi harus mendesakan dan bebagi dengan pedagang juga.
Kios dan lapak di dalam pasar Tos3000 menjadi pasar basah. Sedangkan di sisi kanaan, kiri, dan depannya menjadi tempat para penjual sayuran, rempah, dan buah-buahan. Ada juga yang menjajakan jajanan pasar di sela-sela pedagang sayuran. Di pasar ini, tidak sedikit orang yang menaruh harapan mengais rezeki. 
"Awas ada copet. Ibu-ibu hati-hati barangnya. Sekarang ini ibu-ibu pun sudah ada yang jadi copet," bunyi pengeras suara yang dibawa seorang pria itu menambah riuh suasana pasar. Di tengah desak-desakan antara pembeli, di saat itu pula pencopet beraksi. 
Selain suara mikrofon itu mengitari beberapa wilayah sepanjang jalan.  Peringatan itu memang wajar karena beberapa hari sebelumnya dua orang perempuan ditangkap sebab ketahuan mencuri dompet pengunjung pasar. Dan keduanya pun harus berurusan dengan polisi Lubuk Baja.
"Jagungnya delapan ribu, delapan ribu," teriak seorang penjual memanggil pembeli. Teriakan itu sudah khas di sebuah pasar. Teriakan demikian itu baru berhenti ketika penjualnya sedang melayani pembeli. 
Tentang saja, tidak semua pedagang di Tos3000 ini berteriak-teriak karena sebagian besar barang dagangan juga ada yang diberi papan harga. Pengunjung yang tertarik bisa membli langsung atau tawar menawar. Tawar menawar adalah kekhasan pasar tradisional berbeda dengan hipermarket modern yang semua telah terpasang harga.
"Kadang-kadang saja. Sekali seminggu kalau sempat. Mumpung sekarang hari minggu," kata seorang ibu saat berbincang dengan Tribun. Ia sengaja memilih menepi di dekat pasar karena tak kuat untuk memasuki pasar basah Tos3000. "Kalau ke dalam saya tak kuat. Biar mamak saja," lanjutnya.
Seorang pria yang menggendong anak juga tengah menunggu istrinya yang berbelanja ikan segar. Ia tidak tiga harus membawa anaknya berdesakan di tengah pegapnya ruangan pasar basah dengan berbagai aroma menyeruak ke hidung. Pria yang mengaku bernama Irwan ini dua pekan sekali atau ketika ada acara besar di rumah.
"Kalau di sini kan lebih murah. Selisihnya lumayan juga. Di sini sawi satu ikat dua ribu. Kalau beli tiga lima ribu. Ikatannya pun agak besar," ujarnya. Sedangkan di warung-warung dekat rumahnya Baloi, walau dengan harga yang sama, tetapi ikatannya lebih kecil. Ia bisa memaklumi karena pemilik warung juga mungkin kulakan di pasar Tos3000 ini. 
Kebutuhan masyarakat yang tersedia di pasar Tos3000 ini cukup lengkap. Walaupun hanya bulanan, tidak sedikit warga yang mencoba untuk berbelanja ke pasar pagi ini sacara langsung. Kebanyakan mereka yang berleanja datang dari Batuampar, Jodoh, Nagoya, Baloi, Pelita, dan juga Bengkong. 
Hingga pukul 06.30 pagi, masih ada sejumlah pedagang yang hendak membuka lapak. kebanyakan ialah pedagang umbi-umbian, seperti ubi, kentang, talas, dan gubis. Sedangkan pembeli datang silih berganti. Puncak geliatnya pada sekitar pukul 07.00. Tetapi sayang kemarin mendung mengelayut di atas lagit Jodoh. 
"Hujan, hujan, hujan," teriak para pedagang sembari menyiapkan payung besar. Beberapa pengunjung yang lain pun melakukan hal yang sama. Mereka harus menyelamatkan dagangan agar tidak terkontaminasi oleh air hujan yang memiliki zat kimia yang tajam, apalagi untuk sayur dedaunan. Biasanya, payung besar atau pun terpal itu baru digunakan ketika sengatan mentari  mulai menghangatkan tubuh. Tetapi pagi kemarin, daun payung dibuka lebih awal sebab gerimis mengundang.
"Mudah-mudahan saja tidak hujan. Kalau hujan pagi, kami repot mas," terang perempuan yang minta di sapa Bu Dhe saja. Sebagai pedagang, tentu yang diharapkan ialah pembeli. Apabila hujan di pagi hari, pembeli akan sepi sedang barang dagangan akan layu dan tidak layak jual lagi.
Ia agak cemas sembari berharap hujan tidak turun. Tetapi jika hanya gerimis, maka bisa jadi itu justru petanda baik di hari Minggu ini. Sebab, ujarnya dia, hari terpanjang untuk berjualan dalam sepekan ialah Minggu. Jika pada hari-hari biasanya hanya sampai pukul 09.00 atau maksimal pukul 10.00, tetapi pada hari Minggu ia bisa membuka lapak sampai pukul 11.00. Semua itu tergantung dari jumlah pembeli. Ini sudah menjadi hukum ekonomi, semakin banyak yang membeli maka pedagang pun akan semakin lama penggelar lapaknya. 
Tetapi, mereka sudah harus mulai mengemas barang dagangan secepatnya agar tidak mengganggu pemilik ruko dan para pengunjung ke toko-toko di Samarinda, Avava, dan Ramayana. Beruntung, kemarin itu hanya gerimis beberapa menit saja dan pengunjung pun masih cukup banyak hingga pedagang berjualan sampai siang. 
Ketika azan Dhuhur berkumandang, pedagang sudah bersih. Yang tersisa hanyalah pedagang yang membuka lapak di samping kanan Samarinda saja. Sedangkan di pasar Basah pun sudah mulai dikemasi. Sampah-sampah mulai di kumpulkan pada satu titik agar mudah diangkut para petugas. Geliat kehidupan pasar ini telah menyertai kehidupan masyarakat Batam. (abd. rahman mawazi)

Kamis, 27 Oktober 2016

Menggali (lagi) Semangat Kaum Muda

Dipenghujung Oktober 1928 silam, sejumlah pemuda dari Jong Java, Jong Sumatera Bond, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Islameiten Bond, dan lain sebagainya berkumpul memikirkan keberadaan dan nasib bangsanya. Pertemuan yang digagas oleh Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia itu merupakan pertemuan kedua kalinya. Setelah mereka mengadakan pembahasan, mereka sampai pada satu kesimpulan, bahwa jika bangsa Indonesia ingin merdeka, bangsa Indonesia harus bersatu. Untuk itu mereka bersumpah yang terkenal dengan nama Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada akhir kongres, yaitu pada tanggal 28 Oktober 1928. sumpah itu berbunyi:
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. 
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertanah air yang satu, tanah air Indonesia. 
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Ilustrasi semangat kaum muda. Sumber athanjp.blogspot.co.id

