Snorkeling di Pulau Petong, Mengapa Tidak? (1)

Pulau Petong ini berada di sisi selatan Batam. Lebih kurang perjalanan satu setengah jam dari titik keberangkatan kami di Kepri Mall hingga sampai di jembatan enam. Tentu saja, kita akan melewati jambatan satu Barelang yang telah menjadi ikon Batam.

Rasakan Sejuk Air Gunung Daik di Resun

Air terjun Resun, begitu nama yang dilebelkan untuk air terjun yang terletak di desa Resun itu. Airnya mengalir dari pengunungan di tanah Lingga. Air terjun Resun ialah satu di antara sekian banyak aliran air terjun dari gunung Daik.

Kampung Boyan di Dabo Singkep

Para perantau ini seringkali meninggalkan jejak berupa nama kampung, yakni Kampung Boyan. Nah, itulah yang menjadi pijakan, tradisi rantau warga Bawean memiliki jejak, baik berupa nama maupun tradisi. Di Dabo Singkep, terdapat juga sebuah kampung bernama Kampung Boyan.

Menikmati Keindahan Masjid Agung Natuna

Masjid ini memang megah. Bahkan termegah yang ada di Kepri. Sebab itu, masjid ini selalu terlihat sangat cantik dari berbagai sisinya. Anda bisa mencari berbagai foto menarik masjid ini di internet. Saya sungguh kagum.

Puasa dan Pembebasan Sosial

Puasa mempunyai konteks tanggungjawab pribadi dan juga tanggungjawab sosial. Karenanya, dalam berpuasa, disamping mewujudkan kesalehan vertikal kepada Allah, juga untuk mewujudkan kesalehan herisontal kepada sesama manusia dan mahluk Allah.

Friday, August 11, 2017

Aku Ingin Balik Kampung Saja

Aku saat berusia sembilan tahun ketika di kampung 

Saya tersentak ketika seorang teman mengaku sudah jenuh dengan aktivitasnya di kota berkategori metropolis ataupun metropolitan. Ia mengaku ingin hidup di kota kecil di kampung, yang bukan termasuk metropolitan. Alasannya, selama berada di kota metropolis itu, ia merasakan kekurangan dalam hal spiritualitas. Sebab, selama ini ia hidup di lingkungan perkampungan yang kental dengan tradisi bersarung, berkegiatan sosial dan kekeluargaan, serta bercengkrama santai di sudut-sudut kampung.
Saya pun tersentak mendengarnya. Kota metropolis seperti Batam dan Jakarta, kata dia, memang talah membuatnya hanya disibukkan dengan pekerjaan dan pencarian materi. Memang, ada waktu untuk berkumpul bersosialisasi dengan tetangga ataupun masyarakat dan  ada waktu untuk beribadah. Namun, itu semua masih dirasa kurang dalam hal spiritualitas dan pengabdian sosial. Di kota, kata dia lagi, pengabdian sosial pun masih dalam perhitungan materi. “Ujung-ujungnya, kita sibuk dengan materi,” kata dia menegaskan. “Aku ingin balik kampung saja,” kata dia lagi.
Pernyataan itu sempat mengganggu pikiranku. Sekilas terbanyang perihal kehidupan masyarakat di kampung halaman orang tua, di Pulau Bawean, dengan rutinitas masyarakat kebanyakan sebagai petani, nelayan, buruh, dan sebagian karyawan atau pegawai. Terbayang pula dengan kehidupan yang lepas dari hingar bingar kendaraan dan kemacetan pada saat jam sibuk. Ah... sudahlah. Itu hanya sebuah banyangan karena sayapun hanya numpang lahir saja di sana.
Yang sedikit mengusik pikiran saya. Apa yang diutarakan oleh teman itu, bersamaan pula dengan fenomena pulang kampung di Batam. Yang ini alasannya berbeda. Bukan karena alasan spiritualitas dan pengabdian sosial, tetapi karena kelesuan ekonomi.  Mereka menilai Batam tidak lagi seperti dulu: cari kerja susah dan kebutuhan masih tetap tinggi. Nah, kalau ini alasannya ialah alasan materialis.
Di Batam ini, dulunya, penduduknya terbilang nyaman. Keluar masuk atau berpindah-pindah tempat kerja gampang saja karena tingkat kebutuhan tenaga kerja begitu tinggi. Bosan menjadi operator di sebuah perusahaan elektronik, bisa berhenti dan menjadi pramuniaga di toko-toko dalam mal. Bahkan, ketika bosan bekerja pada orang atau perusahaan lain, bisa menjadi tukang ojek, yang penghasilannya pun lumayan. Itu dulu, sekitar 1990-an hingga 2000-an awal.  Kala itu, orang berbondong datang ke Batam untuk mengadukan nasib bidang perekonomiannya.  Sebab itu, mungkin bisa disebutkan kini 80 persen penduduk di Batam saat ini adalah pendatang dari berbagai penjuru daerah. Saya punya kawan dari suku Batak, Jawa, Padang, dan ada juga yang campuran.
zaman dulu belum musim selfie

Anak perantau
Merantau ke kota, apalagi kota dengan kategori metropolitan, sering kali menjadi impian banyak orang dengan harapan bisa menambah pundi-pundi kekayaan.  Sukses di perantauan memang kerap diukur dengan seberapa nilai kekayaan yang dimiliki ataupun sebarapa banyak mampu mengirim ke kampung halaman. Daya pikat kota dengan angan-angan atau impian bisa “memperbaiki nasib” itu telah berhasil menciptakan urbanisasi besar-besarn era modern ini. Perihal filosofi dari tradisi perantauan ini memang berbeda. Silahkan saja baca buku-buku sejarah perantauan atau diaspora suku bangsa di Indonesia dan buku antropologi.
Proses kehidupan di metropolitan telah melahirkan persilangan: silang budaya, silang ketuturan, dan lainnya. Nah, ketika memasuki generasi pertama, maka lahirlah identitas kebudayaan dan ketuturan yang baru. Gampangnya, misalnya, orang tua saya kelahiran Jawa Timur, saya kelahiran Batam. Kemudian ketika ditanya, “kamu orang mana?” saat menjawab Batam. Kecendrungan akan ditanyakan lagi, “asli Batam?” disitulah kegalauan akan muncul. Orang tua yang Jawa masih mewariskan kejawaannya dalam keluarga. Tetapi kelahiran telah memperjelas identitas awalnya. Sama saja bingungnya, ketika si peranakan rantau ditanyaka, “kampungnya di mana?” Nak jawab apa, coba? (Sekarang, bagaimana perasaan kalian bila itu terjadi? Silahkan tuliskan di kolom komentar saja ya..?)
Atau bisa saja, lahirnya di kampung halaman, tetapi justru tidak pernah hidup lama di kampungnya. Teman pun tak punya di sana. Nah, bagaimana mengidentifikasi diri? Entahlah.... biasanya hal seperti itu diselesaikan secara “adat” alias disesuaikan konteks saja. (kalau pembaca punya pendapat, silahkan tuliskan di kolom komentar saja)
Kembali pada cerita teman yang ingin balik ke kampung halamannya. Kehidupan kota yang membuatnya terlalu sibuk dengan pertimbangan materi itu, memang sudah banyak dibahas oleh teoritikus. Dan gejala kehausan spiritualisme sudah banyak terjadi di kota-kota metropolitas seluruh dunia. Bahkan, masyarakat negara maju pun sudah berupaya memilih kembali ke kehidupan natural, kembali pada pengisian spirititualisme dalam diri. Tidak sedikit pula yang memilih liburan ke daerah pelosok sekadar me-refreshing diri. Jika temanku itu memilih untuk pulang kampung, maka kuucapkan untuk selamat beradaptasi kembali di kampungmu. Terima kasih.



Sunday, August 6, 2017

Sepandangan murid SD O24 Sei Panas dari Bilik Kios (Reuni SD-habis)


Beberapa hari ini kuperhatikan anak-anak sekolah dasar (SD) pulang lewat depan di depan Kios F21 Mobile. Pada hari tertentu, kulihat seragam mereka berbeda-beda. Itu artinya, mereka tidak satu sekolah. Ada kemungkinan mereka tinggal berdekatan, tetapi sekolah di SD yang berbeda. Setiap siang, selalu saja terlihat silih berganti rombongan anak SD itu lewat. Padahal di pagi hari, jarang saya lihat mereka berangkat bersama.
Dulu, yang kualami seperti itu juga ketika masih duduk di bangku SD 024 Seipanas. Berangkat seorang diri, tetapi pulangnya bersama-sama dengan teman yang lain. Tampaknya, di antara mereka itu ada juga yang merupakan siswa dari SD 024. Setidaknya itu yang kutengarai dari warna seragam olah raganya, putih dan kemerahan. Sedangkan baju batiknya, warna jingga.
Perjalanan itu masih serupa. Dulu, kios tak bernama dan berjualan camilan saja. Tidak sedikit juga teman-teman yang masih memiliki sisa uang jajan berbelanja di kois ini. Kini, kios itu kuberi nama Kios F21 Mobile sebagai tempat jualan paket internet murah.  Dan dari balik kios itu pulalah terbayang olehku masa-masa SD dulu. Yang tak kalah penting lagi yakni seorang guru kami, wali kelas ketika di kelas enam.
Saya yakin, setiap orang memiliki memori tersendiri dengan masa kanak-kanaknya. Mungkin kita sudah sukses menjadi seorang penulis, pengusaha, pejabat, karyawan di perusahaan top ataupun profesi lainnya. Tepi memori masa lalu itu akan tetap terkenang pada momentum tertentu.

