Snorkeling di Pulau Petong, Mengapa Tidak? (1)

Pulau Petong ini berada di sisi selatan Batam. Lebih kurang perjalanan satu setengah jam dari titik keberangkatan kami di Kepri Mall hingga sampai di jembatan enam. Tentu saja, kita akan melewati jambatan satu Barelang yang telah menjadi ikon Batam.

Rasakan Sejuk Air Gunung Daik di Resun

Air terjun Resun, begitu nama yang dilebelkan untuk air terjun yang terletak di desa Resun itu. Airnya mengalir dari pengunungan di tanah Lingga. Air terjun Resun ialah satu di antara sekian banyak aliran air terjun dari gunung Daik.

Kampung Boyan di Dabo Singkep

Para perantau ini seringkali meninggalkan jejak berupa nama kampung, yakni Kampung Boyan. Nah, itulah yang menjadi pijakan, tradisi rantau warga Bawean memiliki jejak, baik berupa nama maupun tradisi. Di Dabo Singkep, terdapat juga sebuah kampung bernama Kampung Boyan.

Menikmati Keindahan Masjid Agung Natuna

Masjid ini memang megah. Bahkan termegah yang ada di Kepri. Sebab itu, masjid ini selalu terlihat sangat cantik dari berbagai sisinya. Anda bisa mencari berbagai foto menarik masjid ini di internet. Saya sungguh kagum.

Puasa dan Pembebasan Sosial

Puasa mempunyai konteks tanggungjawab pribadi dan juga tanggungjawab sosial. Karenanya, dalam berpuasa, disamping mewujudkan kesalehan vertikal kepada Allah, juga untuk mewujudkan kesalehan herisontal kepada sesama manusia dan mahluk Allah.

Saturday, July 22, 2017

Tips Internet Lancar di Semua Operator dan HP Apapun

inilah tempat jual kartu internet murah di Batam

Ponsel sudah smartphone tetapi kadang akses internetnya lelet minta ampun. Di era digital, akses lambat itu adalah suatu kemunduran. Mungkin sama halnya dengan orang yang menolak digitalisasi karena ketakutannya akan suatu perubahan.
Nah, saya yakin semua pemilik smartphone pernah mengalami akses lelet. Dahulu, ketika GPRS ditemukan, produk ponsel pun bermetamorfosa. Dari hanya sekadar bertelepon dan pesan singkat, menjadi pesan gambar dan berwarna. Ketika teknologi 3G ditemukan, smartphone pun datang lebih canggih lagi; dibekali dengan video call. Dan sekarang, saat jaringan sudah 4G (konon di belahan dunia lainnya sudah ada yang 5G) smartphone betul-betul telah menjadi pilihan utama untuk berbagai akses.
Karena banyaknya ketergantungan pada smartphone, tidak sedikit sangat keranjingan dengannya. Sehingga, kendala sedikit pada smartphone itu, akan membuat dia seperti kehilangan sesuatu yang berharga. Mungkin kamu pernah dengar istilah yang pas untuk orang yang sudah “kecanduan” dengan ponsel, namun ketika sinyal tidak stabil atau bahkan hilang, ia membuang atau membanting ponsel. Saye lupa istilahnya. (Tolong bantu tulis di kolom komentar bagi yang tahu).
Begini, masih banyak yang tidak tahu bahwa ada beberapa syarat untuk bisa mengakses internet cepat dan stabil pada smartphone. Setelah saya himpun, menurut saya memang tiga hal ini patut untuk diperhatikan. Mengapa saya ingin berbagi tentang ketiga hal ini? Karena beberapa konsumen di Kios F21Batam—yang jalan kuota termurah—ada yang tidak paham perihal pentingnya tiga hal ini, sebab ia harus utuh. Tidak bisa hanya tersedia satu bagian saja.
1. Jaringan. Pastikan jaringan di lokasi benar-benar sudah stabil untuk layanan data. Khususnya 4G. Karena belum semua area di Batam sudah terjangkau jaringan 4G. Okelah. Jika ada operator mengklaim jaringan 4G-nya tersebar luas di Batam, hal itu harus Anda buktikan sendiri. Tidak sedikit titik blankspot yang ada di Batam. Jaringan 4G itu yang paling kuat di Nagoya dan Jodoh karena pusat bisnis atau di Batam Centre karena pusat pemerintahan.
2. Ponsel yang kita pakai. Ponsel kadang lambat banget karena aplikasi yang padat sehingga kinerjanya lelet. Jangan lah terlalu banyak menginstal aplikasi di HP mu. Keduanya, jikalau ponselmu masih 3G, jangan pula dipaksa untuk 4G. Hingga kini, belum ada yang bisa mengupgrade smartphone yang dari pabriknya dibuat 3G menjadi berjaringan 4G. Kalau pun ada, biasanya itu hanya duplikasi saja. Artinya, sinyalnya tidak riil diterima ponsel.

