Snorkeling di Pulau Petong, Mengapa Tidak? (1)

Pulau Petong ini berada di sisi selatan Batam. Lebih kurang perjalanan satu setengah jam dari titik keberangkatan kami di Kepri Mall hingga sampai di jembatan enam. Tentu saja, kita akan melewati jambatan satu Barelang yang telah menjadi ikon Batam.

Rasakan Sejuk Air Gunung Daik di Resun

Air terjun Resun, begitu nama yang dilebelkan untuk air terjun yang terletak di desa Resun itu. Airnya mengalir dari pengunungan di tanah Lingga. Air terjun Resun ialah satu di antara sekian banyak aliran air terjun dari gunung Daik.

Kampung Boyan di Dabo Singkep

Para perantau ini seringkali meninggalkan jejak berupa nama kampung, yakni Kampung Boyan. Nah, itulah yang menjadi pijakan, tradisi rantau warga Bawean memiliki jejak, baik berupa nama maupun tradisi. Di Dabo Singkep, terdapat juga sebuah kampung bernama Kampung Boyan.

Menikmati Keindahan Masjid Agung Natuna

Masjid ini memang megah. Bahkan termegah yang ada di Kepri. Sebab itu, masjid ini selalu terlihat sangat cantik dari berbagai sisinya. Anda bisa mencari berbagai foto menarik masjid ini di internet. Saya sungguh kagum.

Puasa dan Pembebasan Sosial

Puasa mempunyai konteks tanggungjawab pribadi dan juga tanggungjawab sosial. Karenanya, dalam berpuasa, disamping mewujudkan kesalehan vertikal kepada Allah, juga untuk mewujudkan kesalehan herisontal kepada sesama manusia dan mahluk Allah.

Tuesday, September 25, 2012

Mengais Emas di Antara Timah di Dabo Singkep

EMAS - Seorang pendulang emas tradisional di Dabo Singkep menunjukkan butiran emas dari pendungannya.

Kesohoran Timah di Dabo Singkep sudah lama berlalu. Hingga kini, penambangan timah secara tradisional pun masih terdapat di pulau ini meskipun PT Timah telah resmi menutup operasionalnya pada 1992 lalu. Uniknya, di antara biji-biji timah itu, terdapat biji emas. 

Belasan orang berendam dalam kubangan penggalian timah atau yang akrab disebut kolong oleh masyarakat Dabo. Mereka sibuk memutar-mutar nampan di air berwarna kecoklatan. Mereka itu sedang hendak memisahkan tanah, pasir, dan kerikil untuk mencari emas. Sesekali, gumpalan tanah diremas lalu dimasukkan lagi ke nampannya.

Itulah yang dilakukan oleh Nasri bersama dengan beberapa orang lainnya di sebuah area penambangan. Dengan air setinggi setengah badan, mereka berendam untuk mengais tanah, lalu meletakkannya dalam nampan, dan kemudian memutar nampan itu. “Tak ada bang, susah jugalah dapatnya,” kata Nasri usai melihat hasil dulangannya.

Hari itu, ia mendapatkan dua butir emas mulia. Itu adalah hasil seharian sejak sekitar pukul 10 pagi menjeburkan diri dalam air. Dengan menggigil, ia pun beranjak dari kolong. Minum seteguk kopi dalam botol kecil lalu mengisap sebatang rokok. Ia sudah mempersiapkan bekal dari rumah yang siap disantap kala jeda. “Kayak inilah,” katanya sembari menunjukkan dua butir emas hasil hari itu.

Emas itu berada diantara biji timah, tanah, dan pasir di kedalaman mulai satu meter hingga 10 meter di permukaan tanah. Bisa dikatakan setiap ada timah ada juga emasnya. Namun, Nasri bersama teman-temannya hanya memungut sisa-sisa, yakni sisa pemilik tambang timah. Mereka pun baru berani mendulang apabila pemilik tambang mengizinkan.

“Kami pernah dapat segini (sambil menunjukkan jempolnya, red). Beratnya 27 gram. Itulah kalau rejeki,” ujar Jamil pula. Ia mengaku kaget ketika melihat emas murni sebesar itu. Namun, ia tidak berani bising ataupun berteriak walau pun girang. Ia harus merahasiakan penemuan itu. “Manalah tahu kita satu persatunya orang,” ucapnya pula sembari terseyum.