Pesan Ketika Dewasa
Ketika reuni itu digelar, guru kami itu memang sungguh membangkitkan memori masa lalu. Setidaknya itu untukku. Entahlah bagi teman-teman yang lain. Sebagian dari pada itu telah kutiliskan pada tulisan pertama reuni dengan judul ......... Silahkan baca lagi yaa
Kali ini saya tidak hendak bernostalgia terlalu dengan masa di masa SD itu. Di bagian akhir tulisan ini, saya hendak menuliskan beberapa pesan dari guru kami. Itu adalah petuah yang, menurut saya, wajib “diabadikan” dengan tulisan. Niatan ini dilandasi dari petuah yang berbunyi, “ikatlah ilmu dengan tulisan.”
Ibu Henny memberikan tiga poin petuah. (Siapa di antara teman-teman yang masih ingat dengan petuah beliau itu?) Setidaknya itu yang masih terekam dalam memoriku hingga tulisan ini dibuat.
Pertama, berbakati pada orang tua. Kami sudah menjadi orang tua. Tetapi Bu Henny tetap berbepesan agar kami tetap berbakti pada orang tau. Ia berpesan demikian justru karena kami telah menjadi orang tua. Menurut beliau, orang tua itu sangat membutuhkan kasih perhatian dari anak-anaknya. Justru kami yang sudah menjadi orang tua, bisa merasakan bagaimana mengasuh anak-anak; saat rewel, saat meminta sesuatu, saat tidak mempedulikan nasihat dan teguran kita, serta lain sebagainya. Begitulah yang dirasakan oleh orang tua ketika sudah renta. Dan saat itulah berbakti kepadanya menjadi nilai lebih menyejukan hati orangtua.
Kedua, jangan tinggalkan salat. Bagi Bu Henny, perintah salat dalam agama itu penting. Ia tidak peduli dengan aliran atau mazhab apa yang dianut. Namun, salat merupakan tiang agama yang harus terus ditegakan. Kita, kata beliau, tidak bisa hanya mengejar materi sebab tidak bisa dibawa mati. Pada saat reuni digelar, Bu Henny sendiri sedang melaksanakan puasa sunnah di bulan Syawal.
Dan yang ketiga, pererat silaturahmi. Bu Henny memuji kami yang masih menyempatkan diri untuk bisa bersilaturahmi. Bahkan, beliau mengaku selalu berupaya hadir dalam setiap undangan silaturahmi yang digelar murid-muridnya, dari semua angkatan, dari berbagai sekolah tempat ia pernah mengajar. Karena dalam silaturahmi, kata beliau, akan mengenal mempererat hubungan satu sama lainnya. Bisa saling membantu, saling meringankan, saling berbagi informasi, dan sebagainya.
Itulah petuah penting Bu Henny yang masih terekam dalam memoriku. Pesan yang disampaikan kepada kami ketika kami telah dewasa secara umur. Sedangkan petuah dan pesannya ketika kami masih dibangku SD, telah tertindih memori baru. Itulah keterbatasan sebagai manusia. Namun bisa jadi, satu di antara petuahnyalah yang telah memberikan motivasi lebih pada kita hingga hari ini. Mungkin tanpa kita sadari.
Sebagai catatan tambaha, beliau juga berpesan agar mendidik anak dengan baik. Sebab, zaman sekarang ini tantangannnya lebih beragam, khususnya di era digital. Lingkungan, kata beliau, sangat mempengaruhi pertumbuhan anak. Dan tidak sedikit anak-anak menjadi korban kekerasakan ataupun tidak kriminal. Tidak sedikit pula anak-anak yang terlibat menjadi pelakunya.

Inilah catatan dari bilik kiosku, kios tempat menuliskan naskah ini. Kios ini pula menjadi tempat aktifitas harian dalam menjalan beberapa usaha yang kulakukan selain bekerja sebagai jurnalis. 

Saturday, July 22, 2017

Tips Internet Lancar di Semua Operator dan HP Apapun

inilah tempat jual kartu internet murah di Batam

Ponsel sudah smartphone tetapi kadang akses internetnya lelet minta ampun. Di era digital, akses lambat itu adalah suatu kemunduran. Mungkin sama halnya dengan orang yang menolak digitalisasi karena ketakutannya akan suatu perubahan.
Nah, saya yakin semua pemilik smartphone pernah mengalami akses lelet. Dahulu, ketika GPRS ditemukan, produk ponsel pun bermetamorfosa. Dari hanya sekadar bertelepon dan pesan singkat, menjadi pesan gambar dan berwarna. Ketika teknologi 3G ditemukan, smartphone pun datang lebih canggih lagi; dibekali dengan video call. Dan sekarang, saat jaringan sudah 4G (konon di belahan dunia lainnya sudah ada yang 5G) smartphone betul-betul telah menjadi pilihan utama untuk berbagai akses.
Karena banyaknya ketergantungan pada smartphone, tidak sedikit sangat keranjingan dengannya. Sehingga, kendala sedikit pada smartphone itu, akan membuat dia seperti kehilangan sesuatu yang berharga. Mungkin kamu pernah dengar istilah yang pas untuk orang yang sudah “kecanduan” dengan ponsel, namun ketika sinyal tidak stabil atau bahkan hilang, ia membuang atau membanting ponsel. Saye lupa istilahnya. (Tolong bantu tulis di kolom komentar bagi yang tahu).
Begini, masih banyak yang tidak tahu bahwa ada beberapa syarat untuk bisa mengakses internet cepat dan stabil pada smartphone. Setelah saya himpun, menurut saya memang tiga hal ini patut untuk diperhatikan. Mengapa saya ingin berbagi tentang ketiga hal ini? Karena beberapa konsumen di Kios F21Batam—yang jalan kuota termurah—ada yang tidak paham perihal pentingnya tiga hal ini, sebab ia harus utuh. Tidak bisa hanya tersedia satu bagian saja.
1. Jaringan. Pastikan jaringan di lokasi benar-benar sudah stabil untuk layanan data. Khususnya 4G. Karena belum semua area di Batam sudah terjangkau jaringan 4G. Okelah. Jika ada operator mengklaim jaringan 4G-nya tersebar luas di Batam, hal itu harus Anda buktikan sendiri. Tidak sedikit titik blankspot yang ada di Batam. Jaringan 4G itu yang paling kuat di Nagoya dan Jodoh karena pusat bisnis atau di Batam Centre karena pusat pemerintahan.
2. Ponsel yang kita pakai. Ponsel kadang lambat banget karena aplikasi yang padat sehingga kinerjanya lelet. Jangan lah terlalu banyak menginstal aplikasi di HP mu. Keduanya, jikalau ponselmu masih 3G, jangan pula dipaksa untuk 4G. Hingga kini, belum ada yang bisa mengupgrade smartphone yang dari pabriknya dibuat 3G menjadi berjaringan 4G. Kalau pun ada, biasanya itu hanya duplikasi saja. Artinya, sinyalnya tidak riil diterima ponsel.

3. Pilihan paket. Ada beberapa operator yang membatasi kecepatan akses karena paket yang kita beli. Saat ini, yang paling untung adalah pemilik HP berteknologi 4G. Banyak operator memberikan bonus kuota besar untuk mengganti kartunya dari simCARD ke uSIM. uSIM adalah kartu yang diciptakan mampu untuk menangkap sinyal 4G. Jika Anda masih menggunakan kartu dengan ukuran normal, berarti kemungkinan itu kartu itu tidak bisa digunakan untuk 4G. Soal paketnya, ada banyak pilihan dari operator.

Ketika ketiganya telah menjadi satu atau tersedia di tempat Anda mengakes internet dari HP, maka akan lancar jaya. Maka dari itu, perlu kiranya kita memahami tiga hal itu untuk menjadi acuan. 