3. Pilihan paket. Ada beberapa operator yang membatasi kecepatan akses karena paket yang kita beli. Saat ini, yang paling untung adalah pemilik HP berteknologi 4G. Banyak operator memberikan bonus kuota besar untuk mengganti kartunya dari simCARD ke uSIM. uSIM adalah kartu yang diciptakan mampu untuk menangkap sinyal 4G. Jika Anda masih menggunakan kartu dengan ukuran normal, berarti kemungkinan itu kartu itu tidak bisa digunakan untuk 4G. Soal paketnya, ada banyak pilihan dari operator.

Ketika ketiganya telah menjadi satu atau tersedia di tempat Anda mengakes internet dari HP, maka akan lancar jaya. Maka dari itu, perlu kiranya kita memahami tiga hal itu untuk menjadi acuan. 

Saturday, July 15, 2017

Sebuah Kisah dari Strategi Marketing Jengkol Dabo

Ternyata jenis jengkolnya yang bulat dan montok

Ini sih kata kuncinya jengkol. Sering pula dipelesetkan dengan sebutan jengki. Ini adalah buah fenomenal. Memiliki aroma yang khas dan banyak peminatnya. Jenis masakan olahannya pun cukup beragam. Olahan jengkol ini paling mudah ditemukan di rumah makan Padang. Namun, apakah hanya orang Padang saja peminatnya? Tentu tidak. Kata seorang kawan, orang Batak juga banyak yang doyan jengkol. Hingga akhinya aku berkesimpulan, jengkol bisa diterima bagi penyukanya.
Jengkol. Inilah buah yang menjadi pioner dari sebuah peluang usaha yang telah kudambakan sejak masih tugas di pulau yang bernama Singkep, Kabupaten Lingga. Jumat (14/7) lalu, dua karung atau satu kuintal lebih jengkol kuterima dari Dabo Singkep. Alhamdulillah.... dengan senang kulihat dua karung itu turun dari truk yang membawanya. Tapi juga plus bingung karena belum jelas pasarnya. Ya, yang namanya usaha itu harus dengan memperhitangkan untung rugi dong.
Begitu sampai dan dipromisikan melalui media sosial, langsung ada yang merespon dan memesan. Pembeli pertama adalah kawan ini. “Sip... pecah telor sudah,” kata ku begitu selesai menimbang empat kilogram untuk dia. Dan penjualan seterusnya cukup lancar hingga hari kedua barang sudah ludes. Tentu ini juga berkat dukungan dari teman-temandekat juga.
Bagaimana strateginya? Ini sih gampang-gampang susah menuliskannya. Dalam berdagang, kita tak bisa diam ataupun pasif. Harus aktif. Di pasar, sekalipun banyak pedagang dengan barang jualan yang sama, terkadang mereka juga memanggil calon kunsumen. Lalu menyakinkan agar sudi berbelanja. Artinya, tetap butuh pemasaran.
Di dua onlie saat ini, ada banyak hal bisa dilakukan dalam strategi marekting. Banyak sekali tips yang beradar di dunia maya. Tentu sebagai kiat-kiat untuk meningkatkan penjualan. Jualan apa saja memang bisa dilakukan di sana. Seperti jualan bunga, jasa karikatur, ataupun jualan kartu internet.  Satu di antarnya kiat yang sering disebutkan oleh para motivator itu ialah memanfaatkan orang terdekat; bisa kakak atau adik, teman, sejawat, mitra kerja, dan lain sebagainya.
Pola itu pula yang kupakai dalam tahap awal menjual jengkol ini. Mula-mula, woro-woro perihal jengkol itu kusampaikan kepada teman-teman SD yang tergabung dalam grup Messenger, lalu teman-teman kerja di grup Whatsapp. Dan ketika barang datang, lantas kufoto dan kuunggak forum jual beli yang tersebar di Facebook. Dan, kedatangan pertama jengkol Dabo Singkep ini disambut baik. Bahkan, sudah ada pedagang pasar di Bengkong yang bersedia menampung. Kalau rezeki memang tak ke mana.
Hasil dari jualan jengkol Dabo Singkep
Mungkin beberapa teman tidak yakin dengan apa yang saya lakukan, akhinya saya membuat video siaran langsung di Facebook. Video itu hanya untuk menegaskan bahwa saya jualan jengkol. Dan kehadiran video itu untuk mengaskan jenis dan kualitas jengkol yang saja jual. Inilah jengkol montok asal Dabo Singkep.