Ternyata, temuan itu membuatnya semangat untuk menjadi pendulang emas tradisional. Harganya yang mencapai Rp 485 ribu hingga Rp 495 ribu sangatlah menggiurkan. Menjualpun mudah. Cukup ditawarkan pada toko-toko emas yang ada di Dabo Singkep.

Bukanlah pekerjaan gampang untuk mendapatkan satu gram emas. Bisa jadi, dalam sehari tidak dapat sekali. Mereka harus berendam berjam-jam lama. Belum lagi berebutan mengambil lokasi dengan pendulang lainnya. Bagi yang tidak ingin berendam dalam air, biasanya mereka akan mebuat lubang sendiri.

Para pendulang ini ada yang mencari perseorangan dan ada juga membentuk menjadi satu kelompok, bisa terdiri dari dua hingga empat orang. Mereka yang berkelompok akan saling bahu membahu membantu. Hasilnya pun dibagi rata. Mereka mengaku pekerjaan ini lebih santai dan hasilnya pun lebih besar dari pada kerja lainnya.

Seorang bekas penambang timah, Edi, mengaku, hampir setiap daerah penambangan timah mengandung emas. Ketika ia masih aktif bekerja, bisa dipastikan setiap haru selalu mendapat emas, walau jumlahnya tidak sama. “”Emas itu lebih berat dari pada timah. Dia ada bawah, warna kuning, seperti emas biasanya,” katanya.

Mencari timah adalah bagian utama usaha tambang itu, tetapi emas adalah sebuah harapan. Harga yang terpaut jauh dengan timah, selalu menggiurkan para pekerja untuk terus jeli melihat benda berwana kuning itu. Hal ini juga yang membuat sebagian masyarakat Dabo Singkep memilih mendulag emas ataupun ikut bekerja pada penambangan timah.

Hampir seabad timah di bumi Singkep dieksplorasi besar-besaran. Ekplorasi dengan kapal keruk itu dimulai 1910 oleh perusahaan Belanda. Awalnya mereka menyisir bagian laut, namun pada perkembangan selanjutnya, setelah menjadi PT Timah, eksplorasi dilakukan di darat. Sejak itu, Dabo tersohor dengan hasil timahnya yang melimpah. Hingga kini, bekas-bekas galian atau kolong itu masih tampak. Meski tidak banyak, kandungan alam itu masih memberikan secercah harapan bagi penghuninya. (Abd Rahman Mawazi)

NB: Tulisan ini pernah terbit di harian Tribun Batam pada 11 September 2012.

Monday, September 24, 2012

Penuba, Tertindih Memori Perjalanan Hidup ( 2-Habis )



BARAK - Gedung ini dulu digunakan sebagai kantor dan barak bagi pasukan Belanda.
Di gedung ini juga terdapat sebuah penjara.

Penuba tidaklah setenar Dabo-Singkep ataupun Daik Lingga. Sejarahnya tidak semudah dua tempat yang terakhir ketika kita menjelajahi mesin pencarian internet. Di dunia maya, Penuba terkenal dengan pelabuhannya, namun sebatas nama saja, tidak ada keterangan lebih lengkap. Penuba seperti tertindih oleh memori baru perjalanan hidup.

Kakek tua itu duduk santai pada ruang tamu di rumahnya dengan sebatang rokok. Ia seperti tidak menghirau panas yang menyengat di luar sana. Santai, tenang, dengan tatapan sayu. Dialah Kamis (87), bekas tentara bentukan Jepang atau heiho. Tiga tahun lamanya, ia pun sempat menjadi komandan regu.

“Diambil saja, bukan sengaja nak ikut. Semua yang muda-muda waktu itu disuruh ikut,” tuturnya mengisahkan peristiwa lalu kala ia masih berusia sekitar 17 tahun. Saat itu, tidak ada pilihan bagi pemuda. Jepang memaksa, melebihi paksaan orang-orang Belanda. Kala itu, 1942, Jepang sedang terlibat perang Pasifik dan berambisi menjadi imperial di Asia tenggara. Tak pelak, Kamis pun menjadi tentara dan harus meninggalkan Penuba. Jepang tidak menjadikan penuba sebagai pusat aktivitas, mereka lebih memilih di daerah yang kini disebut desa Selayar.