Saturday, July 15, 2017

Sebuah Kisah dari Strategi Marketing Jengkol Dabo

Ternyata jenis jengkolnya yang bulat dan montok

Ini sih kata kuncinya jengkol. Sering pula dipelesetkan dengan sebutan jengki. Ini adalah buah fenomenal. Memiliki aroma yang khas dan banyak peminatnya. Jenis masakan olahannya pun cukup beragam. Olahan jengkol ini paling mudah ditemukan di rumah makan Padang. Namun, apakah hanya orang Padang saja peminatnya? Tentu tidak. Kata seorang kawan, orang Batak juga banyak yang doyan jengkol. Hingga akhinya aku berkesimpulan, jengkol bisa diterima bagi penyukanya.
Jengkol. Inilah buah yang menjadi pioner dari sebuah peluang usaha yang telah kudambakan sejak masih tugas di pulau yang bernama Singkep, Kabupaten Lingga. Jumat (14/7) lalu, dua karung atau satu kuintal lebih jengkol kuterima dari Dabo Singkep. Alhamdulillah.... dengan senang kulihat dua karung itu turun dari truk yang membawanya. Tapi juga plus bingung karena belum jelas pasarnya. Ya, yang namanya usaha itu harus dengan memperhitangkan untung rugi dong.
Begitu sampai dan dipromisikan melalui media sosial, langsung ada yang merespon dan memesan. Pembeli pertama adalah kawan ini. “Sip... pecah telor sudah,” kata ku begitu selesai menimbang empat kilogram untuk dia. Dan penjualan seterusnya cukup lancar hingga hari kedua barang sudah ludes. Tentu ini juga berkat dukungan dari teman-temandekat juga.
Bagaimana strateginya? Ini sih gampang-gampang susah menuliskannya. Dalam berdagang, kita tak bisa diam ataupun pasif. Harus aktif. Di pasar, sekalipun banyak pedagang dengan barang jualan yang sama, terkadang mereka juga memanggil calon kunsumen. Lalu menyakinkan agar sudi berbelanja. Artinya, tetap butuh pemasaran.
Di dua onlie saat ini, ada banyak hal bisa dilakukan dalam strategi marekting. Banyak sekali tips yang beradar di dunia maya. Tentu sebagai kiat-kiat untuk meningkatkan penjualan. Jualan apa saja memang bisa dilakukan di sana. Seperti jualan bunga, jasa karikatur, ataupun jualan kartu internet.  Satu di antarnya kiat yang sering disebutkan oleh para motivator itu ialah memanfaatkan orang terdekat; bisa kakak atau adik, teman, sejawat, mitra kerja, dan lain sebagainya.
Pola itu pula yang kupakai dalam tahap awal menjual jengkol ini. Mula-mula, woro-woro perihal jengkol itu kusampaikan kepada teman-teman SD yang tergabung dalam grup Messenger, lalu teman-teman kerja di grup Whatsapp. Dan ketika barang datang, lantas kufoto dan kuunggak forum jual beli yang tersebar di Facebook. Dan, kedatangan pertama jengkol Dabo Singkep ini disambut baik. Bahkan, sudah ada pedagang pasar di Bengkong yang bersedia menampung. Kalau rezeki memang tak ke mana.
Hasil dari jualan jengkol Dabo Singkep
Mungkin beberapa teman tidak yakin dengan apa yang saya lakukan, akhinya saya membuat video siaran langsung di Facebook. Video itu hanya untuk menegaskan bahwa saya jualan jengkol. Dan kehadiran video itu untuk mengaskan jenis dan kualitas jengkol yang saja jual. Inilah jengkol montok asal Dabo Singkep.

Wujud Sebuah Impian
Sudah lama memang saya ingin mengoneksikan antara Dabo dan Batam melalui usaha perdagangan. Dulu, dan dulu sekali, sejak kapal roro melayani pelayaran Dabo-Batam, saya sudah mendambakan bisa melakukan perdagangan itu. Saya terterik untuk buah-buahan dan sayuran yang sekiranya bisa tahan dalam dua taupun tiga hari.
Peluang itu saya tangkap ketika melihat potensi di Dabo yang masih sangat mungkin untuk dijadikan sentra buah-buahan, palawija dan sayur mayur. Walaupun tanah Singkep tidak seperti tanah di Jawa, tetapi menurut seorang teman yang juga petani, tanah di Singkep masih bisa olah. Atau, kata dia, tanamannya bisa disesuaikan dengan kondisi tanah.
Dulu, saya pernah mencoba untuk menanam tomat jenis yang kecil. Ternyata tumbuh subur dan hasilnya melebihi dari modal yang dikeluarkan. Itulah peluang yang bisa tampak dan kemudian saya impikan. Komunikasi dengan teman di sana terus berjalan. Cita-cita itu pun tidak pernah padam. Hingga akhirnya bisa terwujud untuk pertama kalinya melalui jengkol ini. Dan sebentar lagi, akan dicoba juga untuk hasil pertanian lainnya. Tetap semangat. Tetap baca peluang. Saya yakin, pintu rezeki itu selalu terbuka bagi orang yang berikhtiar.

Saturday, July 8, 2017

Kami, yang Dulunya Sekolah di SD 024 Sei Panas (Reuni SD-1)

Dahulu, kami anak-anak ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) saat bertemu beliau. Kini, kami telah membawa anak bersua kembali dengan beliau. Dialah satu di antara guru kami ketika masih berseragam putih merah di SD 024 Sei Panas (kini namanya berubah). Dia satu di antara guru kami yang memiliki waktu hadir dalam acara silaturahmi teman-teman SD ku di Batam. Namanya Heni (maaf lupa nama lengkapnya).

entah foto milik siapa ini. ku ambil saja dari grup kita di FB. Ini dia wajah emak-emaknya

Sore itu, silaturahmi digelar di rumah Haryanto, di Bengkong Harapan II. Ia yang berinisiatif dan memprakarsai terwujudnya kegiatan ini. Ia pula yang mengeluarkan biaya untuk konsumsi. Dia dan teman kami, Widiyanto (biasa disapa Widie), yang mendatangi satu per satu di antara kami untuk mewujudkan pertemuan itu. Tentu, saya harus berterima kasih padanya yang telah begitu berjasa mempertemukan kami kembali. Kami sudah biasa bertemu di dunia maya, tapi jarang bertemu secara fisik, di dunia nyata. Itulah yang membuatnya menjadi berkesan.
Momen itu sungguh momen yang mengesankan dan membahagikan. Mungkin sebagian teman-teman masih sering bersua dalam suatu kegiatan. Tetapi bagi saya, ini momentum yang penting, karena saya termasuk orang yang jarang sekali bertemu dengan teman-teman SD dalam satu momentum. Sependek ingatanku, dulu kami pernah reuni di rumah almarhum Sigit (anak pemilik Sate Asih di simpang Bengkong Harapan yang terkenal itu), sekitar 1999-an. Setelah itu, saya pernah ikut juga bersilaturahmi ke rumah Bu Heni di Bengkong Indah I. (Entah tahun berapa, sepertinya itu setelah saya lulus kuliah atau berkisar antara 2008-2009).
Kami adalah murid-murid SD 024 Sei Panas yang lulus 1996. Saya lupa, berapa jumlah teman-teman seangkatan kala itu. Seingat saya, ketika kelas empat, kami terbagi dalam dua lokal. Begitu naik ke kelas lima, ada pengurangan jumlah murid karena satu sekolah lagi telah berdiri, yakni 034 Sei Panas, sehingga sebagian murid dipindahkan ke sana. Akhirnya, kami disatukan ketika di kelas enam. Saya tidak ingat pasti, sepertinya jumlah kami lebih dari 40 orang. Karena, saya pernah duduk dengan berbagi meja bersama dua teman lainnya. Ya, dua deretan awal diisi tiga orang. Itulah nostalgia dalam kelas. Dan guru kami ini, adalah guru di kelas enam.
formasi setengah lengkap dan sedikit formal. Maaf ya, saya terpaksa pergi duluan karena harus segera kerja