Wujud Sebuah Impian
Sudah lama memang saya ingin mengoneksikan antara Dabo dan Batam melalui usaha perdagangan. Dulu, dan dulu sekali, sejak kapal roro melayani pelayaran Dabo-Batam, saya sudah mendambakan bisa melakukan perdagangan itu. Saya terterik untuk buah-buahan dan sayuran yang sekiranya bisa tahan dalam dua taupun tiga hari.
Peluang itu saya tangkap ketika melihat potensi di Dabo yang masih sangat mungkin untuk dijadikan sentra buah-buahan, palawija dan sayur mayur. Walaupun tanah Singkep tidak seperti tanah di Jawa, tetapi menurut seorang teman yang juga petani, tanah di Singkep masih bisa olah. Atau, kata dia, tanamannya bisa disesuaikan dengan kondisi tanah.
Dulu, saya pernah mencoba untuk menanam tomat jenis yang kecil. Ternyata tumbuh subur dan hasilnya melebihi dari modal yang dikeluarkan. Itulah peluang yang bisa tampak dan kemudian saya impikan. Komunikasi dengan teman di sana terus berjalan. Cita-cita itu pun tidak pernah padam. Hingga akhirnya bisa terwujud untuk pertama kalinya melalui jengkol ini. Dan sebentar lagi, akan dicoba juga untuk hasil pertanian lainnya. Tetap semangat. Tetap baca peluang. Saya yakin, pintu rezeki itu selalu terbuka bagi orang yang berikhtiar.

Saturday, July 8, 2017

Kami, yang Dulunya Sekolah di SD 024 Sei Panas (Reuni SD-1)

Dahulu, kami anak-anak ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) saat bertemu beliau. Kini, kami telah membawa anak bersua kembali dengan beliau. Dialah satu di antara guru kami ketika masih berseragam putih merah di SD 024 Sei Panas (kini namanya berubah). Dia satu di antara guru kami yang memiliki waktu hadir dalam acara silaturahmi teman-teman SD ku di Batam. Namanya Heni (maaf lupa nama lengkapnya).

entah foto milik siapa ini. ku ambil saja dari grup kita di FB. Ini dia wajah emak-emaknya