Ia bersama dengan puluhan pemuda lainnya di kirim ke kamp konsentrasi Jepang di Singapura. Di sana, mereka dilatih baris berbaris dan latihan perang. Setiap hari, latihan dan latihan saja yang dilakukan. Pagi hari, mereka memulai latihan dengan senam (taiso) sebelum sarapan. Waktu pun berlalu, hingga akhirnya mereka diantar kembali ke Penuba seiring kekalahan Jepang karena jatuhnya bom nuklir di Hirosima oleh tentara sekutu. “Pangkat saya ada satu,” katanya mengenang pangkat terakhir yang diterimanya.

Namun jauh sebelum Jepang memasuki Tanah Air, Belanda sudah menjadikan Penuba sebagai markas polisi dan tentara. Mereka adalah orang-orang Indonesia yang direkrut untuk menjadi polisi atau tentara oleh pemerintah Hindia Belanda. Meraka adalah penduduk dari luar Penuba yang disengaja didatangkan. Sedangkan warga Penuba dijadikan pembantu bagi tentara maupun polisi, termasuk juga kakek Jang (86).

PENJARA - Cela kecil pada pintu dibalik tumpukan tiplek itu adalah sel tahanan atau penjara yang digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda saat berkantor di Penuba

Tiga Pahlawan
Menurut Jang, tidak semua tentara Penuba itu mengikuti begitu saja kebijakan-kebijakan Belanda. Hal itu terbukti dengan tewasnya Sersan Kilak. Kabar yang beredar di Penuba, Serma Kilak yang berasal dari Indonesia bagian timur di ditembak oleh polisi Belanda. Ia dilumpuhkan karena hendak berebut senjata.

“Ditembak di depan kantor bea cukai dekat pelabuhan,” ujar Jang. Ia tidak begitu mengingat apa penyebab penembakan itu. Namun, dari kabar yang beradar, ia berebut senjata dan hendak meninggalkan Penuba sehingga dianggap sebagai pembangkang.

Kilak adalah satu di antara tiga orang yang disebut sebagai pahlawan kemerdekaan. Masyarakat Penuba juga menyebut nama dr Sumitr dan Arbain. Tidak ada kabar yang jelas perihal dua orang yang terakhir ini. Namun, ketika jasadnya sudah dipindahkan ke makam pahlawan di Dabo Singkep. Ada kabar, kerangka dr. Sumitro sudah dibawa keluarga ke Jawa.

“Tidak ada yang tahu. Tapi masyarakat menyebut mereka pahlawan,” kata Rais, tokoh masyarakat setempat yang menunjukan bekas makam ketiganya. Cerita heroic ketika pun terputus, tidak ada tetua di kampung itu yang meingat bagaimana peranan ketiga. Tetapi mereka ditengarai hidup semasa perjuangan kemerdekaan.

RUMAH TUA - Bangunan ini adalah peninggalan pemerintah Hindia Belanda.
Kini, terdapat dua bangunan yang masih tersisa namun tidak lagi terawat.

Sejauh Memandang
Seram. Itulah kesan dari bangunan tua itu. Masyarakat tidak banyak menyambangi benteng pemantauan itu sejak kejadian bunuh diri beberapa tahun silam. Mereka takut. Dari bukit itu, aktivitas pelayaran laut bisa dipantau. Termasuk juga kepal-kapal yang hendak berlabuh di pelabuhan Tanjung Buton di Daik Lingga.

Ketika masa konfrontasi (1962-1966), Penuba menjadi bagian konsentrasi pertahanan. Di sanalah pasukan askar bela negara juga berkumpul. Mereka bukanlah tentara TNI. Mereka militer tidak resmi, yakni warga sipil yang sedang semangat membara hendak melawan Malaysia. Mereka inilah yang ditakui oleh Malaysia hingga membakar lambang dan simbol-simbol Indonesia di KBRI Kuala Lumpur sebagai aksi protes.

Di penuba inilah pasukan TNI AL memainkan peranannya. Kapal-kapal mereka silih berganti bersandar di pelabuhan yang teduh itu. Bahkan, benteng pemantauan yang tidak jauh dari barak tentara Belanda itu sengaja dibangun oleh TNI AL. “Itu peninggalan TNI AL masa konfrontasi. Sekarang terbengkalai. Orang tak berani,” tutur Rais lagi.

Ketika menajaki bukit itu, maka akan tampak seisi pulau Selayar. Gunung Daik yang terkenal itu tampak begitu jelas, apalagi kala cuaca cerah. Di gedung bekas itu, kata Rais, kita boleh melihat sejauh memandang. Sayang, ia terbengkalai. Tak terurus. “Besi masih bagus-bagus. Ini butuh perhatian dari pemerintah,” ucap kepala desa Penuba, Dwi Abdi. (Abd Rahman Mawazi)

NB: Tulisan ini pernah terbit bersambung di harian Tribun Batam pada 15-19 September 2012.

