Snorkeling di Pulau Petong, Mengapa Tidak? (1)

Pulau Petong ini berada di sisi selatan Batam. Lebih kurang perjalanan satu setengah jam dari titik keberangkatan kami di Kepri Mall hingga sampai di jembatan enam. Tentu saja, kita akan melewati jambatan satu Barelang yang telah menjadi ikon Batam.

Rasakan Sejuk Air Gunung Daik di Resun

Air terjun Resun, begitu nama yang dilebelkan untuk air terjun yang terletak di desa Resun itu. Airnya mengalir dari pengunungan di tanah Lingga. Air terjun Resun ialah satu di antara sekian banyak aliran air terjun dari gunung Daik.

Kampung Boyan di Dabo Singkep

Para perantau ini seringkali meninggalkan jejak berupa nama kampung, yakni Kampung Boyan. Nah, itulah yang menjadi pijakan, tradisi rantau warga Bawean memiliki jejak, baik berupa nama maupun tradisi. Di Dabo Singkep, terdapat juga sebuah kampung bernama Kampung Boyan.

Menikmati Keindahan Masjid Agung Natuna

Masjid ini memang megah. Bahkan termegah yang ada di Kepri. Sebab itu, masjid ini selalu terlihat sangat cantik dari berbagai sisinya. Anda bisa mencari berbagai foto menarik masjid ini di internet. Saya sungguh kagum.

Puasa dan Pembebasan Sosial

Puasa mempunyai konteks tanggungjawab pribadi dan juga tanggungjawab sosial. Karenanya, dalam berpuasa, disamping mewujudkan kesalehan vertikal kepada Allah, juga untuk mewujudkan kesalehan herisontal kepada sesama manusia dan mahluk Allah.

Saturday, April 25, 2020

Puasa Kita di Tengah Pendemi (Sebuah Refleksi)


Pemerintah melalui Menteri Agama, Fachrul Razi, telah menetapkan hari ini (24/4) bertepatan sebagai 1 Ramadan 1441 Hijriah. Artinya, umat Islam akan melaksanakan puasa, ibadah wajib sebagai bagian dari rukun Islam. Tidak melaksanakan puasa bagi yang mampu, berarti tidak menjalan perintah agama.

Inti dari amalah pokok di bulan Ramadah ialah puasa. Tetapi, ada banyak ibadah penyerta, yang menjadi nilai tambah pahala bagi ibadah pokoknya. Nilai tambah itu pun telah menjadi bagian ritual dan tradisi masyarakat. Di Indonesia, masyarakat telah terbiasa dengan ritual salat tawarih berjamaah dan buka puasa bersama atau tradisi bazar Ramadan, ngabuburit atau sahur bersama.

Ritual dan tradisi itu telah menjadi bagian dari penyemerak dalam bulan Ramadan sehingga akan terasa sekali perbedaan bulan spesial ini dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Hal ini pun dirasakan bukan hanya kaum muslim, tetapi yang non-muslim pun pasti akan merasakan perbedaan itu. Di televisi saja kita bisa melihat perbedaan tayangan yang disajikan, mulai dari iklan,  talkshow hingga sinetron beraroma religius.

Sebagai muslim, situasi ritual dan tradisi yang mengitari ibadah ini mendorong umat menjadi lebih Islami. Setidaknya, hal ini sebagai tanda bahwa Ramadan adalah bulan istimewa, bulan penuh berkah bagi pelaku ekonomi, berkah bagi masyarakat kurang mampu, dan berkah bagi yang mampu pula. Jelaslah bahwa Ramadan memiliki dimensi bathiniyah (spiritual) dan dzahiriyah (sosial, budaya dan ekonomi).

Terlepas dari itu semua, di tahun dengan angka cantik, 1441 H dan 2020 M ini, sedang ada cobaan yang cukup besar bagi umat manusia. Sekali lagi, ini adalah ujian bagi seluruh umat manusia, bukan hanya umat Islam. Virus dengan nama Covid-19 ini telah merajalela secara global dengan tingkat penularan yang cukup pesat. Inilah wabah yang mengoncang sebagian besar negara dan menjadi ujian berat bagi sebagian umat Islam, khususnya di Indonesia.

Dalam masa pendemi ini, pemerintah (baca; ulil amri) telah mengluarkan imbauan untuk tidak melakukan ritual tarawih berjaah dan buka bersama untuk daerah yang dengan kategori zona merah. Pun demikian, tradisi bazar Ramadan ataupun gabuburit juga ikut di larang. Alasannya jelas, untuk menghindari penyebarluasaran penularan virus yang belum memiliki vaksin ini.

Apa boleh buat, kita yang berada di Kepri, khususnya di pulau Batam dan Bintan, termasuk daerah dengan jumlah orang yang masuk dalam pengasawasan serta positif yang cukup tinggi. Sesuai dengan protokol kesehatan, kita dianjurkan untuk menjaga jarak fisik dan agar tetap di rumah saja. Sesuai dengan imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepulauan Riau sebelumnya telah diimbau untuk tidak salat jemaah di masjid. Masyarakat dianjurkan salat di rumah.