Tanggal tersebut cukup bertuah dan bersejarah bagi bangsa Indonesia, hingga kemudian ditetapkan sebagai Hari Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda menjadi motivasi untuk merdeka dari belenggu penjajahan Belanda. Sumpah Pemuda adalah virus bagi persatuan dan vitamin bagi spirit patriotisme yang mampu menggugah rakyat di setiap penjuru negeri. Karena itu, Sumpah Pemuda menjadi salah satu di antara berbagai landasan pilosofi bagi kebangkitan nasional kita, dan merupakan nilai yang sangat fundamental bagi persatuaan bangsa dan negara kita. Seperti halnya Hari Pahlawan 10 November, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.  Dari sanalah nasionalisme Indonesia mencapai puncaknya, yakni hanya mengenal satu kata INDONESIA.
Di saat rapat akbar itu pula diperdengarkan lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman untuk pertama kalinya. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Sumpah Pemuda dan lagu Indonesia Raya semakin membakar semangat api persatuan dan perjuangan. Sejak itu pulalah muncul tokoh-tokoh pemuda antara lain, Mr. Moh. Yamin, Drs. Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Ir Soekarno, Ali Sostroamidjojo, Mr. Sjarifuddin, Nasir Datuk Pamuntjak, Moh. Natsir, Mr. Moh. Room dll.
Sudah sekian tahun peristiwa bersejarah itu berlalu. Buah dari ikrar tersebut menghantarkan Indonesia pada kemerdekaannya. Sumpah Pemuda telah menjadi pilar pemersatu bangsa. Karena itu, kita wajib mengejewantahkan cita-cita para pencetus sumpah itu. Namun, realitas perjalanan bangsa yang melanda negeri kita dalam beberapa tahun terakhir ini rasanya berjalan terbalik. Jika dulu orang rela dan berani berkorban demi bangsa dan tanah air, kini justru makin banyak yang justru mengorbankan bangsa dan tanah air.
Pada titik ini, semangat patriotik bergeser menjadi depatriotik. Makna sumpah itu bagai terganjal batu besar sehingga sumpah tersebut seakan terhenti mengarusi jiwa dan semangat bangsa ini. Akibatnya, Indonesia sebagai sebuah bangsa dan tanah air kini bukannya makin berjaya, tetapi justru terkoyak. Gejala depatriotik dan denasionalis ini memang seharusnya lebih dini diantisipasi agar bangsa dan tanah air kita tak makin terkontaminasi dan terpuruk.
Lihatlah praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang telah membawa bangsa pada keterperosokan ekonomi, politik, dan sosial. Korupsi seolah menjadi konsensus terselubung yang terjadi pada pemerintahan di hampir semua lebel, dari yang terendah hingga tertinggi. Para koruptor, yang kebanyakan adalah pejabat negara, lupa bahwa negara ini dibangun oleh kerja keras dan pengorbanan para pejuang. Mereka juga lupa bahwa setelah mereka akan ada anak cucu yang akan menjadi generasi penerus mereka.
Pemuda dan Cita-cita Bangsa
Sejarah telah menunjukkan kepada kita bahwa pemuda memainkan perenan penting dalam pembangunan bangsa. Pelopor kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda adalah pemuda, yang mendorong Soekarno agar segera memroklamsikan kemerdekaan Indonesia juga pemuda, bahkan yang mendalagi gerakan reformasi juga pemuda. Betapa strategis peranan pemuda dalam pembangunan bangsa ini. Tak heran bila pemuda selalu disebut sebagai agent.
Bila demikian, pemuda adalah generasi yang menentukan ke arah mana bangsa ini akan dibawa. Sehingga, sangat tepat dikatakan bahwasanya dunia pemuda selalu dipenuhi dengan mitos-mitos panjang yang pada akhirnya akan menjebak pemikiran idealis pemuda pada fase-fase stagnan dan bahkan tak jarang terjerumus dalam pemikiran-pemikiran pragmatisme oportunis. Hanya pemuda yang berjiwa papilon yang mampu bebas dari pragmatisme maupun materialisme.
Untuk itu, pemuda membutuhkan integritas, intelegensia, dan moralisme yang mumpuni agar cita-cita bangsa tercapai. Dalam pengamatan penulis, pemuda Indonesia saat ini rentan terhadap pengaruh buruk globalisasi, cendrung bersikap pragmatis dan oportunis, serta terlena dengan romantisme masa lalu, sehingga dikhawatirkan akan mengancam semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Padahal, pemuda juga merupakan pewaris bangsa. Dan, mau tidak mau, pemuda harus mendefinisikan dirinya sebagai generasi pelanjut dan pengemban cita-cita bangsa.
Saat ini, generasi muda Indonesia, yang juga terdiri dari pelajar dan mahasiswa, berjumlah sekitar 78 juta jiwa dari seluruh jumlah penduduk Indonesia–lebih dari 210 juta jiwa. Jumlah tersebut terhitung tidak sedikit, terlebih jika dipandang sebagai usia produktif yang potensial berpengaruh secara positif dan juga bisa secara negatif dalam lingkup pergaulan masyarakat Indonesia untuk saat ini dan ke depan.
Secara kuantitatif maupun kualitatif, pemuda menjadi strategis dan urgen untuk dipersoalkan dalam kaitannya dengan sejumlah persoalan bangsa yang saat ini semakin kompleks mendera masyarakat Indonesia. Secara kualitatif, sesosok pemuda memiliki posisi strategis, karena merupakan kumpulan potensi yang sedang dalam proses mencari dan mengukir identitas diri.
Biasanya, sosok pemuda senantiasa dilekatkan dengan ciri karakter yang kritis, progresif, radikal, idealis, dan anti kemapanan untuk perubahan masa depan yang lebih baik. Hanya saja, tidak selamanya ciri ideal seperti tersebut akan senantiasa melekat pada sosok pemuda, kapan dan dimana saja mereka berada. Tidak jarang, pada situasi dan kurun waktu tertentu, kita melihat kehadiran pemuda hanya sebagai pelengkap obyek penderita dan tidak sanggup menjadi subyek pelaku utama dari sebuah situasi yang mengharapkannya.
Harus diakui, medan perjuangan yang serba kompleks dalam mengisi kemerdekaan ini, menjadikan peran pemuda perlu lebih diorientasikan secara egaliter untuk memperkuat nilai keadilan dari setiap kebijakan dan program pembangunan negara. Loyalitas dan dedikasi posisi pemuda harus tetap berdiri tegak di atas nilai kebenaran dan keadilan. Karena apa pun alasannya, fenomena kepemudaan kini—untuk menyebut pemuda yang telah memiliki sedikit pendirian—relatif “termaterialisasi” di berbagai arena penyelenggaraan negara sehingga dangkal dan mandul tak berdaya dalam arus politik pragmatis. Kekhawatiran ini menyeruak karena harapan puncak kita adalah bagaimana perjuangan pemuda dapat menggilas penyelenggaraan negara yang serba korup, misalnya, dari sekian banyak masalah kebangsaan lainya.
Nah, semoga momentum Hari Sumpah Pemuda tahun ini dapat dijadikan salah satu nafas dalam rangka merapatkan dan mengkonsolidasikan kembali barisan pemuda untuk berjuang mewujudkan cita-cita dari funding futher bangsa, tentunya dengan mengisi hari-hari muda dengan hal-hal positif dan progresif. Ini sesuai dengan tema pemerintah pada peringatan Sumpah Pemuda tahun ini, "Meningkatkan Solidaritas, Integritas, dan Profesionalitas Pemuda menuju Bangsa yang Sejahtera dan Bermartabat". Semoga!

Selasa, 14 Juli 2015

Prinsip Kemashlahatan Zakat

Ilustrasi zakat sebagai pengentas kemiskinan. Sumber www.zimosy.com 

Perintah menunaikan zakat disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 32 kali, bahkan diulang 82 kali sebutannya dengan memakai kata-kata yang sinonim dengannya, yakni sadekah dan infak. Pengulangan tersebut mengandung maksud bahwa zakat mempunyai kedudukan, fungsi dan peranan yang sangat penting. Zakat memiliki kekhususan karena pelaksanaannya merupakan implementasi rukun Islam. Salah satu penyebab diperintahkanya zakat, selain sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, adalah dikarenakan sering terjadinya kesenjangan sosial pada masyarakat Arab kala itu. Zakat merupakan rukun Islam yang kental dengan dimensi sosial.
Dalam pemerintahan Islam, zakat merupakan salah satu pemasukan resmi bagi kas negara, selain fa'ikharaj, dan jizyah. Pemerintah berkewajiban memungut, mengelola, dan mendistribuskannya (QS 9:103) karena ia telah diamanahkan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (QS 4:59) yang selalu bermuara pada prinsip keadilan, kemerdekaan dan kesetaraan di hadapan hukum yang menunjang terjadinya harmonisasi kehidupan bermasyarakat.

Keadilan sosial dalam Islam, misalnya, tidak mengharuskan agar setiap orang mempunyai tingkat kemampuan ekonomi yang sama dan terhapusnya kemiskinan dalam masyarakat, tetapi menciptakan suatu kondisi masyarakat yang harmonis dan dinamis, rendahnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, dan hilangnya faktor-faktro penyebab rendahnya produktivitas, pertumbuhan dan pengembangan potensi sumber daya manusia dan alam.