Penuba, Ibu Kota Yang Terlupakan (1)

MESS - Bangunan yang kini bernama Mess itu, pada masa Belanda adalah rumah candu.


“Penuba; Terpencil namun tidak tercecer”. Tulisan itu tampak jelas di antara ilalang yang mulai tinggi di depan sebuah bangunan peninggalan Belanda yang berada lebih tinggi dari jalan raya di desa Penuba, pulau Selayar. Tulisan itu seakan memiliki makna tersirat; tentang sejarah dan harapan masyarakatnya. 

Beberapa orang tampak duduk santai di bawah pohon asam setelah keluar dari area pelabuhan Penuba. Mereka tampak bercengkrama ringan menikmati semilir angin di siang itu. Sekilas, pohon asam yang bejejer di pinggiran jalan itu mengingatkan pada jalan raya di pulau Jawa yang dibangun oleh Jendral Herman Willem Daendels pada 1800-an, kini dikenal dengan jalur pantura.

“Inilah Penuba,” kata Rais, tokoh masyarakat setempat ketika bertemu dengan Tribun beberapa waktu lalu di warung kopi sebuah ruko. Rumah toko (ruko) dari kayu berjejer rapi di sepanjang jalan di depan lapangan merdeka. Kondisinya jauh berbeda dengan ruko-ruko yang ada di Batam atapun di Tanjungpinang.

Di harapan ruko itu, rumah papan berarsitektur kuno itu menarik pemandangan siapapun yang datang ke sana. Ia disebut “mess”, yang kini berfungsi sebagai penginapan sederhana bagi wisatawan. Tepat di bawah pagar itu pula tulisan di atas tersusun rapi berwarna hitam putih. Mess dan kantor desa di sebelahnya adalah bagian dari peninggalan Belanda. Itulah peninggalan Belanda yang pertama bisa dijumpai ketika tiba di sana.

“Mess itu dulunya rumah candu,” kata kepala desa Penuba, Dwi Abdi. Sedangkan kantor desa dulunya adalah kantor bea cukai. Menyusuri jalan di bagian barat, tedapat dua rumah dinas pejabat Belanda. Rumah itu menghadap ke pulau Singkep. Di belakangnya terdapat bangunan memanjang yang di tengahnya juga tedapat sebuah penjara, tepatnya di lokasi SMPN 4 Lingga. Masyarakat di sana mengenal area sekolah itu sebagai barak dan basis pertahanan.

Penuba, yang dulunya hanya sebuah kampung kecil (kini dikenal Penuba Lama) berkembang pesat ketika Belanda menjadikannya sebagai pusat perkantoran dan administrasi. Belanda mulai memasuki Penuba pada awal abad ke-19 seiring ekspansi pencarian biji timah di laut Singkep. Dalam Lembaran Negara Pemerintah Hindia Belanda Nomor 66 Tahun 1922, yang juga pernah diubah pada lembaran Nomor 201 Tahun 1924 disebutkan, Penuba adalah pusat pemerintahan setingkat kecamatan atau dikenal dengan Onder Afdeling dipimpin oleh seorang controleur yang mencakup wilayah Lingga, Singkep, dan pulau-pulau lain di sekitarnya.

Satu nama seorang controleur yang masih diingat oleh Jang (86) yakni Kapten Sunday. “Kalau marah bilangnya, “godverdomme”. Bisalah sikit-sikit bahasa Indonesia,” ujarnya mengenang ketika ditemui di serambi rumahnya. Itu adalah basaha umpatan dalam bahasa Belanda. Saat itu, Jang muda adalah bagian dari bagian tentara rekrutan Belanda yang selalu mengikuti perintah si Kapten. Suatu waktu, ia pun pernah di perintahkan untuk ke Kijang, Singapura, dan kembali lagi ke Penuba.

PELABUHAN - Inilah pelabuhan Penuba yang dulunya melayani perdagangan international

Selat yang Teduh
Selat Penuba adalah selat yang teduh. Ia berharapan dengan pulau Lipan yang menghambat derasnya gelombang dan arus dari selatan. Sedangkan di bagian barat selat itu adalah pulau Singkep yang berjarak hanya sekitar 15 menit dari pelabuhan Jagoh, Singkep. Sebab itulah, air di selat penuba ini tenang dan menjadi tempatan tambatan kapal yang paling bagus.