Sore itu, silaturahmi digelar di rumah Haryanto, di Bengkong Harapan II. Ia yang berinisiatif dan memprakarsai terwujudnya kegiatan ini. Ia pula yang mengeluarkan biaya untuk konsumsi. Dia dan teman kami, Widiyanto (biasa disapa Widie), yang mendatangi satu per satu di antara kami untuk mewujudkan pertemuan itu. Tentu, saya harus berterima kasih padanya yang telah begitu berjasa mempertemukan kami kembali. Kami sudah biasa bertemu di dunia maya, tapi jarang bertemu secara fisik, di dunia nyata. Itulah yang membuatnya menjadi berkesan.
Momen itu sungguh momen yang mengesankan dan membahagikan. Mungkin sebagian teman-teman masih sering bersua dalam suatu kegiatan. Tetapi bagi saya, ini momentum yang penting, karena saya termasuk orang yang jarang sekali bertemu dengan teman-teman SD dalam satu momentum. Sependek ingatanku, dulu kami pernah reuni di rumah almarhum Sigit (anak pemilik Sate Asih di simpang Bengkong Harapan yang terkenal itu), sekitar 1999-an. Setelah itu, saya pernah ikut juga bersilaturahmi ke rumah Bu Heni di Bengkong Indah I. (Entah tahun berapa, sepertinya itu setelah saya lulus kuliah atau berkisar antara 2008-2009).
Kami adalah murid-murid SD 024 Sei Panas yang lulus 1996. Saya lupa, berapa jumlah teman-teman seangkatan kala itu. Seingat saya, ketika kelas empat, kami terbagi dalam dua lokal. Begitu naik ke kelas lima, ada pengurangan jumlah murid karena satu sekolah lagi telah berdiri, yakni 034 Sei Panas, sehingga sebagian murid dipindahkan ke sana. Akhirnya, kami disatukan ketika di kelas enam. Saya tidak ingat pasti, sepertinya jumlah kami lebih dari 40 orang. Karena, saya pernah duduk dengan berbagi meja bersama dua teman lainnya. Ya, dua deretan awal diisi tiga orang. Itulah nostalgia dalam kelas. Dan guru kami ini, adalah guru di kelas enam.
formasi setengah lengkap dan sedikit formal. Maaf ya, saya terpaksa pergi duluan karena harus segera kerja

Di antara teman-teman yang hadir itu, ada di antaranya yang sejak lulus tidak pernah saya jumpai, khususnya teman yang perempuan. Ada juga di antaranya sudah beberapa kali bersua karena memiliki komunitas yang sama atau bertamu dan ataupun bersua di jalan. Alhamdulillah, di antara kami yang hadir ini sudah memiliki pasangan. (So, tidak ada peluang CLBK. Ups.... apa iya sudah ada yang cinta-cintaan di waktu SD? Hehehe) Dan yang tidak kalah pentingnya, sebagian dari kami sudah memiliki dua anak. (Semoga teman yang belum dikaruniai anak, segera bisa terwujud)
Anak. Itulah yang menjadi pertanyaan guru kami itu setelah beliau mencoba mengingat dan memastikan nama kami. Ia tidak tanya kami kerja di mana dan berpenghasilan berapa. Ia bertanya, “sudah berapa anaknya?” atau “punya [anak] berapa?” Saya sempat merenungkan perihal pertanyaan itu. Karena, tidak semua dari kami membawa anak-anak kami. Tidak semua juga yang membawa pasangannya. Melihat sebagian anak-anak dari teman masih banyak yang di bawah tiga tahun (batita) dan bawah lima tahun (balita), beliau mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan susulan hingga akhirnya bekata, “sudah banyak ya cucu ibu.”
Ya, cucu Ibu memang sudah banyak. Karena kami pun telah beranjak tua. Kami, yang Ibu didik saat masih anak-anak, kini telah memasuki usia dewasa. Bahkan, kami pun telah memiliki anak, yang Ibu Heni sebut “cucu”.
antar kurus, berisi dan gemuk. Ups... jangan ada yang bahas lagi

Teman-temanku. Kita masih sempat bersua. Kita masih bisa berkomunikasi. Kita masih bisa berbagi cerita. Tetapi kebersamaan kala di bangku SD itu telah berlalu sekitar 21 tahun lalu. Tepatnya sejak 1996. Dan kini, 2017. Kita masih bisa berkumpul walau tidak dengan formasi lengkap. Kita berkumpul walau tidak dengan kemewahan. Kita berkumpul karena keikhlasan teman. Ikhlas menjadi tuan rumah. Ikhlas datang ke tempat kegiatan. Ikhlas mendengarkan kemabali petuah dari guru kita itu.

Ada baiknya petuah, nasehat, motivasi, dan saran dari guru kita itu saya tuliskan di bagian tersendiri. Di simak saja tulisan selanjutnya ya. Maklumlah, karena aktivitasku berkutat dengan dunia tulis menulis setiap harinya, kadang jenuh juga. Ku harap teman-teman pengunjung blog ini tidak jenuh menunggu kehadiran bagian tentang petuah dari guru kita, Ibu Heni. 