Karena Zakat = Pajak
Dalam konteks saat ini, khususnya di Indonesia, sumber pendanaan negara hanya meliputi zakat, kharaj, dan jizyah. Sumber-sumber tersebut dalam istilah sekarang disebut pajak. Masdar F. Mas’udi menyebutkan, dalam istilah teknis syari’at, pajak atas warga negara yang muslim disebut “zakat”, atas warga negara nonmuslim disebut “jizyah”. Jadi, pendapatan negara bersumber pada dua kelas. Pertama pendapatan religius, yakni pajak yang dibebankan kepada kaum muslim, berupa zakat dan pajak tanah (usr), dan lainnya. Kedua, pendapatan sekuler, yakni pajak yang dikumpulkan dari orang nonmuslim. Masuk dalam kategori ini ialah jizyah, pajak untuk mendapatkan hak milik kharaj, pajak atas hasil tanah, dan pajak terhadap para pedagang nonmuslim.
Maka, uang negara (bait al-mal) merupakan pajak yang dipungut dari rakyatnya dan investasi lainnya yang tidak dimiliki secara indiviudal. Fungsi kas negara tersebut (1) ditujukan untuk pembayaran kebutuhan negara, seperti untuk membayar gaji pegawai dan tentara, membeli peralatan persenjataan, dan sebagainya. Dan (2) ditujukan untuk kepentingan umum dan fasilitas umum, seperti bantuan bagi kaum duafa', pembuatan jalan raya, jembatan dan lain sebagainya.
Uang negara, dengan demikian, pada hakekatnya ialah uang Allah yang diamanahkan pada negara untuk didistribusikan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan umat tanpa diskriminasi apapun. Satu rupiah dari uang pajak—juga setiap titik-titik kekuasaan yang dibiayai degan uang negara—harus dipertanggungjawabkan kepada Allah (di akhirat) dan kepada rakyatnya (di dunia). Maka, segala praktik yang merugikan keuangan negara, seperti korupsi, merupakan perbuatan yang melanggar syari'at dan setiap kuam muslim khususnya dan masyarakat umumnya berkewajiban memerangi korupsi dan menganggap sebagai musuh bagi kemanusiaan. Sedangbaitul mal atau lembaga serupa lainya ialah untuk mengoptimalkan pengelolaan zakat.
Di negara kita, telah ada undang-undang yang mengatur tentang pengelolaan zakat, yakni UU no. 38 Tahun 1999. Undang-undang tersebut menjadi landasan yuridis bagi pengelolaan zakat yang secara nasional potensi per-tahunya mencapai Rp20 triliun. Namun sayangnya, keberadaan UU tersebut masih seperti tiada saja (wujuduhu ka adamihi). Badan Amil Zakat sebagai lembaga resmi pemerintah dan lembaga zakat profesional lainya baru mampu menghimpun Rp 900 miliar saja.
Padahal, keuntungan penanganan zakat oleh pemerintah atau lembaga independen lainnya anatara ialah (1) wajib zakat dan pajak akan lebih disiplin dalam memenuhi kewajiban, dan kaum fakir miskin lebih terjamin haknya, (2) perasaan fakir miskin lebih dapat dijaga sebagai pemilik hak, tidak seperti meminta-minta, (3) pembari zakat atau pajak akan lebih tertib, (4) zakat atau pajak yang diperuntukkan bagi kepentingan umum akan lebih karena pemerintah lebih mengetahui sasaran pemanfaatannya. (M. Daud Ali:1988)

Sasaran Distribusi
Memang, semetinya distribusi keuangan negara yang diperolah dari pajak (zakat) diarahkan untuk kesejahteraan yang terepresentasikan dalam delapan golongan sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Taubah (9):60, “Innama al-shadaqaat li al-fuqara' wa al-masaakin wa al-'amiliin alaiha wa al-mu'allafah qulubihim wa fi al-riqab wa al-ghamiriin, wa fi sabil Allah wa ibn sabiil faridhah min Allah”. Kedelapan gologan tersebut memang orang yang berhak menerima zakat, namun kedelapan golongan tersebut telah merepresentasikan kaum yang perlu mendapatkan perhatian dan bantuan dari pemerintah, baik dari zakat maupun pajak lainnya. Selain zakat, sebagain besar ulama mengharuskan pemerintah mengelola pajak.
Dalam konteks kemasyarakatan dan kenegaraan modern saat ini, menurut Masdar F. Mas'udi, yang termasuk fuqara' atau kaum fakir ialah rakyat papa dengan pengasilan jauh dari kebutuhan. Kemudian yang termasuk masakin atau kaum miskin adalah orang-orang yang pengasilannya sedikit lebih baik daripada kaum fakir tapi masih di bawah ketentuan wajar. Sedangkan amilin berarti kebutuhan rutin (gaji oprasional) depertemen keuangan dan parat depertemen teknis sebagai pemasok barang-barang publik (publik goods). Dan mu’allaf qulubuhum, dalam kontek negara-kebangsaan, diarahkan pada program rehabilitasi sosial terhadap para narapidana, pengguna obat terlarang (narkoba), atau masyarakat terasing yang masih hidup di hutan-hutan.
Adapun yang masuk dalam pengertian riqab (budak) ialah kaum buruh yang teraniaya, atau masyarkat terasing yang tengah berjuang memerdekakan dirinya. Sementara gamirin atau orang yang terbelit hutang antaranya meliputi pembebasan utang para petani yang terkena puso dan atau pedagang yang bangkrut karena faktor-faktor yang benar-benar berada diluar kemampuan mereka. Fi sabilillah diartikan sebagai kemaslahatan umum yang bersifat fisik seperti jalan, bangunan-bangunan publik, dan semua sara umum yang diperuntukkan bagi kepentingan orang banyak, maupun yang bersifat nonfisik seperti biaya pertahanan-keamanan negara/rakyat, ketertiban masyarkat, penegakan hukum, pengembangan ilmu pengetahuan-seni-kebubudayaan, dan semua sektor yang kemashlahatannya kembali pada kepentingan umat manusia. Sedangkan ibn sabil dalam kontek sekarang berarti para pengungsi, baik karena bencana alam maupu bencana politik.
Dengan demikian, pengelolaan zakat tidak hanya bersifat jangka pendek sebagaimana yang telah menjadi kebiasaan selama ini—menyalurkannya pada malam Idul Fitri. Oleh sebab itu, adanya Lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Lembaga Amil Zakat, Rumah Zakat Indonesia, dan lainnya cukup membantu dalam pelelolaan yang bersifat jangka panjang, misalnya bantuan bea siswa. Penulis berharap, pontensi zakat yang mencapai Rp 20 triliun pertahun tersebut dapat dimaksimalkan dan pengelolaan serta penyalurannya lebih tepat guna, yakni mampu menghilangkan faktor-faktor penyebab rendahnya produktivitas ekonomi dan keterbelakangan pendidikan. Semoga saja potensi zakat yang berhasil dihimpun tidak bernasib sama dengan kas negara lainnya—untuk mengatakan selalu banyak yang dikorupsi dan tidak tepat guna. wa Allah a'lam.



Tulisan ini pernah terbit di harian Batam Pos Edisi 30 September 2008. 

Sabtu, 22 November 2014

Profesional Tersandung Prosedural

sumber: Kompas.com

Sepekan sudah Kabinet Kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla dilantik. Dari nama serta simbol yang ditunjukan pada saat pengumuman kabinet itu—berbaju putih dengan lengan disingsingkan—setidaknya sudah mencerminkan semangat kerja. Apalagi komposisi menterinya diklaim berimbang antara kalangan politisi [profesional] dan profesional [murni]. Namun, akankah kabinet ini bisa bekerja hebat?
Dari sekian banyak menteri dari kalangan professional itu, misalnya, Rahmat Gobel dan Susi Pudjiastuni. Kehadiran Susi termasuk fenomenal. Ia dianggap hadir dari kalangan profesional yang memiliki pengalaman di bidang perikanan dan kelautan. Bahkan, beberapa kali Susi menyatakan akan menjadikan sektor kelautan memiliki nilai bisnis yang mampu memberikan keuntungan (devisa) sehingga bertahan berkesinambungan bagi penyejahteraan rakyat.
Karakter kepemimpinan kalangan profesional itu biasanya ditunjukan dengan sikap cepat dan tepat dalam pengambilan keputusan karena semangatnya adalah semangat kerja. Hal ini sangat lumrah dipraktikan para manager di perusahaan, sebab bila menunda-nunda keputusan justru akan semakin menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi. Tegas selalu diperlihatkan dalam setiap kebijakannya.
Semangat kerja seperti itu akan sulit dilakukan pada sistem tata negara. Sebelum melakukan tindakan, harus ada prosedur terlebih dahulu yang dilalui, khususnya pendanaan. Dalam pemerintahan, program kerja tidak akan pernah dilaksanakan jika tidak termasuk dalam anggaran dan atau bila anggaran itu belum tersedia.
Setiap tahunnya, diakui atau tidak, anggaran belanja negara/daerah selalu telat turun rata-rata tiga bulan sejak tahun anggaran berjalan. Pemerintah daerah sudah cukup merasakan kondisi itu, yang ditandai dengan seringnya penundaan pembayaran gaji para pegawai honorer dan bahkan juga gaji anggota DPRD. Kondisi demikian, tentu menjadi batu sandungan yang tidak mudah bagi para menteri di Kabinet Kerja. Dalam sistem anggaran negara, hampir bisa dikatakan program selalu tidak bisa dilakukan tepat waktu karena, lagi-lagi, alasan dana.
Hal ini akan diperparah lagi bila sumber daya manusia di lembaga yang dipimpin belum seirama. Tidaklah mudah mengubah pola pikir dan etos kerja birokrat yang kerap kali kurang inisiasi, apalagi bila berbenturan dengan anggaran. Mau tidak mau, pemerintahan saat ini pun harus mensosialisasikan visi dan misi pada pejabat birokrasi dari level tertinggi hingga terandah demi membangun etos kerja yang seirama.
KIH v KMP
Fenomena kekinian dari konstalasi politik di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menimbulkan dua kubu sebagai imbas secara langsung dari dukungan saat pemilihan presiden dan wakil presiden lalu. Yang lebih ekstrim lagi ialah Koalisi Indonesia Hebat (KIH) membentuk struktur baru DPR dengan alasan tidak percaya dengan pemimpian DPR yang dikuasai Koalisi Merah Putih (KMP).
Realitas politik di Senayan itu tentu akan berimbas pada kinerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Pemerintah (eksekutif) akan kebingungan dalam koordinasi dengan legislatif yang terpecah belah. Yang jelas, sikap apapun yang menunjukan keberpihakan pada salah satu dari dua DPR itu akan menimbulkan konsekuensi tersendiri. Padahal, DPR memiliki peran budgeting yang juga penting untuk merealisasikan program pemerintahannya dan peran legislasi yang akan menentukan nasib perjalanan negara; bukan nasib untuk sekelompok belaka.
Sistem demokrasi memang memungkinkan kekuasaan tidak hanya diisi oleh seorang atau sekelompok saja. Kekuasaan bisa terbagi pada orang atau kelompok lain untuk saling menjaga nilai etika politik demi mewujudkan cita-cita bernegara. Kenyataan saat ini, ketika KIH berkeinginan agar alat kekuasaan negara, dalam hal ini eksekutif dan legislatif, hanya milik KIH, maka hal itu tidak sejalan dengan semangat demokrasi itu sendiri. Yang diperlukan adalah komunikasi politik dari para elit partai untuk mencari solusi terbaik dari persoalan tersebut.
Apabila konflik Senayang tidak kunjung usai, maka akan semakin menyulitkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam menjalan visi dan misinya. Bahkan, ketika tidak ada konflik pun, masih tetap sulit juga karena kuasa DPR dipimpin oleh kelompok lain (baca; KMP). Seprofesional apapun kabinet yang dibangun, masih akan tersandung oleh prosedur itu sebagai konsekuensi dari sistem tata negara yang berlaku di negara kita. Semangat kerja dari Kabinet Kerja pun akan sulit terealisasi dalam tahun pertama pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.