Dahulu, pelayaran menuju Tanjungpinang maupun ke dunia internasional dilayani dari pelabuhan Penuba. Sebab itulah Penuba masuk dalam catatan pelayaran dan pelabuhan international, sama halnya dengan pulau Sambu di kota Batam. Hasil rempah-rempah maupun tambang diekspor ke Singapura melalui pelabuhan ini.

Namun, riauh perkotaan itu mulai meredup seiring dengan perpindaan beberapa staf Belanda ke Dabo Singkep. Kala itu, pemerintahan Belanda sedang mengejar timah yang terkandung dalam bumi Singkep. “Patung (singa) yang di Dabo itu dari sini. Dipindah tahun 1939,” kata Jang. Patung itu adalah bukti yang kini masih bisa lihat di depan kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil).

Kandungan timah di Singkep, lambat laun meredupkan Penuba. Orang berbondong-bondong diangkut untuk dipekerjakan di Dabo. Mereka dipaska membangun kota baru. Beberapa kali, Penuba menjadi markas militer, termasuk markas komando diera konfrontasi Indonesia dan Malaysia. Namun, nama penuba redup begitu saja, bagaikan ibu kota yang dilupakan. Ia menjadi teduh, seteduh selat Penuba

“Sayangnya, bangunan peninggalan Belanda di sini kurang mendapat perhatian dari pemkab. Ini adalah cagar budaya yang bisa memiliki nilai jual untuk pariwisata juga,” keluh kepala Desa Penuba, Dwi Abdi.

Pada Mei 2012 lalu, Pemkab dan DPRD Lingga telah menetapkan pulau Selayar menjadi satu kecamatan. Kelak, mungkin saja, Penuba akan kembali lebih hidup, melebihi masa onder afdeling, setelah aktif menjadi ibu kota kecamatan baru seperti pada sebuah tulisan di dinding pagar Mess itu. (abd rahman mawazi)

NB: Tulisan ini pernah terbit bersambung di harian Tribun Batam pada !5-19 September 2012.
Baca juga Penuba, Tertindih Memori Perjalanan Hidup ( 2-Habis )

Saturday, September 22, 2012

Warga Senempek Lingga Ambil Air Sejauh 3 KM



Kemarau sejak dua bulan terakhir melanda Kabupaten Lingga hingga sebagian warga kesulitan mencari air bersih. Warga pun antre guna mendapatkan air untuk keperluan MCK walau sudah harus menempuh jarak 3 kilometer menuju sumber air. Sudah begitu, airnya pun warna kekuning-kuningan. 


"Sudah dari dulu lah kami begini. Airnya pun bukan bagus, warnanya kuning macam inilah,” kata Nur, ibu rumah tangga yang berjalan kaki menuju sebuah perigi, Rabu (19/9). Sumur dengan kedalaman 4 meter itu tidak banyak airnya. Ia bersama dengan Aina pergi untuk mencuci.



Jauh dari lokasi Nur, sebuah kubangan air yang berjarak tiga kilometer pun menjadi tempat favorit warga. Itu adalah lokasi terdekat dengan debit air yang lebih banyak. Di sana, mereka mandi, mencuci dan mengambil air untuk keperluan di rumah. 



Menurut ketua RW 04, Razikin, mereka yang memiliki kendaraan sajalah yang datang ke lokasi itu. Sedangkan yang tidak punya kendaraan, terpaksa harus membeli.



“Ada yang tukang angkut. Satu jeriken 25 liter seharga Rp 5 ribu. Itu airnya tidak bisa untuk minum. Kalau air minum ambilnya dekat sana lagi. Ada yang juga ambil dekat sekolah (SMP 3 Satu Atap Lingga Utara),” terang Razikin. Dari pantauan Tribun, air untuk minum itu pun masih berwarna kekuningan.



Kepala Desa Limbung, Andi Muliya, mengatakan pada 2008 ada pembangunan penampungan air untuk minum, tetapi saat ini tidak lagi berfungsi karena debit air maupun sumber air kurang bagus. Tahun ini, ada kabar gembira untuk rencana pembangunan parigi, tetapi rencana itu gagal seiring defisit anggaran di pemerintahan kabupaten Lingga.



“Saya dapat kabar pembanguan itu gagal. Kami kecewa, kami butuh air bersih. Karena defisit dipangkas,” katanya Andy. Ia pun berharap pemerintah perhatian dengan daerahnya itu.