Di antara teman-teman yang hadir itu, ada di antaranya yang sejak lulus tidak pernah saya jumpai, khususnya teman yang perempuan. Ada juga di antaranya sudah beberapa kali bersua karena memiliki komunitas yang sama atau bertamu dan ataupun bersua di jalan. Alhamdulillah, di antara kami yang hadir ini sudah memiliki pasangan. (So, tidak ada peluang CLBK. Ups.... apa iya sudah ada yang cinta-cintaan di waktu SD? Hehehe) Dan yang tidak kalah pentingnya, sebagian dari kami sudah memiliki dua anak. (Semoga teman yang belum dikaruniai anak, segera bisa terwujud)
Anak. Itulah yang menjadi pertanyaan guru kami itu setelah beliau mencoba mengingat dan memastikan nama kami. Ia tidak tanya kami kerja di mana dan berpenghasilan berapa. Ia bertanya, “sudah berapa anaknya?” atau “punya [anak] berapa?” Saya sempat merenungkan perihal pertanyaan itu. Karena, tidak semua dari kami membawa anak-anak kami. Tidak semua juga yang membawa pasangannya. Melihat sebagian anak-anak dari teman masih banyak yang di bawah tiga tahun (batita) dan bawah lima tahun (balita), beliau mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan susulan hingga akhirnya bekata, “sudah banyak ya cucu ibu.”
Ya, cucu Ibu memang sudah banyak. Karena kami pun telah beranjak tua. Kami, yang Ibu didik saat masih anak-anak, kini telah memasuki usia dewasa. Bahkan, kami pun telah memiliki anak, yang Ibu Heni sebut “cucu”.
antar kurus, berisi dan gemuk. Ups... jangan ada yang bahas lagi

Teman-temanku. Kita masih sempat bersua. Kita masih bisa berkomunikasi. Kita masih bisa berbagi cerita. Tetapi kebersamaan kala di bangku SD itu telah berlalu sekitar 21 tahun lalu. Tepatnya sejak 1996. Dan kini, 2017. Kita masih bisa berkumpul walau tidak dengan formasi lengkap. Kita berkumpul walau tidak dengan kemewahan. Kita berkumpul karena keikhlasan teman. Ikhlas menjadi tuan rumah. Ikhlas datang ke tempat kegiatan. Ikhlas mendengarkan kemabali petuah dari guru kita itu.

Ada baiknya petuah, nasehat, motivasi, dan saran dari guru kita itu saya tuliskan di bagian tersendiri. Di simak saja tulisan selanjutnya ya. Maklumlah, karena aktivitasku berkutat dengan dunia tulis menulis setiap harinya, kadang jenuh juga. Ku harap teman-teman pengunjung blog ini tidak jenuh menunggu kehadiran bagian tentang petuah dari guru kita, Ibu Heni. 

Tuesday, July 4, 2017

Iconic Selfie with Nemo di Pulau Petong (2)


Mereka yang pernah nonton film tentang perjuangan ikan kecil bernama Nemo tentu tak asing jenis ikannya. Nama itu diambil dari nama tokoh dalam film berjudul Nemo. Alhasil, ikan dengan dominasi warga jingga itu memang cukup populer saat ini. Ia hidup di antara terumbu karang di tepian laut. Sebab itu, di setiap spot snorkling sering terdapat ikan ini. Ia termasuk ikan jinak karena tidak akan merasa terganggu oleh manusia yang berusaha mendekatinya. Kecuali kita hendak menyentuh.
Begitu jugalah pengalaman snorkling di Pulau Petong, pulau yang berada di bagian selatan Batam. Pemandangan bawah laut di sini tidak kalah dengan Pulau Abang karena memang pulau ini masih dalam satu gugusan. Termasuk juga dengan Pulau Benan yang sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Lingga. Cerita tentang perjalanan menuju ke Pulau Petong, bisa disimak pada tulisan sebelumnya (Snorkling ke Pulau Petong, Mengapa Tidak?).
Sebagaimana yang telah saya janjikan pada tulisan pertama, pada tulisan ini akan saya coba ceritakan pengalaman menikmati pemandangan bawah laut di dua spot snorkling yang dikelola oleh Reefs Advanture. Yang membedakan dua spot itu ialah kedalaman airnya. Spot pertama yang kami kunjungi berjarak 10 menit dari tempat pengelola. 
Cuaca mendung kala itu sempat membuat saya waswas. Bukan apa, di daerah kepulauan, cuaca tidak bisa ditebak. Saya sudah pernah perjalanan laut dengan kapal pompong yang bertemu dengan badai di sekitara pulau Bulan saat ikut Satpol Air Polresta Barelang meninjau kapal karam. Itulah yang terbayang di pikiran kala hendak menuju spot snorkling. Dan alhamdulillah, perjalanan lancar. Cuaca masih bersabahat.
Ketika sampai di titik tujuan, beberapa teman masih terlihat ragu untuk turun. Bagaimana tidak? Pemandangan bawah laut yang awalnya disebut hanya dua meter itu, ternyata tidak tampak apa-apa. Itu artinya, kedalamannya lebih dari dua meter. Hayya... Tetapi saya, yang sudah penasaran, mencoba menjadi orang yang pertama berbasah-basahan. Alhamdulillah, masih bisa ngapung di air. Ini pengalaman pertama snorkling. Dulu sewaktu kecil, mandi-mandi biasa saja di laut, di pantai Rojhing, yang tidak berjauhan dari Dermaga di Pulau Bawean.
Satu persatu di antara teman-teman jurnalis dan blogger mulai ikut turun. Eh... ternyata, ada juga teman yang takut air. Ups... takut kedalaman air tepatnya. Tapi tak apa, tim dari Reefs Adventure adalah orang yang berpengalaman. Mereka telah menyiapkan kano untuk membantu setiap peserta yang “takut” ataupun kelelahan saat menikmati pemandangan bawah laut.
Entah di radius berapa saya mengitari sport itu. Pemandangan indah seperti foto-foto bawah laut yang bertebaran internet pun mulai tanpak. Beberapa jenis karang memperlihatkan keindahannya ditemani ikan-ikan kecil dan ukuran tanggung di sekitarnya. Mereka tidak merasa takut dengan kehadiran kami, karena mereka berada dua sampai empat meter di bawah permukaan laut. Sedangkan kami, hanya mengapung dan melihat mereka sedikit di bawah permukaan air. 
Tips selama snorkling, sering-seringlah melihat posisi teman lainnya. Jangan terlalu jauh. Sebab, keindahan bawah laut itu membuat kita terbuai dan sering tak sadar sudah lebih 10 meter jarak dari teman-teman yang lain.
Kalau mungkin Anda membayangkan karang itu berwarna-warni seperti foto-foto bawah di Bunaken ataupun Raja Ampat, di sini tidak seramai itu. Karangnya memang belum sebangus di sana. Tetapi, yang saya salutkan dari tim Reefs Adventure, mereka selalu berupaya mengingatkan agar tidak merusak karang, baik karena terinjak maupun memegang karang hidup itu. Itu semua telah mengobati rasa keingintahuan saya dalam menikmati pemandangan bawah laut.
Tibalah saatnya mencari titik spot tempat ikan Nemo bermain. Ini penting karena tanpa berfoto dengan ikan Nemo, maka belum sah lah petualangan ini. Apalagi di era medsos ini, foto-foto dari aktifitas kita telah menjadi bagian dari unjuk eksistensi. (Saya pun tak mau ketinggalan lah.... hehehe). Belakang ini juga cukup terkenal foto-foto dengan ikon-ikon di suatu daerah. Saya sering mengistilahkannya dengan iconic selfie (entahlah orang lain menyebutnya apa).
Bang Bagas telah menemukan spot tempat untuk berfoto di dalam air. Di karang itu ada dua ikan Nemo yang sedang bermain di antara karang. Satu persatu peserta dipersilahkan untuk menyelam ke bawah; melihat si Nemo sekaligus yang penting “penjebretan” bersama dia. Ahay.... ini gampang-gampang susah. Karena butuh bantuan Bang Bagas untuk bisa menyelam sampai ke dasar dengan kedalaman lebih dari dua meter itu.
Setelah saya mengamati beberapa teman yang mencoba, tampak mereka tidak puas hanya dengan satu kali selaman. Rata-rata dua kali selam baru pengambilan gambar selesai. Parahnya, untuk bisa menyelam ini dengan maksimal, pelampung harus di lepas supaya tekanan ke bawah lebih berat. Astaga... penuh perjuangan juga coy. Tarik nafas dalam-dalam dan biyurr.... segeralah beraksi ketika tim Reefs Adventure mengambil gambar.
Usai sudah di spot ini. Mari berpindah ke spot yang lebih dalam. Alamak.... tak terbayang lelahnya badan. Tapi karena penasaran, seluruh perserta bersiap melanjutkan perjalanan lagi. Biarpun bermain di air, dahaga tetap menghampiri. Bekal air minum yang telah disediakan oleh Reefs Advanture menggilangkan dahaga.
Spot yang satu ini lebih dalam lagi dibanding yang pertama. Lokasinya tidak jauh dari titik kumpul di pelantar Reefs Adventure. Artinya, kami kembali menyusuri jalan saat keberangkatan ke spot pertama. Karena lautnya lebih dalam, pengelola telah membuat tempat “penyandaran apung”. Pengunjung tidak perlu langsung menjeburkan diri, tapi bisa terlebih dahulu mempersiapkan diri di atas susunan papan berukuran 3x3 meter. Di lokasi ini ada tali yang melingkar dengan diameter sekitar delapan meter. Oh, ternyata tali ini adalah pembatas untuk spot snorkling sekaligus berfungsi untuk pegangan bagi yang takut kedalaman. Pengelola menyarankan agar menikmati terumbu karang yang berada di lingkaran saja. Pemandangannya memang lebih indah karena jenis karangnya lebih banyak. Ikan-ikannya lebih besar.
Namun, rombongan kami kurang beruntung. Pasalnya, hari itu arus kuat sehingga air keruh. Pemandangan bawah laut tidak terlihat sempurnya. Dan tidak jarang, beberapa teman-teman juga sempat terbawa arus. Yang pasti lebih melelahkan bila kita beranang melawan arus. Sementar karang-karang yang cantik itu berada di bagian tengah. Arus datang dari selatan yang kebetulan dari bagian tengah. Alhasil, tak banyak juga yang bisa saya ceritakan. Saatnya kembali ke pelantar. Bersiap makan siang dan menikmati sensasi selanjutnya.