NB: Tulisan ini dibuat sepekan usai pelantikan kabinet.

Minggu, 06 Oktober 2013

Rasakan Sejuk Air Gunung Daik Di Resun


Gemercik air terdengar begitu jelas usai memarkirkan sepeda motor di dekat musola. Air itu jatuh begitu deras mengalir tanpa kenal musim. Air terjun Resun, begitu nama yang dilebelkan untuk air terjun yang terletak di desa Resun itu. Airnya mengalir dari pengunungan di tanah Lingga. Air terjun Resun ialah satu di antara sekian banyak aliran air terjun dari gunung Daik.

Semakin dekat melangkah, semakin keras pula desiran airnya terdengar. Dari tempat parkir itu, sudah terlihat tingkatan demi tingkatan dari air tejun nan indah menawan ini. Tidak cukup rasanya jika hanya melihat keindahan air yang mengalir di antara bebatuan besar itu tanpa merasakan dingin air pegunungan Daik.

Setiap kali wisatawan yang datang ke Daik, hampir semua menyempatkan datang ke air terjun ini. Lokasinya yang mudah dijangkau memungkin siapa saja bisa datang. Apalagi, pemerintah telah membangun jalan beraspal menuju lokasi itu.  Wajar, bila setiap akhir pekan atau masa libur sekolah, air terjun Resun selalu menjadi lokasi rekreasi dan piknik.

“Kalau musim hujan, bunyinya lebih keras lagi,” kata seorang warga Daik yang sedang berkunjung ke sana beberapa waktu lalu. Musim liburan sekolah lalu pun dimanfaatkan beberapa warga untuk membawa keluarga ke air terjun ini. Mereka tampak begitu menikmati airnya yang dingin walau sekedar mencuci muka saja.

Menurut keterangan warga Daik, Fadli, air terjun Resun ini memiliki sekitar tujuh tingkatan ke atas. Ketinggian air terjun itu pun berbeda-beda untuk setiap tingkatannya. Dan yang paling mudah dijangkau ialah yang terbawah. Di bagian ini, warga biasanya menghabiskan waktu kunjungan dengan mandi.

“Seger. Kalau saya mandi, saya selalu ke tempat air jatuh. Jatuhnya enak dibadan. Kayak diterapi. Tapi kalau pas musim hujan, airnya terlalu deras, jadi agak sakit,” tuturnya yang sudah beberapa kali mengunjungi air terjun ini.

Untuk memanjakan setiap pengunjung, pemerintah telah membangun beberapa gazebo. Di gazebo, biasanya warga menempatkan barang-barang bawaan. Lalu, mereka pun akan menikmati air terjun atau sekedar berfoto. Tidak ada bunyi-bunyian selain dari desiran air, celotehan burung, dan nyanyian serangga hutan.

Karena lokasi yang berada di kaki gunung, sebaiknya setiap pengunjung telah menyediakan bekal secukupnya, apalagi jika hendak berpetualang hingga ke puncak sumber air.

Hangat "Air Panas Dabo" Bisa Untuk Terapi


Tidak hanya di Daik, di pulau Singkep juga terdapat wisata alam daratan. Di pulau yang pernah menjadi sumber penghasil timah ini tedapat pemandian air panas, pemandian batu ampar, serta air terjun Cik Latif. Ada juga air terjun Bedegam yang jalan masuknya desa Lanjut, tetapi jarak yang telalu jauh membuat akses menuju ke lokasi itu menjadi cukup sulit.

Yang paling khas dari wisata air di Singkep ini ialah air panas. Lokasi ini kerap menjadi pilihan warga setelah wisata pantai dan air terjun yang ada di Dabo. Memang, perjalanan yang


cukup jauh sering membuat banyak untuk menunda ke sana. Meski demikian, setiap akhir pekan, lokasi yang beada di antara hutan karet di Singkep ini kerap mendapatkan kunjunga

Banyak warga yang sengaja datang ke sana hanya untuk menikmati air hangat yang berada dalam kolam pemandian itu. Mereka betah berendam berlama-lama di dalam kolam yang sudah disediakan beberapa pilihan. Ada kolam dengan kehangatan air yang tinggi, kemudian sedang, dan ada punya pula yang kehangatannya nyaris tidak ada lagi. 

Semua pilihan itu, kata penjaganya, Edi Melong, sengaja di desain untuk memberikan kenyamanan bagi setiap pengunjung. Apalagi bagi anak-anak yang tidak tahan dengan rasa panas yang keluar dalam air. Menurut Edi, tidak sedikit yang datang pemandaian air panas ini untuk menghilangkan penyakit.

“Ada yang sengaja datang karena untuk menghilangkan penyakit. Katanya, air hangat belerang ini bisa membunuh berbagai penyakit kulit, bisa juga untuk sakit kepala. Ya untuk terapilah,” katanya beberapa waktu lalu.

Jika mandi sauna hanya mengandalkan kehangatan yang dikeluarkan dari uap, tetapi mandi di air panas ini tidak demikian. Pengunjung malah bisa berendam. Tidak perlu khawatir dengan kualitas air, karena pengelola pemandian ini selalu membersihkan airnya, khususnya pada saat sepi pengunjung.

Tidak berapa lama lagi, lokasi menunju ke sana akan lebih nyaman karena jalannya sudah dilakukan pemadatan. Begitu juga dengan beberapa lokasi obyek wisata lainnya itu, smua obyek wisata di Singkep ini kini sedang dalam tahap pembangunan jalan oleh pemerintah untuk memudahkan pengunjung mencapai lokasi wisata. Dari tiga obyek wisata alam itu, yang terjauh ialah pemandian air panas dengan jarak sekitar delapan kilo meter dari Dabo.

Menikmati Air Segar di Lingga



Pesona alam di kabupaten Lingga terhampar luas di seluruh wilayahnya. Lingga memiliki panorama bawah laut yang indah di perairan pulau Benan. Lingga juga memiliki memiliki keindahan alam pegunungan. Tak seperti daerah lainnya di Kepri, Lingga nyaris memiliki sebagian besar pesona alam di Kepri.

Gunung Daik, yang menjadi ikon kabupaten Lingga, sudah tampak indah dengan dia cabangnya. Setiap pengunjung yang baru menapakkan kakinya di Daik, langsung terpikat dengan keindagannya. Apalagi pada saat kabut tipis melintas di kaki gunung, terlihat puncaknya yang begitu menawan.

Dari pegunungan Daik itu, terdapat beberapa aliran air. Dan, di antara aliran itu, muncul pula air terjun dengan beragam kekhasannya. Ada air terjun Resun, air terjun Jelutung, air terjung Kado, serta air terjun Tande. Bahkan, air terjun Jelutung dinobatkan oleh beberapa petualang sebagai air tejun tertinggi di Kepri.

Editor buku Jelajah LIngga Bunda Tanah Melayu, Edi Sutrisno, menyebutkan ketinggian air terjun ditingkat pertama mencapai 60 meter. Dulunya, tulis Edi, air terjun ini disebut warga dengan air terjun Ranoh. Namun, karena di sekitar lokasi muncul banyak pohon jelutung, warga pun lebih suka menyebut air terjun ini sebagai air terjun Jelutung.