Di Senempek terdapat 180 kepala keluarga (KK) dengan sekitar 400 jiwa. Mereka selama ini harus berjuang untuk mendapatkan air. Tidak jarang juga mereka harus mengambil ke daerah lain menggunakan sampan. Warga kecewa dengan janji-janji politik yang tidak kunjung terealisasi.




  “Coba kita lihat 2013 (menjelang pemilu), pasti banyak yang iya-iya (mau membantu masyarakat). Kami ini butuh air bersih,” ujarnya ketua RW 05, Izhar, dengan nada kecewa terhadap janji-janji politisi dan pejabat pemerintahan. (tribunnewsbatam.com)

Asyiknya Menulis Resensi Buku


Berbagi cerita, bukan bermaksud ingin menyeniorkan diri, melainkan mempercepat transformasi pengetahuan. Ya… itulah maksud dari tulisan yang saya buat di Sahabatmuda.net ini, yakni perihal asyiknya menulis sebuah resensi buku.
Resensi buku tak ubahnya menulis rangkuman mata pelajaran layaknya zaman saya sekolah dulu. Kalau sekarang, banyak siswa hanya bermodal mengisi lembar kerja siswa (LKS) atau sejenisnya karena yang tersaji dalam LKS merupakan sebuah rangkuman dari buku ajar yang tebal.
Menulis resensi buku ialah tulisan yang menyajian pesan dalam sebuah buku menjadi sebuah ringkasan yang mampu menggugah pembaca untuk mengetahui isi buku.  Resensi buku bertujuan untuk memudahkan pecinta buku dalam menentukan pilihan referensi bacaan yang sesuai dengan seleranya.
Apa keuntungan meresensi buku?
  1. Penulis bisa mendapatkan pengetahuan yang terkandung dalam buku tersebut, baik secara teoritis, sajian data, maupun lainnya karena peresensi dituntut memahami secara utuh isi buku tersebut. Artinya, perensensi harus membaca buku itu.
  2. Mempercepat transformasi pengetahuan kepada orang lain (pembaca). Pembaca resensi akan mendapatkan infomasi penting yang disajikan buku. Hal ini biasanya akan menjadi referensi pembaca untuk membeli atau tidak buku yang diresensi.
  3. Jika tulisan tersebut dimuat di media massa, tulisan akan dibaca orang lebih banyak. Tidak sedikit pula media yang memberikan honor kepada peresensi. Artinya, peresensi bisa mendapatkan uang juga.
  4. Biasanya, untuk setiap resensi buku yang dimuat di surat kabar, penerbit akan memberikan dua buku secara gratis. Dengan begitu, koleksi buku kita akan bertambah banyak dan tentunya juga bisa kita gunakan sendiri untuk menambah pengetahuan dan juga bisa kita pinjamkan kepada orang lain.
  5. Jika buku yang diresensi adalah novel, maka akan menambah perbendaharaan bahasa. Biasanya, dengan membaca novel kita akan menemukan banyak padanan kata yang bisa membuat tulisan menjadi berirama. Dengnan sendirinya, dalam komunikasi verbal pun, kita tidak akan kesulitan dalam memilih kosa kata.
Bagi pembaca buku dan ingin memulai menulis, maka meresensi buku merupakan cara mudah yang paling tepat. Setidaknya itu menurut saya. Maka, buatlah catatan kecil, atau tandai setiap halaman buku yang dianggap menarik lalu, jadikan setiap yang kita tandai itu sebagai bahan untuk menuangkannya dalam sebuah resensi.
Apabila telah menjadi satu tulisan utuh, jangan segan untuk menampilkannya pada blog pribadi ataupun mengirimkan ke media lain (termasuk ke Sahabatmuda.net). Yang perlu diingat ialah jangan menulis terlalu panjang (sekitar 3500 karakter) dan jangan terlalu menyibukan diri dalam memilih diksi (pilihan kata yang digunakan), pilih saja kata yang dianggap sesuai.
Meresensi buku bukanlah harus memuji, melainkan juga bisa mengkritik, membandingkan dengan buku lainnya. Tidak pula penilaian terhadap buku, tetapi penilaian kepada penulisnya melalui buku tersbut. Misalnya, “Buku ini tidaklah jauh berbeda dengan gagasan para pakar sebelumnya. Hal baru dari buku ini hanya sebatas obyek penulisannya saja”.