Tunggu tulisan lanjutan, tentang menu-menu spesial dari Reefs Adventure dan kenangan perpisahan dari mereka.


Friday, June 16, 2017

Snorkeling di Pulau Petong, Mengapa Tidak? (1)

nampang dulu ah...
Menikmati pemandangan laut itu sudah biasa bagi kami yang hidup di kepulauan. Di Batam, pantai adalah tempat rekreasi yang paling banyak tersedia. Tinggal dipilih saja, mana yang kamu suka. Kali ini, saya ingin berbagi kisah tentang pengalaman menikmati laut beserta pemandangan bawah laut yang tersedia di sekitar pulau Petong. Kesempatan ini saya dapatkan dari undangan PT Capella Dinamika Nusantara selaku Maen Dealer Motor Honda Wilayah Kepri. (terima kasih Honda yang telah memberikan kesempatan bahagia ini. Karena itu pula, ku pasang logonya di tulisan ini)
Pulau Petong ini berada di sisi selatan Batam. Lebih kurang perjalanan satu setengah jam dari titik keberangkatan kami di Kepri Mall hingga sampai di jembatan enam. Tentu saja, kita akan melewati jambatan satu Barelang yang telah menjadi ikon Batam. Sepanjang perjalanan, ada beragam pemandangan yang tersaji, mulai dari perkebunan, alas, hingga bukit yang terlihat gersang. Nikmati saja perjalanan itu ketika tim dari Reefs Adventure mulai membawamu menuju lokasi.
Tepat di bawah jambatan enam itu, sebuah pompong akan mengantarkan kita menuju pulau Petong. Di pompong dengan lebar lambung dua meter itu, kita akan menuju ke lokasi. Ait.... ini bukan perjalanan sebentar. Butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai di pulau kecil yang dikelola oleh Reefs Adventure. Dari pengalaman saya selama perjalanan, saya mencoba untuk rileks dan menikmati perjalanan itu. Kadang berselonjor, kadang tiduran, dan bahkan sempat tertidur sebentar sebelum hempasan ombak mengagetkanku. Intinya sih, saya sudah biasa naik pompong.
Mencoba menaklukan si ..... lupa pula nama elang ini.

Pulau kecil itu sudah terlihat setelah lepas dari pelabuhan di jambatan enam sekira 30 menit. Tapi, penglihatan di hamparan lautan itu bisa “menipu”. Itu masih jauh. Sekitar 20 menit lagi. Kalau kamu pernah naik kapal, ya kira-kira begitulah rasanya saat kita ingin bersegara turun di pelabuhan.
Oh iya, pulau yang hendak di tuju bukan lah pulau Petong. Ia ada disebalik pulau petong. Pulau kecil saja. Hanya ada segundukan tanah. Di tepiannya, ada pelantar memanjang. Di sanalah titik kumpul sebelum berbagai aktivitas bawah dimulai. Di sana pula nantinya pemandu akan memberikan arah. Jangan tanya lagi tentang kegembiraan rombongan bila sudah sampai di sana. Mengapa? Dari atas rumah restoran panggung itu, ada pemandangan bawah yang tidak seberapa tapi menggoda.
Tim Reefs Adventure tanpa sudah paham betul dengan kelakuan setiap tamunya. Mereka akan terlena dengan pemandangan sekitar, lalu tanya ini dan itu, serta macam-macam lah. Nampaknya tim Reefs Adventure sengata tidak terlalu lama untuk meladeni pertanyaan setiap tamu agar kesempatan untuk menikmati pemandangan bawah lain bisa segera di mulai, yakni dimulai dengan arahan dan petunjuk.
Nah, bagi kamu yang belum atau tidak bisa berenang, kamu mesti menyimak seksama penjelasan dari pemandu. Kalaulah saya tidak salah, nama pemandu menyelam itu Bagas. Hal ihwal untuk keselamatan menyelam dijelaskan hingga semua peserta memahaminya. Ingat lho.... ini penting. Kalaupun pernah snorkling di daerah lain, tapi di daerah ini tentu memiliki tantangan tersendiri. Itulah pentingnya kita memahami arahan dari pemandu. Lain laut lain tantangan coy...
Tentang petunjuk dan arahan pemandu Reefs itu, simak sajalah videonya yaa... tak kan pula nak saya tulis satu persatu. Heheheh...
video

Di sana telah tersedia berbagai peralatan snorkling. Tetapi sebelum memilih alat yang sesuai, setiap orang perlu mengganti pakaian dulu. Pakaiannya tidak disediakan Reefs. Ingat, ini snorkling alias selam permukaan. Jadi, cukup kaian kaos dan celana kolor saja. Setiap peserta disediakan loker untuk ganti baju dengan satu kunci. Loker perempuan dibedakan dengan loker pria. Mengapa? Tak usah ditanya lagi.... hehehe
Ada dua tempat yang akan dituju di sana. Dua-duanya mempunyai tangtangan sendiri untuk snorkling. Apalagi, arus di sisi barat pulau Petong itu terbilang kuat. Ups.... kita jangan bahas spotnya dulu deh. Itu terlalu menarik kalau langsung diceritakan di bagian ini. Kita langjutkan saja tentang persiapan dulu, tentang bagaimana bernorkling.
Usai cuap-cuap bang Bagas, langsung saja perserta diajak untu njebur di sisi lain dari pelantar itu. Airnya hanya setinggi pinggang saja. Ya sekitar satu meter lah. Di sinilah kita akan menguji kemampuan setelah berbagai arah yang disampaikan olah bang Bagas tadi. Saatnya teori dipraktikan. Hem... di momen ini, saya masih sibuk memvideokan aksi teman-teman. Begitu siap untuk turun, kacamata dan selang kurang pas pula. Akhinya pilah pilih lagi yang sesuai. Dan akhirnya, momen ini saya lewatkan. (Dalam hati, ah... saya punya modal sudah bisa beranang. Apalagi dulu sewaktu masih di Bawean, saya sudah kejebur di tepian laut biru saat mancing. Itu peristiwa di usia kelas empat SD coy.)
Traing selesai. Semua personel tamu undangan yang terdiri 18 orang itu, dari kalangan jurnalis, blogger, vlog, dan para petinggi dari Honda sudah basah kuyup. Saatnya untuk uji praktik yang lebih menantang, yang lebih menggoda, dan yang lebih mengasyikan. Apalagi, ada iming-iming foto dalam air dari tim Reefs Adventure.
Wow... foto dalam air. (Saya sih seumur-umur belum pernah punya koleksi foto yang begitu. Inilah kesempatan langka bagi saya). Kami pun bergegas kembali menaiki speedboat menuju dua spot yang sebelumnya telah disebutkan oleh Bagas. Spot pertama yang kami tuju itu memiliki kedalaman dari dua meter.
Pemanasan sebelum ke spot yang sesungguhnya.