Akan tetapi, medan perjalan menuju ke lokasi masih tidaklah mudah. Butuh beberapa jam untuk sampai di tingkatan pertama air terjun yang terletak di desa Mentuda ini. Air terjun ini pun pernah dilirik oleh investor untuk pembangkit listrik tenaga air karena debit airnya yang cendung tidak surut walau di musim kemarau.

Di antara aliran sungai yang bersumber dari mata air pegunungan Daik itu, terdapat juga beberapa lokasi rekreasi dan piknik, seperti pemandian Lubuk Papan dan pemandian Lubuk Pelawan. Keduanya berada pada aliran air sungai Tande. Kedua pemandian ini juga memiliki nilai sejarah yang erat dengan masa kerajaan Riau-Lingga saat Daik menjadi ibu kotanya.

Menurut Lazuwardi, pecinta sejarah Lingga, pemandian Lubuk Papan merupakan lokasi untuk aktivitas keseharian kalangan yang bertugas istana. Lubuk Papan memang berada tidak jauh dari area istana Damnah.

Pemerintah juga telah menyulap area pemandian ini menjadi lokasi yang layak untuk dinikmati bagi setiap pengunjung. Beberapa tempat duduk juga telah dibangun lengkap dengan toilet serta kamar ganti bagi pengunjung yang hendak mandi. Air yang mengalir pun berasal dari mata air pegunungan Daik sehingga rasa segar dan sejuknya tetap terasa.

Sedangkan pemandian lubuk Pelawan, dulunya merupakan lokasi pemandian Engku Ampuan Zahara. Akan tetapi, lokasi ini kurang mendapatkan perawatan yang baik karena beton-beton yang ada pun telah terkikis oleh derasnya air saat musim hujan. Untuk bernostagia dengan masa lalu, tidaklah salah bisa mendatangi lokasi ini.

Kamis, 11 April 2013

Meriam Penghancur itu Bernama Tupai Beradu (2)




Terik siang itu begitu menyengat. Namun semilir angir dari arah laut menghilangkan gerah perjalanan begitu sampai di benteng Bukit Cening. Ini adalah benteng pertahanan kedua setelah pulau Mepar dari kerjaan Riau saat menjadikan Daik sebagai pusat pemerintahan. Di dalam benteng itu, deretan meriam berjejer menghadap ke laut.

Dentuman meriam silih berganti untuk menaklukkan musuh yang berhasil lolos dari gempuran benteng di Mepar. Perlawanan sengit membuat perang berlangsung lama. Hari pun sudah mulai sore tetapi musuh masih terus memberikan perlawan. Dan akhirnya, kapal musuh tak berkutik lagi ketika meriam penghancur, Tupai Kembar, berhasil memuntahkan pelurunya di gudang mesiu kapal. Doar. Lambung kapal pun pecah dan seluruh pasukan lanun kocar kacir dan terjun ke laut di selat Kolombok.

Kisah di atas hanyalah kilasan hayalan tentang peperangan membasmi para lanun dan pendatang yang membahayakan kedaulatan kerajaan. Bayangan seperti itu bisa membuat kita bernostalgia dengan masa lalu. Sejah pemerintahan berpindah dari Riau ke Daik Lingga, belum ada catatan perihal peperangan besar yang terjadi layaknya perang di Tanjungpinang sebagai mana yang dipimpin oleh Raja Haji Fisabillah.

“Secara umum, baik dalam kisah-kisah orang tua ataupun sumber tertulis, belum ada peperangan besar yang terjadi di Lingga. Benteng-benteng itu dibangun untuk pertahanan karena Lingga adalah ibu kota. Cerita yang banyak terdengar tentang penaklukan para lalun dan perompak,” kata Lazuwardi, pemerhati sejarah di Lingga. Meriam ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Syah (1812-1832).

Khayalan peperangan semacam itu muncul ketika berdiri di meriam Tupai Beradu. Meriam ini adalah meriam terbesar dari 19 meriam yang ada di Bukit Cening. Panjangnya 2,8 meter dengan deameter 12 centi meter. Dalam penuturan warga, meriam ini diapit oleh meriam Mahkota Raja. Saat ini, susunan meriam itu disesuaikan dengan kisah-kisah yang tersebar di masyarakat. Panglima yang mengomandoi benteng itu dikenal bernama Panglima Pandak atau Panglima Cening.

“Meriam Tupai Beradu ini diapit oleh meriam Mahkota Raja. Kisah ini sudah turun temurun begitu. Sifatnya lebih sebagai meriam penghancur. Mungkin karena ukuran lebih besar dari pada yang lain. Panglima Ceninglah yang memegang komando dan yang memegang kendali meriam Tupai Beradu itu,” katanya lagi.

Benteng Bukit Cening siap memiliki luas 32x30 centi meter. Dari benteng ini, terlihat hamparan luas selat Kolombok. Selat ini menjadi pintu masuk bagi setiap pedagang yang hendak berlabuh di pelabuhan Pabean melalui sungai Daik. Di benteng itu juga ditemukan angka 1783 dan 1797 serta tulisan VOC yang diduga sebagai tahun pembuatan meriam. Tulisan “VOC” menandakan meriam itu dibeli dari pemerintah Hindia Belanda. Keterangan itu tertulis pada prasasti di bagian depan benteng.

Kuala Daik
Sungai Daik adalah satu-satunya jalan untuk mencapai ke pusat pemukiman penduduk dan area istana sultan. Di dalam aliran sungai itu pula terdapat pelabuhan tempat bongkar muat barang. Namun, bagi musuh hendak memasuki muara sungai, ia harus terlebih dahulu menaklukan benteng Kuala Daik dan Kubu Pari yang tedapat puluhan meriam.

“Dulunya meriam di sana lebih banyak. Tetapi karena lokasinya jauh dari pemukiman, perawatannya agak sulit. Sebelum diletakkan pada beton, meriam-meriam itu berserakan,” kata seorang warga. Saat ini, ada 16 meriam yang berhasil ditemukan dari 21 meriam yang dikabarkan berada di kubu parit ini. Ada kabar, beberapa meriam berhasil dipindahkan ke tengah pemukiman penduduk.

Dengan jumlah sebanyak itu, meriam ini bisa menghalau musuh dari jarak dekat, bahkan sebelum kapal musuh berhasil menyentuh bibir sungai. Apalagi, benteng Kuala Daik yang berada tepat di bibir pantai juga selalu siap menuggu kedatangan musuh yang berhasil lolos dari gempuran benteng Mepar dan Bukit Cening. (Abd Rahman Mawazi)



Kamis, 04 April 2013

Meriam Sumbing yang Melegenda (1)



Perang Reteh meletus ketika Belanda mengerahkan pasukannya dari Tanjungpinang pada Oktober 1858. Pasukan itu hendak menaklukan Raja Sulung di Reteh, Indragiri, Riau. 25 kapal perang penuh meriam dan pasukan besar dikirim agar Raja Sulung tunduk dan mengakui sultan Sulaiman. Namun, ada satu meriam yang tertinggal dan menagis, yaitu meriam sumbing.

Meriam sumbing yang kini berada di pulau Mepar, Lingga, konon dikabarkan menagis karena tidak diikutsertakan dalam perang itu. Tagisnya tidak lagi terdengar setelah disusulkan ke Reteh dan turut serta dalam pertempuran yang akhirnya menewaskan Raja Sulung. Dan keganasan meriam sumbing ketika itu, melebihi perkiraan banyak orang. Meriam sumbing kala itu dianggap sebagai produk yang belum sempurna dan tidak tahan lama untuk diajak bertempur.

“Setelah perang usai, ternyata terdengar kabar bahwa meriam itu tidak hanya kokoh dalam bertahan, tetapi juga kuat dalam menyerang hingga membuat moncongnya sumbing. Itu kisah yang masyahur di masyarakat,” kata Lazuwardi, warga Daik yang menjadi pemerhati sejarah Lingga. Dalam sebuah makalahnya,

Perang Reteh berkobar karena Raja Sulung tidak mau tunduk kepada Belanda dan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah (1857-1883). Sultan Sulaiman naik tahta setelah Belanda memakzulkan Sultan Mahmud Muzaffar Syah yang berada di Singapura. Sedangkan Raja Sulung menjadi pengikut setia Sultan Mahmud setelah ditolong usai perebutan kekuasan di Siak pada 1784 dan diangkat sebagai Panglima Besar Reteh.

Ketika perang Reteh usai pada bulan berikutnya, seluruh meriam yang berada di benteng pertanahan di pulau Mepar dikembalikan pada posisi semua, termasuk meriam sumbing yang memiliki panjang sekitar 1,5 meter itu. Meski telah sumbing, ia tetap menjadi idola dalam pertahanan. Saat ini, meriam itu berada tidak jauh dari sebuah musholla di pulau Mepar, sekitar 20 meter dari gerbang masuk pulau itu. Dulunya banyak meriam hanya berserakan saja di sekitar pemukiman wawrga dan kini meriam itu sudah disusun bagian bukit pulau Mepar.