Sungguh terasa sekali perbedaan Ramadan tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Saat artikel ini ditulis, azan Isya sudah berkumandang seperti biasa. Namun, warga sekitar perumahan tidak ada yang beranjak ke masjid. Padahal, saya yakin, sebagain besar dari kita sangat ingin sekali memenuhi shaf-shaf di masjid atau musalah di dekat rumah. Ingin rasanya menikmati malam-malam awal di bulan suci ini untuk menggugah kembali semangat beribadah kita. Namun apa daya, wabah ini telah memberikan suatu pelajaran berarti bagi kita agar tetap menjalankan ritual penyerta ibadah puasa, sepeti tarawih ini, di rumah saja.

Selalu ada hikmah di balik sebuah peristiwa. Begitu mauidhah hasanah yang selalu disampaikan para alim ulama agar kita tidak menyibukan diri dengan hal-hal yang mubazir dalam beribadah. Hikmah itu mungkin belum tampak bagi kita, namun sebagian yang lain sudah merasakannya. Jikalau selama ini pernah-penik ibadah puasa seakan menjadi bagian tak terpisah dari ibadah pokok puasa itu sendiri, mungkin kita mulai perlu menyadari bahwa yang pokok dari ibadah puasa, ya puasa itu sendiri.

Ritual tambahan yang memberikan nilai (pahala) tambahan juga banyak jalannya. Jika kita berharap Ramadan memberikan dampak omzet lebih besar, jika kita berharap puasa bisa bersilaturahmi politik, atau hal serupa, mungkin kita perlu mempertimbangkan ulang makna puasa kita. Maka, perbaiki puasa kita, maka nilai tambahnya juga akan semakin baik. Mari kita berdoa, semoga kita bisa melaksanakan puasa penuh selama Ramadan dan wabah ini bisa segera berlalu dengan berkah Ramadah. Wallahu a’lam. []

Sunday, April 12, 2020

Yang Mau Skripsi dan Tesis Wajib Tahu Syarat Penelitian Ilmiah Ini




Membicarakan tentang penelitian itu bisa dibilang gampang-gampang sudah. Terkesan gampang kalau hanya melihat hasil penelitian orang dan susah bahkan susah banget ketika hendak membuat penelitian sendidi. Tulisan ini sebagai panduan dasar bagi mahasiswa saya yang mengambil mata kuliah Metodologi Penelitian dan mudah-mudahan bisa menjadi bacaan semasa kuliah daring.

Baca juga: Menulis Skripsi atau Tesis Jadi Gampang dengan Google Cendekia


Sebelum melakukan penelitian, maka ada prasyarat yang harus dipenuhi. Bagian ini sangat penting sekali untuk diketahui setiap calon peneliti. Menurut saya, prasyarat sebuah penelitian itu setidaknya ada tiga hal. Ketiga hal ini lebih identik sebagai bahan renungan sebelum mengajukan judul dan sinopsis kepada dosen pembimbing akademik ataupun ke ketua jurusan.

Pertama, belum pernah diteliti. Kemudian muncul pertanyaannya, penelitian seperti apakah yang belum pernah diteliti? Meneliti sesuatu yang betul-betul baru itu bukanlah agak mustahil. Penelitian yang baru itu sebenarnya melanjutkan hasil penelitian yang terlebih dahulu. Oleh sebab itu, diperlukan telah pustaka yang baik untuk mengetahui cela yang belum belum diteliti oleh lain.  Jikalau tidak baru, maka penelitian itu akan disebut sebagai plagiat dan tidak memiliki kontribusi terhadap ilmu pengetahuan.

Baca juga: Menyelesaikan Skripsi itu Gampang. Ini Obatnya


Kedua, data tersedia. Terkadang kita terbayang sebuah penelitian yang belum pernah diteliti oleh peneliti sebalumnya. Tentu kita sangat bahagia dan merasa judul yang dipilih dari “bayangan” itu akan diterima oleh pembimbing akademik dan ataupun oleh ketua jurusan/prodi. Namun, ketika ditanya, “apakah datanya ada?” Nah, di sinilah sering kali tak mampu dijawab denga baik. Karena itu, sebelum mengajukan judul, ada baiknya mempertimbangkan soal data. Sebuah penelitian tidak akan disebut penelitian apabila tidak ada datanya. Lho... apa yang mau diteliti jika datanya saja tidak ada. Apa yang mau dianalisa jika datanya saja tidak ada.  

Ketiga, memiliki signifikanksi. Ini bagian penting jika dua hal di atas tadi ternyata tersedia. Maka perlu dicarikan signifikansi penelitian ini secara baik. Jika ada sesuai yang baru, tentu ada kontribusinya untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Jika ada data, tentang akan melahirkan buah pemikiran dari perspektif yang berbeda. Dan bagian yang paling penting dari signifikansi ialah apakah penelitian ini sesuai dengan bidang keilmuan? Jika berkesesuian, maka akan memiliki signifikansi.

Baca juga: Asyiknya Menulis Resensi Buku


Tiga hal ini nantinya juga akan dituangkan dalam proposal penelitian sehingga kita perlu memperhatikan seksama jika hendak melakukan penelitian. Jangan asal bikin judul dan asal jadi saja, sebab yang akan melakukan penelitian adalah kita sendiri.

Nah, tips untuk mencari tema atau judul penelitian yang utama ialah kita menyukai dan memahami tema yang kita ambil. Kemudian, tema haruslah mikro dalam pembahasan, tidak boleh ambil tema terlalu makro karena nanti akan menimbulkan banyak persoalan.

Inilah sebagian yang perlu diperhatikan sebagai prasyarat untuk menentukan judul penelitian. []