Dua meter yang menipu.
Sungguh tega nahkoda speedboat ini. Biarlah saya sampaikan keluhannya dulu. Speedboat kami tumpungi sudah berhenti di tengah. Ternyata, di tempat pemberhentian itu, kedalamannya lebih dari dua meter. Saya bisa pastikan itu karena karang saja tidak nampak dari permukaan air. Wal hasil, setelah jangkar di lepas, teman-teman satu rombongan dengan saya, masih enggan untuk langsung turun. Saya yang penasaran, langsung saja pergi ke tangga di anjungan. Bluer... basah.
Ah, betullah. Air itu dalam. Lebih dari dua meter. Ternyata, lokasi spot karang yang bagus dengan ikan-ikan kecil itu ada sekitar lima sampai tujuh meter ke tepi lagi. Yang akan melihatnya, haruslah memulai petualangannya dari tepian. Ingat... teknik yang tadi telah disampaikan oleh bang Bagas, sudah saatnya diterapkan dengan baik. Itu adalah teknik terbaik. Kalau tidak, sebentar saja kita akan lelah mengitarinya.
Setelah berputar-putar di sekitaran, lelah pun menghampiri. Saatnya untuk istirahat. Tapi di mana? Ini bukan di kedalaman hanya dua meter? Ini lebih dari itu, ternyata empat meter. Maka, Bagas pun memberikan instruksi agar istirahat di atas karang. Dia juga mengingatkan agar tidak menginjak karang hidup. Itulah pijakan untuk istirahat. Ambil nafas. Rehatkan kaki dan tangan dari melawan arus yang cukup kuat.

Ops... pasti lagi-bertanya-tanya, bagaimana pemandangan di bawah lautnya. Sebentar dulu lah, nanti ditulisan selanjutnya ya. Tulisan ini masih bersambung kok. Tenang saja. Nikmati kuota internetmu dulu. Kalau habis paket, pesan saja di Kios F21 Batam.

Monday, June 12, 2017

Mengenal Sufisme Waliyah Zainab dan Bawean

Mengenal Sufisme Waliyah Zainab dan Bawean
Abd. Rahman Mawazi*

Sosok Syeikh Siti Jenar memang fenomenal. Ia adalah seorang wali yang dipinggirkan akibat ajaran-ajarannya. Konsep manunggaling kawula gusti, merupakan ajaran sufisme Siti Jenar yang ditolak para wali (walisongo) karena dinilai bertentangan dengan norma Islam dan menyesatkan. Ia kemudian dipinggirkan dan akhirnya dihukum mati.
Satu dasawarsa terakhir ini telah banyak litelatur yang mengupas sejarah hidup dan ajaran wali yang bernama asli Abdul Jalil. Tidak sedikit dari litelatur tersebut kemudian menjadi best seller. Hal ini dikarenakan keingintahuan masyarakat terhadap sosok dan konsep ajaran sufismenya yang kontreversial. Dan, buku Waliyah Zainab, Putri Pewaris Syeikh Siti Jenar ini juga berusaha menjelaskan konsep ajaran Syeikh Siti Jenar sebagaimana juga dipraktik oleh generasi penerus, Waliyah Zainab.
M. Dhiyauddin Quswandhi, penulis buku, mengupas ajaran Siti Jenar dari sebuah naskah kuno tidak berjudul yang menjelaskan tentang Sastro Cettho Wadiningrat atau ilmu tentang rahasia kehidupan, yang sering juga disebut sebagai ilmu kebegjan, ilmu mencapai kehidupan sejati. Naskah yang ditulis oleh generasi ketiga Siti Jenar, Sunan Sendang, berbahasa Jawa Kuno, dan tampaknya cukup bisa dipahami oleh penulis, yang tak lain adalah keturunan dari Sunan Sendang sendiri.
Judul : Waliyah Zainab, Putri Pewaris Syeikh Siti Jenar: 
Sejarah Pradaban Agama di Pulau Bawean
Penulis : M. Dhiyauddin Qushwandhi
Penerbit : Yayasan Waliyah Zainab Diponggo, Gresik
Cetakan: Pertama, Maret 2008
Tebal : xxxiii+315 halaman
Dalam ajaran sufisme terdapat empat tahapan akidah, yakni syariat, thariqat, hakikat, ma’rifat. Kempat tahapan tersebut dalam ajaran sufisme Wali Songo dikenal dengan takon, tekkun, tekken, tekan. Sedang Siti Jenar mengistilahkannya sebagai catur wiworo werit (empat perjalanan yang sulit) karena dalam menapaki setiap tahapnya penuh aral yang tidak gampang dilalui.
Pengistilah Siti Jenar tersebut cukup mempunyai alasan sebab, menurutnya, empat perjalanan itu merupakan pengejawantahan dari kalimat Laa ilaaha illa Allah. tahapan syariah mengandung makna ila-ilah (menuju Allah), thariqah berarti li-lah (untuk Allah), haqiqah sebagai fi-ilah (di dalam Allah), dan ma’rifah memuat bi-ilah (bersama Allah). Selain itu, keemapat tahapan juga memilki makna lain, yaitu syari’ah sebagai tataran ’ilmuthariqah sebagai tataran ’amalhaqiqah sebagai tataran hal, dan ma’rifah sebagai tataran sirr. (h.240) Tataran ilmu atau syar’iah, misalnya, bermakna bahwa syariat merupakan jenjang dan pengenalan aqliyah terhadap syariat, thariqat, hakikat, ma’rifat, berikut semua kandungannya.
Yang menjadi simbol keweritan dalam tahapan perjalanan akidah seseorang ialah penerapan empat tahapan dalam setiap tahapannya. Level syari’ah memiliki tahapan syariat, thariqat, hakikat, ma’rifat. Begitu juga di level-level selanjutnya. Melewati empat hahapan dalam setiap levelnya adalah perjalanan yang amat sulit karena aral, cobaan, serta tantangan dalam setiap tahapannya tidak mudah dilalui.
Oleh karena itu, penghayatan seorang hamba atas empat hal di atas mutlak diperlukan guna menuju suatu kesempunaan dalam berakidah. Bila sukses, ia akan merasakan puncak kesempurnaan keimanan, di mana keimanan tidak lagi sekedar bermakna percaya an sich kepada Allah, melainkan berbarengan dengan kecintaan (hub) dan selanjutnya penyatuan diri. Bila demikian, maka seorang hamba akan merasa bersatu dengan Khaliqnya—yang dalam konsep Ibn Arabi disebut wihdatul wujud.
Pulau Bawean
Ajaran Sufisme tersebut kemudian dipraktikkan oleh generasi keempat Syeikh Siti Jenar, Sayyidah Waliyah Zainab, di Bawean. Konstalasi politik di Jawa yang tidak memungkinkan bagi keturunan dan pengikut ajaran Siti Jenar memaksa Waliyah Zainab beserta rombongannya hijrah ke pulau Bawean. Kehadiran Waliyah Zainab di sana, selain sebagai bentuk pengasingan diri, juga menyiarkan agama Islam, yang kelak mencapai kesuksesan di masa adipati Sumenep, Umar Mas’ud.
Menurut M. Dhiyauddin Qushwandi, penyiar pertama agama Islam di Bawean ialah rombongan pengungsi dari kerajaan Campa. Hal ini sangat dimungkinkan karena letak Bawean yang steragis sebagai pulau transit pelayaran. Termasuk di dalamnya ialah Sunan Ampel dan ibundanya, Putri Condrowulan, yang kini makamnya terletak di desa Komalasa. Penemuan makam Putri Condrowulan ini merupakan suatu jawaban dari teta-teki sejarah.
Penemuan lain yang tak kalah pentingnya ialah prihal keberadaan makam laksamana muslim Cina Cheng Ho. Menurut Dhiyauddin, melihat posisi Bawean yang terletak di Laut Jawa, sangat mungkin Cheng Ho memilih Bawean sebagai tempat berdomisili hingga akhir hanyatnya. Hal ini berdasarkan informasi sejarah yang menyatakan bahwa konstalasi politik dinasti Ming saat itu sedang goncang, dan tidak adanya kabar atau informasi sejarah yang menyebutkan ke mana Cheng Ho berlayar sejak meninggalkan Jawa. Adapaun bukti yang menguatkan ialah, bahwa makam yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Jujuk Tampo ialah dari kata ”tampo”. Ditengarai kata ”tampo” berasal dari bahasa Cina ”dempo”, yang berarti nahkoda. Selain penemuan tersebut, Dhiyauddin juga memastikan bahwa huruf Honocoroko tercipta di Bawean.
Kehadiran buku ini, dengan demikian, selain mengungkap ajarah sufisme Siti Jenar yang kontroversial itu, juga mengungkap suatu peristiwa masa lalu yang masih menjadi misteri masa kini. Survei lapangan yang dilakukan penulis serta telaah litelatur yang ketat menjadikan buku ini layak untuk dijadikan rujukan bagi mereka yang berdedikasi di bidang sejarah sekaligus sebagai pintu bagi penelitian lebih lanjut. Sebab, jika berbicara sejarah, hal itu adalah bukti-bukti yang tertinggal dan masih ada, baik  berupa tulisan, naskah, ataupun artefak yang bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Tampa itu semua, ia hanya menjadi dongeng atau mitos belaka.
*Abd. Rahman Mawazi,
pustakawan, alumnus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Saturday, June 10, 2017