Meriam sumbing pun dianggap sebagai meriam paling kramat diantara meriam-meriam lainnya. Dalam novel Mutiara Karam karya Tusiran Suseso, meriam sumbing dikisahkan sebagai senjata andalan Datuk Kaya Mepar saat hendak menumpas para lanun atas titah sultan Mahmud Syah. Meriam itupun selalu tetap berada di Mepar dan menjadi meriam paling keramat. Terlepas dari berbagai kisahnya, meriam Sumbing telah menjadi bagian dari mitologi masyarakat Lingga.


Akan tetapi, Repelita Wahyu Oetomo dari Balai Arkeologi Medan dalam sebuah artikelnya menyebutkan sumbing pada moncong meriam itu disebabkan oleh kualitas barang yang kurang bagus. Ia menduga meriam itu buatan dari daerah yang teknologinya belum maju sehingga pada saat terlalu sering digunakan, bagian depannya kepanasan dan pecah.

Pertahanan Pertama
Pulau Mepar memiliki fungsi strategis dalam pertahanan kerajaan Riau-Lingga. Pulau yang ketika mengitarinya tidak sampai setengah ini di kepalai oleh seorang temanggung. Namun, kekuasan temanggung ini berbeda dengan Temanggung Abdul Jamal yang megusasi ke bulan Bulang dan sekitarnya. Temanggung di Mepar hanya berkuasa di Mepar saja sebagai hadiah dari Sultah Mahmud Syah III saat memindahkan ibu kota kerajaan dari Riau-Bintan ke Daik-Lingga.

Sebagai benteng pertahanan, seluruh sisi pulau itu pun dipenuhi oleh benteng atau kubu. Jangan bayangkan benteng yang dimaksud ini adalah tembok beton tebal dengan ketinggiannya, benteng ini hanya berupa gundukan tanah atau susunan bebatuan untuk tempat berlindung. Meriam-meriam, diletakkan di atas gundukaan tanah adan ada juga yang muncungkan berada di antara tumpukan batu. Ada sekitar lima benteng di pulau itu, sebagian sudah tergerus oleh laut.

“Yang paling atas itu benteng Lekok. Benteng ini bisa memantau seluruh penjuru di laut. Benteng pulau Mepar ini adalah benteng pertahanan pertama. Di bukit Cengkeh juga ada benteng, tapi lebih tepatnya semacam pos pantauan. Dari sana kemudian dikirim sinyal ke Mepar,” terang Lazuardi.

Benteng yang dilengkapi meriam di Mepar selalu siap siaga bila ada musuh. Apalagi, selat Lima yang memisahkan pulau Lingga dan Selayar sering menjadi jalur pelayaran. Setiap kapal yang datang selalu terpantau dari pos di Bukit Cengkeh dan benteng–benteng di Mepar pun bersiaga ketika kapal itu dicurigai sebagai ancaman.

Posisi Mepar ini kurang lebih dengan posisi Penyegat dan Tajungpinang yang menjadi benteng pertahanan paling depan. Mepar ini berada di seberang dari pelabuhan Buton, Daik. Pelabuhan inilah yang pada masa-masa akhir kerajaan digunakan Belanda sebagai tempat untuk mengontrol gerak gerik sultan beserta seluruh rakyat yang keluar masuk Daik.

Jika di Penyengat memiliki banyak peninggalan infrastruktur, termasuk masjidnya yang sudah terkenal ke sentaro negeri. Sedangkan peninggalan masa kerajaan di Mepar hanya benteng-benteng itu serta makam dari temanggung dan keturunannya. Kini, pemkab Lingga melalui Disbudpar telah menjadikan Mepar sebagai satu destinasi wisata di Lingga. (abd rahman mawazi/bersambung klik di sini

Baca juga : Meriam Penghancur itu Bernama Tupai Beradu

Jumat, 15 Maret 2013

Kampung Boyan di Dabo Singkep


Kemasyhuran timah di Dabo, pulau Singkep, kabupaten Lingga, menarik perhatian dunia. Dimulai pada zaman kesultanan, era penjajahan Belanda, hingga masa kemerdekaan sampai pada tutupnya PT Timah pada 1992-an. Pendatangpun berbondong ke pulau yang berada di utara pulau Bangka, termasuk juga pendatang dari pulau Bawean.


Masyarakat Bawean memang sudah terkenal sebagai perantau. Jejak mereka lebih banyak ke arah barat dari pulau yang berada di laut Jawa itu. Bangka, Belitung, Kijang (Bintan), Singapura, dan Malaysia menjadi tempat tujuan merantau yang paling banyak diminati setelah Jawa.

Para perantau ini seringkali meninggalkan jejak berupa nama kampung, yakni Kampung Boyan. Nah, itulah yang menjadi pijakan, tradisi rantau warga Bawean memiliki jejak, baik berupa nama maupun tradisi. Di Dabo Singkep, terdapat juga sebuah kampung bernama Kampung Boyan. Di situ, dahulu, pada masa kejayaan PT Timah, terdapat sekelompok perantau dari Bawean. Mereka mencoba menggantungkan asa dari tambang yang telah terkenal ke sentaro dunia. Ada juga yang datang sebagai pedagang.

Dari beberapa penuturan orang Boyan di Dabo Singkep, mereka ada yang datang langsung dari Bawean dan ada pula yang datang dari Bangka dan Belitung. Tidak perlu diceritakan lagi bagaimana masyarakat Bawean bisa merantau sebab semuanya, ketika itu, menggunakan jalur laut dan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan ekonomisnya.
Kampung Boyan di Singkep ini terletak di pesisir pantai.

Di kampung itu lebih banyak di tumbuhi pohon kelapa. Akan tetapi, Kampung Boyan di desa Batu Berdaun Kecamatan Singkep kabupaten Lingga ini tidak lagi ada orang-orang Boyan itu. Entah sejak kapan mereka meninggal kampung dan hanya menyisakan nama saja. “Dulu banyak, sekarang tak ada lagi (orang Boyan yang menetap di kampung itu),” kata Iwan, ketua RT di kampung itu.

Meski tidak lagi ditemukan keturunan Bawean di kampung itu, sebenarnya, mereka masih ada yang menetap di pulau Singkep. Mereka telah tersebar ke beberapa kampung-kampung lainnya. Saat ini, lokasi yang paling terkenal dengan banyak warga ataupun keturunan Bawean itu sebuah kampung bernama Tansirasif, yang berada di kecamatan Singkep Barat.



Di sana, warga Bawean banyak yang memilih menjadi petani. Hasil pertanian mereka untuk memenuhi kebutuhan warga Singkep. Yang tidak kalah terkenal ialah durian hasil dari pohon-pohon tanaman orang Boyan. Tidak sedikit orang Singkep yang menaruh rasa takjub dengan etos kerja orang Boyan, apalagi hasil tanaman mereka dikenal selalu bagus.

Ada juga sebagian keluarga lainnya yang menetap di Dabo Singkep. Di antara mereka ada yang menjadi buruh dan ada pula karyawan biasa.

Sependek pengetahuan penulis, belum ada keturunan Bawean yang memiliki kedudukan strategis di pemerintah maupun politik di kabupaten Lingga. Kelak, jika ada kisah lain perihal orang Boyan ini, tentu akan penulis bagikan lagi kepada pembaca. (Abd Rahman Mawazi)


Selasa, 05 Maret 2013

Kebakaran di Dabo Singkep Hanguskan 41 Rumah



Tagis histeris warga menyeruak di RT 01 RW 3 di keluarahan Dabo, Singkep, Senin (4/3) pagi sekitar pukul 09.15 WIB. Mereka tidak menyangka api yang sebelumnya berasal dari satu rumah, tiba-tiba dengan cepat mebesar dan merambat ke rumah-rumah lainnya. Semakin panik dan berupaya menyelematkan barang-barang serta dokumen-dokumen penting lainnya.

“Aduh…. Habis semuanya barang aku,” teriak seorang ibu saat dibopong oleh warga lain. Para ibu pun histeris sembari mengemasi barang-barang mereka yang telah dibantu dikeluarkan warga. Barang-barang perabotan menumpuk di area kosong di sekitar mukiman. Warga harus berlomba dengan kobaran api yang terus membesar.

“Dah habis semua. Surat-surat aku pun tak ade lagi,” seru warga lain. Perepuan yang baru saja menempati rumah dari bantuan RTL ini hanya bisa pasrah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena rumahnya sudah rata dengan tanah.

Kabakaran hebat yang melanda pemukiman padat penduduk di belakang pasar Dabo Singkep itu sedikitnya melahap 41 rumah yang dihuni oleh 46 kepala keluarga. Selama satu jam lebih, kobaran api tidak mampu dijinakkan oleh satu unit mobil pemadam kebakaran milik pemkab Lingga. Apalagi, hembusan angin kencang membuat api terus berpindan dari satu rumah ke rumah lainnya yang rata-rata terbuat dari kayu. Warga terpaksa harus merobohkan rumah-rumah yang paling dengan api.