Tuesday, July 4, 2017

Iconic Selfie with Nemo di Pulau Petong (2)


Mereka yang pernah nonton film tentang perjuangan ikan kecil bernama Nemo tentu tak asing jenis ikannya. Nama itu diambil dari nama tokoh dalam film berjudul Nemo. Alhasil, ikan dengan dominasi warga jingga itu memang cukup populer saat ini. Ia hidup di antara terumbu karang di tepian laut. Sebab itu, di setiap spot snorkling sering terdapat ikan ini. Ia termasuk ikan jinak karena tidak akan merasa terganggu oleh manusia yang berusaha mendekatinya. Kecuali kita hendak menyentuh.
Begitu jugalah pengalaman snorkling di Pulau Petong, pulau yang berada di bagian selatan Batam. Pemandangan bawah laut di sini tidak kalah dengan Pulau Abang karena memang pulau ini masih dalam satu gugusan. Termasuk juga dengan Pulau Benan yang sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Lingga. Cerita tentang perjalanan menuju ke Pulau Petong, bisa disimak pada tulisan sebelumnya (Snorkling ke Pulau Petong, Mengapa Tidak?).
Sebagaimana yang telah saya janjikan pada tulisan pertama, pada tulisan ini akan saya coba ceritakan pengalaman menikmati pemandangan bawah laut di dua spot snorkling yang dikelola oleh Reefs Advanture. Yang membedakan dua spot itu ialah kedalaman airnya. Spot pertama yang kami kunjungi berjarak 10 menit dari tempat pengelola. 
Cuaca mendung kala itu sempat membuat saya waswas. Bukan apa, di daerah kepulauan, cuaca tidak bisa ditebak. Saya sudah pernah perjalanan laut dengan kapal pompong yang bertemu dengan badai di sekitara pulau Bulan saat ikut Satpol Air Polresta Barelang meninjau kapal karam. Itulah yang terbayang di pikiran kala hendak menuju spot snorkling. Dan alhamdulillah, perjalanan lancar. Cuaca masih bersabahat.
Ketika sampai di titik tujuan, beberapa teman masih terlihat ragu untuk turun. Bagaimana tidak? Pemandangan bawah laut yang awalnya disebut hanya dua meter itu, ternyata tidak tampak apa-apa. Itu artinya, kedalamannya lebih dari dua meter. Hayya... Tetapi saya, yang sudah penasaran, mencoba menjadi orang yang pertama berbasah-basahan. Alhamdulillah, masih bisa ngapung di air. Ini pengalaman pertama snorkling. Dulu sewaktu kecil, mandi-mandi biasa saja di laut, di pantai Rojhing, yang tidak berjauhan dari Dermaga di Pulau Bawean.
Satu persatu di antara teman-teman jurnalis dan blogger mulai ikut turun. Eh... ternyata, ada juga teman yang takut air. Ups... takut kedalaman air tepatnya. Tapi tak apa, tim dari Reefs Adventure adalah orang yang berpengalaman. Mereka telah menyiapkan kano untuk membantu setiap peserta yang “takut” ataupun kelelahan saat menikmati pemandangan bawah laut.
Entah di radius berapa saya mengitari sport itu. Pemandangan indah seperti foto-foto bawah laut yang bertebaran internet pun mulai tanpak. Beberapa jenis karang memperlihatkan keindahannya ditemani ikan-ikan kecil dan ukuran tanggung di sekitarnya. Mereka tidak merasa takut dengan kehadiran kami, karena mereka berada dua sampai empat meter di bawah permukaan laut. Sedangkan kami, hanya mengapung dan melihat mereka sedikit di bawah permukaan air. 
Tips selama snorkling, sering-seringlah melihat posisi teman lainnya. Jangan terlalu jauh. Sebab, keindahan bawah laut itu membuat kita terbuai dan sering tak sadar sudah lebih 10 meter jarak dari teman-teman yang lain.