Perjalanan Panjang Pencarian Tuhan

Perjalanan Panjang Pencarian Tuhan
Oleh Abd. Rahman Mawazi*
 
 
Judul Buku : Tuhan Di Mata Para Filosof
Penulis : Etienne Gilson
Penerjemah : Silvester Goridus Sukur
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : I, November 2004
Tebal : 237 Halaman
Filsafat selalu mendapat perhatian dikalangan pemikir, hampir disetiap ranah ilmu pengetahuan mempunyai landasan filosofis kecuali ilmu eksak. Tak luput juga dari landasan filosofis itu yakni teologi metafisika. Teologi metafisika adalah ilmu yang murni membutuhkan suatu rasionalisasi, tanpa rasionalisasi niscaya tidak akan dapat mengungkap misteri dari metafisika itu sendiri.
Perjalanan panjang para filosof dalam mencari Tuhannya telah melahirkan suatu aliran filsafat yang sangat berguna bagi manusia dalam memaknai “nilai-nilai” keberadaan Tuhan. Teologi adalah suatu pendekatan menuju pemahaman ketuhanan. Hal ini dimulai dari munculnya pertanyaan tentang siapa yang mengatur dunia ini? Tales, Aristotales, Plato dan kebanyakan filosof Yunani lainnya selalu mencari jawabannya. Suatu kesimpulanm yang sangat bertentangan dengan keyakinan masyarakat Yunani pada umumnya kala itu, filosof – periode akhir – awal Yunani membuat suatu kesimpulan bahwa ada yang lebih berkuasa dibandingkan para dewa yang diyakini oleh masyarakat Yunani.
Etienne Gilson, penulis buku ini, menelaah perjalanan dan pandangan para filosof tentang Tuhan. Hal ini ia lakukan karena kekawatirannya terhadap perkembangan para pemikir dalam mencari Tuhan-nya yang mulai lepas dari rel pengetahuan filosofis. Premis yang dibangun oleh filosof masa awal (baca Yunani) mulai mengalami pergeseran paradigma filosofis dikalangan pemikir abad modern dan kontemporer.
Pembacaan terhadap bukti keberadaan Tuhan melalaui telaah atas bukti nyata yang ada di jagad ini telah menghasilkan teologi natural. Melalui metode itu filosof Yunani kemudian membuat suatu kesimpulan. Namun, ketika agama mulai mendapat keyakinan dihati manusia justru Tuhan dapat diterima dengan lapang dada oleh umatnya. Mulailah berkembang kemudian teologi agama untuk menjawab keberadaan dan eksistensi Tuhan. St. Augustinus seorang folosof kristen, misalnya, mampu memberikan pemahaman yang dapat diterima dengan akal dan penuh landasan filosofis dari sebuah ajaran Kristen.
Berbeda dengan para filosofis, agamawan dan umat beragama dapat menemukan Tuhan-nya dengan prakter ibadah spiritual sedang para filosof memulainya dengan nalar kritis serta sitematis kemudian mampu menjangkau Tuhan. Keduanya, filosof dan agamawan, sama-sama telah menemukan Tuhan-nya dengan jalan masing-masing. Kemudian datanglah perdebatan baru pada era filsafat modern sejak mulainya memasuki perkembangan filsafat. Hal inilah yang dialami sendiri oleh Etienne ketika para pemikir semasanya mulai merekontruksi paradigma filosofis teologi metafisika. Menurut Jaroslav Pelikan, dalam prakatanya di buku ini, hal ini disebabkan oleh dominasi pemikiran Emmanuel Kant sehingga penerusnya Karl Marx, Charles Darwin, Sigmund Frued dan Friedrich Nietzsche melakukan aksi “penghujatan Tuhan”.
Berbeda dengan Descartes dan Spinoza, keduanya secara eksplisit mengakui keberadaan Tuhan. Seperti dikutip oleh Etienne, Descartes secara ekplisit mengatakan “Karena kita tidak mungkin memisahkan eksistensi dari ide tentang Tuhan, maka Tuhan niscaya ada atau ber-ada (eksis)”, begitu pula dengan Spinoza yang memandang Tuhan adalah Ada yang maha tidak terbatas, atau subtansi yang merupakan “penyebab bagi dirinya sendiri” karena “esensinya meliputi eksistensi”. Komentar Etienne lebih lanjut tentang keduanya bahwa bisa jadi mereka keliru secara filosofis atau benar secara religius, atau sebaliknya benar secara filosofis, keliru secara religius.(hlm.159) Akan tetapi secara jelas Descartes juga mengungkapkan bahwa Tuhan, agama atau bahkan teologi bukan merupakan obyek yang tepat bagi spekulasi filosofis, biarkanlah agama tetap sebagaimana adanya yakni perkara iman semata-mata, bukan pengetahuan intlektual atau pembuktian rasional.
Lain halnya dengan apa yang kemudian berkembang dikalangan pemikir kontemporer dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu pesat, sehingga Tuhan pun menjadi obyek ‘perdebatan’. Disinilah pengaruh filsafat Kant dan Aguste Comte mendominasi. Kritisisme Kant dan Positivisme Comte memiliki kesamaan tentang gagasan pengetahuan yang direduksi menjadi pengatahuan ilmiah dan gagasan pengetahuan ilmiah menjadi intelijibilitas yang disiapkan oleh fisika Newton. (hlm.168)
Ilmuan kontemporer, Sir James Jeans memadukan masalah-masalah filsafat dalam perspektif sains kontemporer dengan kesimpulan bahwa alam semesta sains merupakan sesuatu yang misterius. Nah, selayaknya fungsi sains menyingkap misteri alam semesta ini agar kemisteriusannya dapa terpecahkan atau menjadi tidak misterius lagi. Namun penolakan ilmuan dengan tidak menerima hal-hal metafisika karena dinilai tidak empiris, irasional dan tidak ilmiah akibat pemisahan antara urusan ilmu pengetahuan dengan agama atau Tuhan.
Kehadiran buku ini memberikan gambaran singkat tapi jelas tentang pandangan para filosof dan pemikir tentang Tuhan. Teka-teki metafisika di tulis dengan begitu jelasnya sehingga pembaca dapat memahami landasan-landasan filosofis tentang keberadaan dan eksistensi Tuhan serta perjalanan para filosof dalam mencari Tuhannya. Jangan sampai orang modern tersihir oleh sains, karena masalah tuhan tidak akan pernah bisa dirumuskan dalam satu rumusan ilmiah.

Naskah lama yang saya tulis 2004 silam.

Tuesday, May 30, 2017

Puasa dan Pembebasan Sosial

Puasa dan Pembebasan Sosial
Oleh Abd. Rahman Mawazi*

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa" (QS. 2:183)