“Kita tak bisa melawan api macam tadi. Anginnya terlalu kencang. Tidak mungkin kita lawan, terpaksa harus dijebol biar api tidak terus merambat. Apalagi, air kita kurang sekali,” ujar Rudi Purwonugroho, anggota DPRD Lingga yang turut membantu warga menjinakkan api, ketika meninjau kembali lokasi kejadian.

Awalanya, angin berhembus ke arah laut dan meratakan rumah panggung di sana. Nyaris tanpa sisa, kecuali tiang-tiang pemancang rumah saja yang masih berdiri tegak menjadi arang. Belum lagi api padam di rumah-rumah tepian pantai, angin telah berhembus ke darat, ke arah pemukiman warga yang dekat dengan pasar. Hal ini membuat warga tambah panik.

Spontan saja, warga yang rumahnya berada di sekitar itu pun langsung mengeluarkan perabotan mereka. Mereka berlomba dengan hembusan angin yang mebawa api. Akan tetapi, banyak warga penonton membuat beberapa upaya pengeluaran menjadi sulit. Bahkan, para petugas dan pegawai pun beberapa kali menghalau warga agar membantu dan tidak mendekat ke lokasi bagi mereka yang tidak berkepentingan.

Wakil bupati Lingga, Abu Hasim, dan camat Singkep, Kisanjaya, juga tidak kalah tanggap. Kedua membantu warga lain untuk menjinakkan api serta memindahkan perabotan rumah. Api baru benar-benar bisa jinakkan sekitar dua jam setelah kejadian.

Dapur Kayu
Kapolres Lingga, AKBP Moch. Khozin, mengatakan dari hasil penyidikan sementara, sumber api berasal diduga berasal dari rumah warga yang bernama Darmawan. Apa itu berasal dari tungku kayu yang sedang digunakan memasak.

“Hasil lidik sementara api yang diduga berasal dari rumah warga yang bernama Darmawan yang lagi memasak dengan menggunakan kayu bakar. Berhubung angin kencang, api langsung menyambar rumah yang lainnya dan kebetulah rumah-rumah di lokasi terbuat dari kayu dengan atap dau nipah,” terangnya.

Lokasi kejadian yang telah rata dengan tanah pun pun telah dipasangi garis polisi untuk penyidikan lebih lanjut. Menurutnya, kerugian dari peristiwa itu diperkirakan mencapai Rp 900 juta.

Dari informasi yang dihimpun Tribun, sumber api berasal dari rumah warga yang didiami oleh Joni sekeluar. Saat itu, rumah tersebut sedang kosong. Warga pun berupaya untuk mendobrak rumah ketika asap mulai membesar dan terdengar suara ledakan. “Informasinya dari rumah Joni. Rumahnya lagi kosong. Tadi pas mau dipadamkan, rumahnya terkunci dari dalam,” kata seorang warga.

Informasi itu juga diiyakan oleh Rudi Purwonugroho, anggota DPRD Linnga. Namun, ia juga mengaku hanya mendengar dari warga dan warga menyebut asal api dari bagian belakang rumah tersebut. “Kabar lainnya ada yang bilang karena arus listrik,” ucap Rudi lagi.

Sabtu, 02 Februari 2013

Daun Racun yang Menjadi Obat



Tulisan arab di lembaran daun itu tampak sedikit mencolok di antara barang-barang lain di museum Linggam Cahaya. Kalimat yang tertulis pada bagian pertama ialah bissmillahirrahmaanirrahiim. Menurut petugas penjaga museum, itu adalah daun dari pohon Embacang atau juga dikenal juga Bacang.

Tradisi mandi Safar menjadi bagian dari ritual tradisi melayu yang telah dipopulerkan oleh sultan Lingga Riau terakhir, Abdurrahman Muazzamsyah, saat hendak berangkat meninggalkan Daik menuju Singapura. Sultan yang kala itu hendak dimakzulkan oleh Belanda menyempatkan dulu untuk mengajak warganya melakukan mendi Safar di istana Kolam.

Sejak saat itu, tradisi mandi Safar kembali menggeliat dikalangan warga melayu di Daik. Dalam kegitan itu, air yang hendak digunakan untuk mandi penyiram pada pertama kali membasahi tubuh adalah air yang telah dimantra-mantrai oleh tokoh adat setempat. Mantra yang digunakan adalah sebuah isim yang ditulisakan pada benda lalu dicelupkan ke dalam tempayan ataupun gentong.

Menurut pemerhati budaya Lingga, Lazuardi, dulunya tidak hanya dedaunan yang digunakan. Adakalanya pelepah pohon. Zaman itu, terangnya, kerta merupakan barang mewah dan sulit untuk didapatkan. Kertas yang ada sering digunakan untuk kebutuhan administrasi kerajaan.

“Barulah setela itu daun yang digunakan. Menurut cerita-cerita, daun Embacang ini dipilih karena pohon ini memiliki racun. Siapa yang terkena tetesan getahnya akan terkena penyakit gatal-gatal dan kudis. Ada juga penyakit lain yang ditimbulkan dari daun ini. Makanya, kemudian daunnya dipilih,” paparnya.

Pemilihan daun tersebut, tambah dia, agar segala racun yang terdapat didalamnya tidak membawa petaka dan marabahaya bagi warga. Dengan dibacakan doa serta penulisan isim pada daun itu, diharapkan tidak lagi mencelakai warga. Akan tetapi, tidak ada patokan khusus dalam penggunana media daun tersebut.

Penulisan isim atau kalimat pada daun itu tidak sembarang. Hanya orang-orang tertentu yang bisa boleh menuliskannya, yakni ulama ataupun tokoh agama. Waktu penulisan juga sangat terpilih, yakni pada Jumat atau malam-malam lain yang dianggap paling bagus. Selama proses penulisan, sang penulis juga tidak diperkenankan berbica hingga penulisan selesai.

“Itu adalah aturan-aturannya. Sebab maksuda dan tujuan dari tulisan itu adalah doa atau permohonan. Tulisannya, bismillahirrahmaanirrahiim salaamun kaulam mir rabbir rahim dan seterusnya. Tentang hal ini ada diterangkan dalam kitab Tajul Mulk,” imbuhnya lagi.

Menurut Fadli, petugas museum Linggam Cahaya, dalam Kitab Tajul Mulk itu disebutkan bahwa tradisi itu untuk menolak balak anak cucu nabi Adam dari godaan Dajjal (sosok pembawa bencana dalam kepercayaan umat Islam, red). Dalam kitab tersebut juga diceritakan tentang awal mula tradisi tersebut. “Untuk pelaksanaannya, yakni pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Seperti disebutkan dalam kitab ini,” ujarnya saat membacakan keterangan dalam kitab itu kepada Tribun beberapa waktu lalu.


Masyarakat melayu meyakini kegiatan mandi Safar adalah bagian dari adat istiadat untuk tolak balak atau dijauhkan dari musibah dunia. Tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Melayu di Lingga, melainkan juga di Malaka, Serawak, dan lainnya. 

Long Leman, Terpanggil Menjaga Sejarah dan Budaya di Lingga



Besi tua itu sebelumnya teroggok di pinggir jalan. Sekilas, ia terkesan hanyalah sebagai besi tua yang tidak dipergunakan lagi dengan warna kecoklatan yang pekat. Nyaris hitam. Untungnya, ada tulisan yang menandakan bahwa benda itu ialah cagar budaya. Benda itulah yang berada di hadapan Long Leman. Besi itu telah dipindahkan oleh Disparbud Lingga beberapa waktu lalu untuk menjadi bagian koleksi museum.

Kakek Long Leman (60) sedang asyik mengetuk benda bulat itu. Ia tampak serius dengan palu di tangannya. Pelan dan perlahan, karat yang melekat disingkirkan agar tidak menjalar ke bagian lain dari besi itu. “Ini dulu dipakai untuk memadatkan jalan oleh Belanda waktu membuka jalan ke pelabuhan Beton,” ujarnya saat disambagi Tribun beberapa waktu lalu.

Benda itu, terangnya, adalah peninggalan bersejarah yang harus dirawat. Itu adalah bagian dari bukti sejarah atas kehadiran Belanda dalam upaya mengusai Lingga yang ketika itu dipimpin oleh sultan terakhir kerajaan Lingga Riau. Belanda menjadikan pelabuhan Buton sebagai lokasi untuk memantau arus keluar masuk penduduk, termasuk juga raja yang hendak dimakzulkannya.