Kalau mungkin Anda membayangkan karang itu berwarna-warni seperti foto-foto bawah di Bunaken ataupun Raja Ampat, di sini tidak seramai itu. Karangnya memang belum sebangus di sana. Tetapi, yang saya salutkan dari tim Reefs Adventure, mereka selalu berupaya mengingatkan agar tidak merusak karang, baik karena terinjak maupun memegang karang hidup itu. Itu semua telah mengobati rasa keingintahuan saya dalam menikmati pemandangan bawah laut.
Tibalah saatnya mencari titik spot tempat ikan Nemo bermain. Ini penting karena tanpa berfoto dengan ikan Nemo, maka belum sah lah petualangan ini. Apalagi di era medsos ini, foto-foto dari aktifitas kita telah menjadi bagian dari unjuk eksistensi. (Saya pun tak mau ketinggalan lah.... hehehe). Belakang ini juga cukup terkenal foto-foto dengan ikon-ikon di suatu daerah. Saya sering mengistilahkannya dengan iconic selfie (entahlah orang lain menyebutnya apa).
Bang Bagas telah menemukan spot tempat untuk berfoto di dalam air. Di karang itu ada dua ikan Nemo yang sedang bermain di antara karang. Satu persatu peserta dipersilahkan untuk menyelam ke bawah; melihat si Nemo sekaligus yang penting “penjebretan” bersama dia. Ahay.... ini gampang-gampang susah. Karena butuh bantuan Bang Bagas untuk bisa menyelam sampai ke dasar dengan kedalaman lebih dari dua meter itu.
Setelah saya mengamati beberapa teman yang mencoba, tampak mereka tidak puas hanya dengan satu kali selaman. Rata-rata dua kali selam baru pengambilan gambar selesai. Parahnya, untuk bisa menyelam ini dengan maksimal, pelampung harus di lepas supaya tekanan ke bawah lebih berat. Astaga... penuh perjuangan juga coy. Tarik nafas dalam-dalam dan biyurr.... segeralah beraksi ketika tim Reefs Adventure mengambil gambar.
Usai sudah di spot ini. Mari berpindah ke spot yang lebih dalam. Alamak.... tak terbayang lelahnya badan. Tapi karena penasaran, seluruh perserta bersiap melanjutkan perjalanan lagi. Biarpun bermain di air, dahaga tetap menghampiri. Bekal air minum yang telah disediakan oleh Reefs Advanture menggilangkan dahaga.
Spot yang satu ini lebih dalam lagi dibanding yang pertama. Lokasinya tidak jauh dari titik kumpul di pelantar Reefs Adventure. Artinya, kami kembali menyusuri jalan saat keberangkatan ke spot pertama. Karena lautnya lebih dalam, pengelola telah membuat tempat “penyandaran apung”. Pengunjung tidak perlu langsung menjeburkan diri, tapi bisa terlebih dahulu mempersiapkan diri di atas susunan papan berukuran 3x3 meter. Di lokasi ini ada tali yang melingkar dengan diameter sekitar delapan meter. Oh, ternyata tali ini adalah pembatas untuk spot snorkling sekaligus berfungsi untuk pegangan bagi yang takut kedalaman. Pengelola menyarankan agar menikmati terumbu karang yang berada di lingkaran saja. Pemandangannya memang lebih indah karena jenis karangnya lebih banyak. Ikan-ikannya lebih besar.
Namun, rombongan kami kurang beruntung. Pasalnya, hari itu arus kuat sehingga air keruh. Pemandangan bawah laut tidak terlihat sempurnya. Dan tidak jarang, beberapa teman-teman juga sempat terbawa arus. Yang pasti lebih melelahkan bila kita beranang melawan arus. Sementar karang-karang yang cantik itu berada di bagian tengah. Arus datang dari selatan yang kebetulan dari bagian tengah. Alhasil, tak banyak juga yang bisa saya ceritakan. Saatnya kembali ke pelantar. Bersiap makan siang dan menikmati sensasi selanjutnya.

Tunggu tulisan lanjutan, tentang menu-menu spesial dari Reefs Adventure dan kenangan perpisahan dari mereka.