Momentum Ramadan  selalu menarik perhatian bagi umat Islam. Bukan saja karena bulan itu diagungkan dengan kewajiban melaksankan puasa sebulan penuh dan segala keistimewaan dan kelebihannya, tetapi juga himbauan pemenuhan kebutuhan spiritual akan keimanan dan ketakwaan. Banyak seruan yang mengarah pada peningkatan ketakwaan, baik seruan melaksanakan ibadah syar’iyah maupaun ibadah sosial, yang intinya agar menahan (al-imsak) diri dari perbuatan yang tidak sesuai dengan norma agama dan melakukan suatu kebajikan yang menambah nilai plus dari ibadah puasa itu sendiri.
Sebagai fondasi (rukun) Islam, puasa merupakan kewajiban mutlak (fardu ‘ain) bagi umat Islam. Didalammnya, disamping unsur filosofis yang terkandung, yakni peningkatan ketakwaan (hablun min Allah), ada banyak muatan dan kadungan yang berhubungan dengan kehidupan di dunia, khususnya sesama manusia (Hablun min an-nas), yang dapat direnungkan bagi seorang hamba dengan melaksanakan ibadah puasa penuh ketakwaan. Puasa mempunyai konteks tanggungjawab pribadi dan juga tanggungjawab sosial. Karenanya, dalam berpuasa, disamping mewujudkan kesalehan vertikal kepada Allah, juga untuk mewujudkan kesalehan herisontal kepada sesama manusia dan mahluk Allah.
Ketakwaan itu akan tampak bila diimplementasi dalam berkehidupan sosial. Seperti dikatan Ashgar Ali Angineer, cendikiawan dari India, kesalehan yang disebutkan dalam al-Qur’an bukan hanya kesalehan ritual, namun juga kesalehan sosial. Bukankah permasalahan sosial dewasa ini cukup kompleks? Dan persoalan serius yang harus segera dijawab umat Islam saat ini adalah menunjukkan seberapa relevan konsep Islam sebagai agama ‘rahmat’ bisa dijadikan alat sekaligus solusi atas berbagai persoalan sisio-ekonomi kontemporer; kemiskinan, keterbelakangan, penindasan, dan ketidakberdayaan menghadapi perubahan-perubahan global—misalnya, ekonomi dan politik.
Persoalan kemiskinan misalnya, dimana jumlah masyarakat miskin di negeri ini semakin bertambah dalam tiap tahunnya dan ketika mereka tidak lagi berdaya menghadapi persaingan hidup mendapatkan ‘kelayakan’, memerlukuan solusi konkrit yang mampu mengentaskan problema itu. Telah sering diperlihatkan dalam berita-berita kriminal bawah kebanyakan masyarakat kelas bawah melakukan keriminalitas dengan alasan untuk sesuap nasi, dan atau mempertaruhkan nasib dengan bermain judi—termasuk dalam kategori ini adalah lotere—dan bahkan melakukan hal-hal yang irasional seperti tahayul penggandaan uang (yang ujung-ujungnya tak lain hanyalah praktik penipuan).
Fenomena kemiskinan, bukan saja merupakan problem sosial tapi juga problem agama. Karena, kefakiran bisa menyebabkan kekufuran (al-Hadist). Oleh karena itu, sebagai sesama manusia kita diwajibkan saling tolong menolong. Dan konsep al-Qur’an mengenai distribusi harta kekayaan sangat jelas, "Dalam harta kekayaan terdapat hak peminta-minta dan orang yang hidup berkekurangan" (51:19). Ayat ini dengan sangat jelas menyatakan bahwa kepemilikan tidak bersifat absolut, namun harus dibagi-bagikan pada gologan masyarakat lemah (mustadl’afin).
Begitu juga dengan keterbelakangan, penindasan, dan ketidakberdayaan selalu saja menimpa masyarakat kelas bawah (baca; mustadl’afin). Negeri ini adalah negeri dengan penduduk muslim terbesar dunia, negeri ini masuk dalam deretan negeri miskin, dan negeri ini juga masuk dalam kategori negeri terkorup di dunia. Cukup sudah predikat yang disandangkan pada negeri ini dimana penduduk mayoritasnya adalah muslim. Dan bentuk fenomena sosial yang paling akut juga diderita oleh orang muslim. Padahal, Islam sebagai agama rahmat membawa misi persaudaraan yang universal (universal brotherhood), kesejahteraan (equality), dan keadilan sosial (social justice) (Ashgar Ali Angineer,1999).
Memahami Islam sebatas pemenuhan kebutuhan moral spiritual tidaklah benar. Karena, selain memenuhi kewajiban menunaikan ibadah, Islam juga memerintahkan akan kepedulian sosial. Oleh karena itu, merepon peroblematika kontemporer dengan bersandar pada konsep al-Qur’an, melelui reinterpretasi terhadapnya, merupakan suatu keharusan, sebab zaman selalu berubah dan berkembang. Mempertahankan stagnasi sama-halnya dengan membiarkan kemandulan umat. Dan, secara otomatis, Islam dengan konsep rahmatan lil alamin tidaklah lagi menjadi rahmat, melainkan bencana yang disebabkan oleh umat Islam sendiri.
Kondisi sosial kontemporer; kemiskinan, keterbelakangan, penindasaan, ketidakberdayaan, dan sebaginya memerlukan respon agar tidak berlarut-larut menimpa umat Islam. Disinilah dibutuhkan ijtihadiyah baru dalam merespon problematika tersebut. Jamal Albana, cendikia dari Mesir, mengatakan bahwa jihad—berasa dari kata jahada yang berarti bersungguh-sungguh—masa kini bukanlah bagaimana mati di jalan Allah, meliankan bagaimana kita hidup dijalan Allah. Pembebasan umat dari keterbelengguaan, kemiskinan, penindasan dan segala macam bentuk ketidakberdayaan masyarakat, terutama mustadl’afin, merupakan kesalehan sosial. Menurut Abdul Munir Mulkhan, guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, iman dan kesalehan seseorang tidak hanya dilihat dari pemenuhan rukun iman dan rukun Islam, melainkan juga pemihakan pada kepentingan kaum mustadl’afin(kaum tertindas). Membela dan membebaskan kaum mustadl’afin merupakan kewajiban dan tanggung jawab bersama. Karena itu, Hassan Hanafi, pemikir kiri Islam, menganggap bahwa tantangan terbesar bagi umat Islam adalah kemiskinan, keterbalakangan, dan ketertindasan. Bila demikian, agenda muslim yang harus direalisasikan secepatnya adalah "jihad sosial". Sudah saatnya revolusi sosial dilakukan.

Islam dan Pembebasan
Sejarah telah membuktikan bahwa kehadiran Islam di tengah masyarakat Arab jahiliyah membawa misi revolusi besar-besaran, yakni pembebasan umat manusia dari kejahiliyahan menuju peradaban humanis-dinamis, baik bidang ketuhanan (tauhid), ahklak, sosial-budaya, politik dan perekonomian. Sang pembebas, Muhammad Saw. membawa masyarakat jahiliyah menuju keterbebasan dari belenggu yang menimpa mereka.
Awalnya, sebelum Islam datang, praktik perbudakan begitu marak, kaum perempuan (seakan) tidak mempunyai harga—mereka dengan teganya menguburkan hidup-hidup bayi perempuan karena dianggap hanya akan membawa kerugian dan petaka bagi keluarga dan kebilahnya. Perempuan dijadikan pelampiasan nafsu libido para lelaki dengan menikahi mereka tanpa batas. Begitu juga dengan pola pikir masyarakat jahiliyah yang irasional dan mengedepankan adat-istiadat yang sarat dengan mitos. Oleh karenaya mereka dikenal dengan masyarakat jahiliyah. Namun sejak kedatangan Sang Pembebas, kebiasaan dekimian sedikit demi sedikit mulai dirubah. Praktik perbudakan mulai dikurangi dengan adanya kewajiban—sebagai kafarat (tebusan)—memerdekakan budak bagi seseorang yang melanggar suatu perintah syariat, poligami dibatasi maksimal empat orang istri bagi mereka yang mampu berbuat adil terhadap istri-istrinya, dan kepercayaan mitos dirubah dengan penanaman aqidah yang kokoh.
Termasuk juga pembebasan sosial yang telah dilakukan oleh Nabi adalah menghapus primordialisme dan fanatisme kesukuan. Islam datang dengan konsep tidak membeda-bedakan suku, ras, dan golongan dihadapan Allah menjadi pintu menuju kehidupan harmonis umat manusia. al-Qur’an menyebutkan, "Hai manusia! Kami telah manciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan membuat kalian menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu sekalian saling mengenal satu sama lain. Sesungguhnya, yang paling mulia diantara kamu sekalian disi Allah adalah yang paling bertakwa.". Ini merupakan konsep yang paling revolusioner, dimana tidak ada lagi kesenjangan umat manusia yang disebabkan perbedaan ras, suku bangsa, dan golongan.
Diranah sosio-ekonomi misalnya, Islam juga menawarkan konsep revolusioner, yakni keadilan distributif dan melarang praktik culas dalam mengumpulkan harta kekayaan, seperti penimbunan kebutuhan perekonomian (QS.6:34), praktir rentenir dan riba (mengambil keuntungan dengan sistem bunga)(2:275-278). Hal ini bermakna bahwa agar penikmatan kebutuhan tidak hanya berputar dikalangan orang-orang kaya, melainkan merata pada seluruh lapisan masyarakat. Dan agar kesenjangan sosial -pembedaan si kaya dan si miskin- tidak lagi menjadi kemelut, melainkan suatu kebutuhan imbal balik, yakni saling membutuhkan.
Sekelimut histori peradaban umat Islam masa awal diatas perlu jadikan contoh untuk didialektikakan dengan keberadaan umat masa kini yang begitu banyak mengalami problematika sosial dan menuntut respon dari sekian konsep Islam. Apalagi, tantangan hidup di era global ini telah menjadikan wajah buram bagi umat Islam yang terbukti dengan begitu banyaknya masyarakat muslim di dunia yang mengalami kelaparan, kemiskinan, penindasan dan keterbelakangan.
Oleh karena itu, melalui momen puasa kali ini, kita tingkatkan moral spritual dan moral sosial. Sebab, bangunan moral spiritual bukan hanya sebagai pembebasan personal, melainkan kesalehan untuk pembebasan sosial—yang juga merupakan moral sosial. Solidaritas kemanusian menjadi nilai plus dalam upaya meningkatkan ketaqwaan. Dan mudah-mudahan puasa yang kita jalani telah memuat sisi batiniah (esoterik) sekaligus sisi lahiriyah (eksoteris). Wallahu a’lam.


*Tulisan semasa masih di Jogja antara 2002-2008