Itu adalah satu diantara pekerjaan Long Leman. Ia termasuk satu diantara para pecinta benda-benda bersejarah, seni budaya, serta adat istiadat melayu. Bahkan, Long Leman rela menghibahkan tanahnya untuk pembangunan museum. Ia merasa bahwa benda-benda bersejarah harus dirawat dan dilestarikan agar anak cucu kelak bisa mengambil pelajaran.

“Dulu saya pelaut. Saya telah datang ke beberapa daerah. Saya melihat berbagai adat-istiadat mereka. Terus saya berpikir, daerah saya ini kaya dengan budaya. Setelah balik, saya tidak lagi mau menjadi pelaut. Saya memilih melestarikan budaya,” kisahnya sembari mengenang masa lalunya.

Sebelum upaya penyelamatan benda-benda bersejarah, Long Leman menekuni bidang budaya. Ia pun mempelajari beberapa peralatan musik. Tak heran, bila kini ia bersama dengan sanggar tari yang ia bina sering mendapatkan undangan ke berbagai daerah.

Setelah Lingga menjadi kabupaten, semangatnya terus berkobar. Apalagi, museum itu kini berada berdampingan dengan rumahnya. Sehari-hari ini, ia selalu bergulat dengan benda-benda bersejarah serta kebudayaan. “Tidak bosan. Museum ini penting. Inilah pengabdian saya. Saya tak bisa kasi apa-apa,” ujarnya.

Penggiling tanah itu, rencananya akan diletakkan di dekat museum bersama dengan beberapa koleksi lainnya. Dengan begitu, setiap warga yang datang bisa menikmati koleksi dan mengambil pelajaran.

Lazuardi, seorang teman Long Leman, mengatakan selalu berbagi informasi perihal informasi-informasi budaya dan sejarah. Bahkan, ketika berburu barang-barang untuk koleksi museum, mereka kerap bersama. Saat Long Leman masih mampu melakukan perjalanan jauh, mereka berdua tidak segan mendatangi pelosok-pelosok desa.

“Kita harus berusaha sekuat tenaga menjaga agar koleksi bersejarah tidak berpindah dari Lingga. Kami selalu mencari informasi sampai ke pelosok-pelosok desa,” ujarnya.

Semangat mencintai budaya dan sejarah dari Long Leman juga telah turun kepada seorang anaknya, Jumiran. Anaknya itu memiliki bakat di bidang musik dan saat ini telah bergabung dengan sanggar yang menjadi binaanya. “Ada satu anak yang bakatnya sama. Mudah-mudah cucu nanti juga ada yang bakat di bidang sejarah,” harapnya.

Selain menjaga dan merawat benda bersejarah, Long Leman juga adalah orang yang selalu mencuci benda-benda bertuah. Dalam tradisi adat melayu, benda bertuah seperti keris tidak bisa dicuci sembarang orang. “Itu agak lain sedikit. Orang boleh percaya atau tidak,” ucapnya. Tak heran bila ia kerap dicari beberapa orang, bahkan dari negeri seberang untuk mengambil pelajaran darinya. 

Nelayan di Bakong Penghasil Ikan Bilis


Seorang nelayan ikan bilis, A Ti, masih sibuk dengan loyang perebus ikan di hadapannya. Sesekali ia harus menghindar dari kepulan asip membuat perih mata. Dengan singap, ia mengentas rebukan ikan dalam keranjang khusus setelah beberapa menit dicelupkan.

Sore itu, cuaca tampak menudung. Para nelayan ikan bilis di desa Bakong terpaka harus merebus ikan bilis hasil tangkapan semalam agar tidak membusuk. Terik matahari adalah pengering ikan andalan warga. Dan bila hujan, maka mereka pun akan sibuk merebus ikan bilis itu.

“Kalau tidak rebus, nanti busuk. Tapi kalau sudah direbus begini, harganya jadi murah. Kualitasnya beda antara yang dikeringkan langsung ke matahari dengan yang direbut dulu,” kata Rustam, warga Bakong menjelaskan beberapa waktu lalu.

Apa yang dilakukan A Ti bersama dengan anggota keluarganya ialah berupaya agar ikan hasil tangkapan semalam itu tidak membusuk dan tetap masih bisa dijual. Itulah rezeki yang bisa kais oleh A Ti beserta ratusan warga lainnya di Bakong. “Kalau tiga kali rebus, dah tak bisa jual lagi. Di buang saja,” ujarnya.

Hujan dan musim angin utara adalah aral yang sangat menyulitkan bagi para nelayan. Jika memasuki musim utaran, warga tidak melaut lagi selama hampir empat bulan. Sedangkan 80 persen masyarakat di sana menggantungkan pada tangkapan ikan bilis. Setiap satu kilo ikan bilis kering dihargai oleh pengepul Rp 40 ribuan untuk kualitas dengan pengeringan matahari langsung, sedangkan yang terlebih direbus harga sudah jatuh dan bahkan tidak sampai Rp 30 ribu.

Ikan-ikan itu ditampung oleh seorang dari Tembilahan Riau. Nelayan lebih memilih pengusaha dari luar daerah itu karena penampung dari Tanjungpinang justru menawar dengan harga lebih murah. Para nelayan berharap ada investor yang memiliki penampungan di Bakong sehingga warga pun mudah untuk menjual hasil tangkapannya.

Putera kelahiran Bakong, Irjen Pol (purn) Andi Masmiyat, yang datang melayat ke makan orang tua beberapa waktu lalu mengakui mata pencarian masyarakat adalah nelayan. Hal itu sudah berlangsung sejak dulu, sejak ia masih kecil dan sering berlari diantara jemuran ikan bilik milik warga. “Kalau ada teknologi pengeringan yang sederhana saja, mungkin tidak akan sampai busuk,” ujarnya.

Saat pertemuan, warga mengaku butuh pelatihan untuk meningkatkan nilai jual dari ikan bilis mereka. Dan kini, mereka sedang berembuk untuk membentuk kelompok nelayan agar bisa segera mendapatkan pelatihan ataupun membentuk swada untuk keperluan diantara mereka juga. 

Berebut Berkah dari Ritual Xia Khang di Lingga



Senja mulai menghilang kala orang-orang di kelenteng itu sedang sibuk mempersiap perabotan. Malam itu, adalah malam rangkaian dari upacara sembahyang kesalamatan bumi di kelenteng Berigin, Penuba, Lingga. Segala kebutuhan untuk konsumsi pun sedang dipersiapkan bagi para tetamu yang akan datang.

Sembang keselamatan bumi, atau yang dikenal juga dengan Xia Kang itu, adalah ritual syukuran sekaligus perhononan berkah yang dalam tradisi masyarakat Thionghoa. Ritual ini telah berjalan lama hingga menjadi tradisi sampai saat ini, khususnya masyarakat untuk kelenteng atau pun vihara yang berada di pinggiran sungai.

Ketua pengurus kelenteng, Susanto, mengatakan, tradisi itu sudah berlangsung lama dan dilakukan setiap setahun sekali. Kegiatan itu sebagai bentuk syukur atas sezeki yang telah mereka terima dan sebagai bentuk permohonan untuk tahun depan. Kelenteng Beringin menjadi kelenteng tertua di Penuba dan kini sudah berusia 112 tahun.

“Ini semacam upacara syukuran atas sungai yang telah memberikan rezeki. Tradisi ini sudah turun temurun,” kata Ayun, sesepuh warga Thionghoa di Singkep kepada Tribun, Jumat (14/12) lalu. Tradisi ini juga berlangsung pada kelenteng di Daik dan juga Pancur.

Sebagai ritual sacral, warga Thionghoa dari Penuba yang telah merantau pun turut hadir. Mereka berdatangan dari Batam, Bintan, Tanjungpinang, Jakarta, Singapura, dan juga derah lainnya. Mereka rela meninggalkan kesibukan keseharian demi mengharap berkat dari upacara tersebut. Mereka bersembahyang, lalu duduk bersama untuk menikmati jamuan serta hiburan dan juga lelang barang.

Pelelangan dari barang-barang yang telah disembahyangkan menjadi rebutan. Patung-patung dengan berbagai bentuk dilelang untuk derma bagi kelenteng. Sebagaimana layaknya lelang, tawar menawar harga pun membuat suasana semakin ramai. Mereka tidak hanya merebutkan barang, melainkan makna dari barang-barang itu.

“Ada makna-makna tertentu. Kayak naga tadi. Itu ada artinya,” kata Ayun yang enggan menjelaskan lebih jauh makna-makna dari setiap barang. Pada malam itu, patung naga dan kuda menjadi incaran para peserta lelang. Penawaran sempat sengit hingga akhirnya mengerucut pada dua orang. Harganya pun melejit jauh, bahkan ada barang yang dilepas dengan harga Rp 33 juta.

Harga memang tidaklah menjadi persoalan, tetapi kepuasan dari memiliki barang yang telah disembahyangkan adalah sesuatu yang berbeda. Itulah, kata Ayun, yang membuat banyak orang berebut untuk memiliki barang-barang yang dilelang. (arm)